Selasa, 07 Mei 2013

Leiden nan Tenang...

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Leiden, Netherland

Bismillah...
@Leiden Centraal
Bertemu orang yang syarat pengalaman atas sejarah kelam Indonesia, menjadi oleh-oleh berhargaku yang aku dapat dari kunjunganku di kota Leiden ini.  Orang yang penuh dengan syarat pengalaman sejarah Indonesia di akhir tahun 60an ini, tinggal, menetap, dan telah menjadi warga negara Belanda. Bukan karena keengganan beliau untuk kembali ke Indonesia; bukan pula karena Indonesia telah menjadi cerita masa lalunya yang harus dikubur dalam-dalam; namun sebuah kondisi sistemik yang memungkinkan beliau tidak mungkin untuk kembali ke negara tercinta, Indonesia. Beliau menjadi sesepuh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda; atau minimal menjadi 'dianggap sepuh', karena banyak para anggota PPI di Belanda ini berkunjung ke kediaman beliau, just share and talk something. Banyak cerita yang berhasil aku dengar dan pelajari darinya, walau hanya sejenak aku berkunjung; berbagai cerita kisah nyata, yang semakin memperjelas benang merah sejarah Indonesia, yang menambal sulam keutuhan atas berbagai jenis kebolongan cerita sejarah Indonesia yang ada di kepalaku ini. Kembali dan lagi aku bersyukur kepada ALLAH, atas semua nikmat indah ini.


Kota Leiden, sebuah kota sejuk, sunyi, dan senyap; kota yang membuat aku enggan untuk beranjak meninggalkannya. Kota Leiden, sebuah kota di titik pusat segitiga antara kota Amsterdam, Den Haag, dan Rotterdam, dan berjarak sekitar 45 menit dengan menggunakan kereta dari stasiun Centraal Amsterdam; sebuah kota yang merupakan kota penting yang terletak di provinsi Luid Holland. Kota Leiden, sebuah kota kecil yang memiliki universitas tertua di Belanda, universitas Leiden; sebuah universitas yang berdiri di pertengahan abad ke 16; sebuah universitas yang menjadi tautan mata pencaharian lebih dari 4.500 orang penduduknya ini, menyebabkan kota Leiden ini menjadi kota bernuansa kota pelajar. Kota Leiden, aku menyukai kota ini; menjelajahi sejenak panoramanya, menjadi pengalam baru yang mengasyikkan buatku pada akhirnya. 

Kota asri nan bersih ini, cenderung damai dan tenang, dibelah dua oleh sungai yang bernama Sungai Rhine; sebuah lukisanNYA yang menambah ketakjubanku atas kota ini. Sungai Rhine, sebuah sungai dua fungsi yang sangat dibanggakan penduduk kota Leiden ini, di musim panas dapat menjadi tempat wisata air bagi pengunjungnya, sedangkan di musim dingin ia bisa digunakan sebagai tempat orang ber-ice skating; membuatku terpesona atas keindahannya. Bangunan-bangunan klasik ciri khusus Belanda  abad 17an, masih menjadi panorama dominan dari kota ini; membuat aku ingin berlama-lama tinggal di kota yang ramah dan rapi ini. Tradisional, ramah, dan tenang menjadi kata kunci untuk melukiskan kota Leiden ini; walau pun fasilitas yang tersaji, tetap saja hampir setaraf dengan kota-kota besar lainnya.

Itulah Leiden, sebuah kota yang sempat aku pijak. Hadirnya aku di kota ini, pastilah ada karena skenarioNYA. Hanya hikmah yang harus selalu aku ambil, dan syukur yang harus selalu aku hiasi pada berkehidupanku ini; agar hari-hariku menjadi hari-hari yang bermanfaat tinggi bagi sesama, menjadi pencapaian akhir berkehidupanku. Liburan sejenakku di kota Leiden ini, telah mampu mengembalikan kepenatan pikiran dari kesibukan aktivitas harianku; pikiranku kembali menjadi tenang, setenang kota Leiden...

Alhamdulillah...

Minggu, 10 Maret 2013

Indonesia, Aku Telah Kembali, Walau Hanya Sesaat...

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Jakarta, Indonesia

Bismillah...
Hampir setengah putaran revolusi bumi, akhirnya aku kembali lagi ke Indonesia; negeri dimana hamparan mimpi sempat ku sibakkan, negeri dimana tingginya angan pernah ku tegakkan, negeri yang kadang membuat air mataku menetes lemah karena telah keropos oleh ulah sebagian orang bodoh  pemiliki hati musang. Ku putar kembali video mimpi dan angan itu di kepala kosongku ini, namun kabut asap knalpot Jakarta, macet dan pengapnya Ibu kota, hiruk pikuk manusia-manusia yang berjalan hilir mudik; membuat video mimpi dan angan itu menjadi buram dan benar-benar kosong adanya; hanya senyum hangat mentari yang mampu mendekap dan merangkulku, membuat aku tetap mampu menggerakkan kaki lemahku ini; hanya tawa canda keluarga, dan anak-anak didikku yang mampu mengusap air mata pada hati yang kelabu ini...

Indonesia adalah tanah kelahiranku; aku berpijak dan dibesarkan di atas tanah pertiwi ini. Indonesia adalah selera asalku; aku hidup dan berkembang dari selera saripati bumi ini. Indonesia adalah alam mimpi besarku; negeri yang membuat aku ingin kembali dan harus kembali, walau telah banyak yang aku dapatkan di negeri orang, walau beribu orang yang membenciku telah berhasil menyapu ku untuk menjauh dari mimpi atas alam zamrud khatulistiwa ini. Indonesia adalah syurga ikhtiar dan sunnah implementasiku; semua yang kudapat, pasti akan ku bawa pulang untuk aku ikhtiar dan implementasikan disini.

Pembenahan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia, bukanlah perkara mudah; namun bukan pula sesuatu yang tidak mungkin dan tidak terbayang sama sekali. Hanya saja, kesadaran bahwa kita terintervensi oleh keadaan dan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan individu dan golongan; tidaklah kunjung muncul ke permukaan nalar akal bangsa ini. Mengembalikan tata pikir, kembali menjadi pola pikir yang saharusnya dimiliki bangsa ini; menjadi terasa amat sangat berat. Keegoan dan anggapan benar yang keluar dari statemen pribadi; membuat kondisi menjadi tambah kacau pada akhirnya. Kebenaran sepertinya milik pribadi, semua orang berhak memiliki pendapat atas kebenaran tersebut; padahal tidak sama sekali. Kebanaran haruslah sombong; walau seluruh jagat raya ini meng-claim bahwa kebenaran itu salah, kebenaran tetaplah akan menjadi sebuah kebenaran. Kebenaran haruslah angkuh; karena jika kebenaran bisa dimodifikasi atau ditawar dan dipilah pilih sesuai dengan keinginan dan hasrat diri, tidak akan pernah ada lagi kebenaran; yang ada hanyalah kesalahan yang merajai dan menggenggam kehidupan umat manusia.

Indonesia Kaya Tanpa Impor Sapi

Terbayang sebuah misi berat, atas capaian visi besar; itu yang ada di benak dalamku, sesaat aku kembali ke Indonesia. Terbayang sebuah pengorbanan yang sangat besar yang harus aku lakukan, tanpa memperhatikan kepentingan pribadiku sama sekali, itu yang muncul di alam pikirku; sesaat aku menginjakkan telapak kakiku di tanah Jakarta ini. Indonesia harus kembali pada alamiahnya. Indonesia harus dihuni dan dikelilingi orang-orang yang memang mau berkorban; bukan untuk dirinya, bukan untuk keiinginannya, bukan pula untuk ego pada pribadinya; namun orang-orang yang memang mau berkorban untuk sebanyak-banyaknya umat manusia, dengan landasan ibadah ikhlas padaNYA...

Indonesia, aku telah kembali, namun hanya sesaat; karena aku harus kembali berpijak pada nalar dan kehidupan nyata ini...

Alhamdulillah...

Kamis, 07 Februari 2013

Titik Nadir di Level Filosofis

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Göttingen, Germany

Bismillah...
Di akhir hari-hariku ini, aku sangatlah dipadati dengan berbagai pekerjaan atas penelitianku; namun tetap harus sangat ku syukuri, karena padatnya hari-hariku dengan pekerjaan atas penelitianku, menunjukkan bahwa aku masih dapat bekerja dan memiliki pekerjaan. Minggu-mingguku ini, aku disibukkan dengan berbagai presentasi dan bedah materi risetku; namun tetap harus sangat ku syukuri, karena padatnya minggu-mingguku dengan segudang kajian, menunjukkan bahwa aku masih diberi kesempatan berkreasi dan mengembangkan diri. Bahkan, semua deadline di akhir semester ini, mengharuskanku mencari tahu sebanyak mungkin atas berbagai macam materi mendasar; namun tetap harus sangat ku syukuri, karena aku masih diberi kesehatan dan kemampuan untuk melakukan ibadah versiku ini. Terima kasihku ya ALLAH atas semuanya...

Penelitianku ini, mengharuskan aku menggali sampai ke akar rumput, sampai ke titik nadir, bahkan ke level filosofis, atas berbagai jenis ilmu dasar yang berkenaan dengan biologi, matematika, statistik, bahasa pemrograman komputer, sistem dan kesisteman. Risetku ini, memungkinkanku untuk berlama-lama berkutat dengan rumus dan formula yang penuh dengan angka dan variabel; memungkinkanku berhari-hari berkutat dengan statemen dan aturan kode-kode program komputer. Semakin aku menggelutinya, otak besar - alam bawah sadar - ku ini seperti tersadarkan kembali pada akhirnya; bahwa semua fenomena harus mampu kita coba tafsirkan dengan sangat logis. Semakin aku mendalaminya, otak kanan - emosional - ku ini teryakinkan kembali pada akhirnya; bahwa ALLAH menciptakan semua dengan sangat seimbang, terstruktur, tepat ukur, tidak main-main, akurat dan sangat presisi. Semakin aku mempelajarinya, otak kiri - logika dan rasio - ku ini terasah kembali pada akhirnya; bahwa semua tidak terjadi dengan serta merta dan tanpa skenario. Semakin aku mentadaburinya, semakin sering kata 'mengagungkan' dan 'mensucikanNYA' muncul dari bibir penuh dosa ini... Subhanallah...

Subhanallah... Jutaan bahkan milyaran variable telah ALLAH tambatkan dalam penciptaan bumi, langit beserta isinya; jutaan bahkan milyaran rules / aturan telah ALLAH tuangkan dalam pengaturan bumi, langit beserta isinya ini; jutaan bahkan milyaran akibat atas sebab telah ALLAH ciptakan dalam penjagaan bumi, langit beserta isinya ini. Semua tercipta dengan sangat logis dan teratur; semua terbangun dengan sangat rapih dan penuh perhitungan, semua termenej dengan sangat akurat dan tepat sasaran; dan semua terjaga dengan skenario yang sangat sempurna dan tanpa cela. Kita tidak mungkin dapat mengurai semua pada akhirnya; kita pun tidak mampu untuk memahami seluruh pada akhirnya; otak ini pun tidak akan pernah cukup menapaki mercusuar ilmuNYA ALLAH pada akhirnya; namun bukan itu yang akan ALLAH nilai dan lihat; ALLAH hanya akan memandang atas seberapa maksimal dan optimal usaha yang kita lakukan untuk mengurai itu semua, mencerna, mentadaburi dan ber-iqra atas semua ciptaan maha sempurnaNYA; yang tentunya itu semua akan menjadi catatan indah buku diary amalan perbuatan kita; yang akan ALLAH berikan pada satu hari yang telah tertetapkan, hari dimana tidak ada lagi transaksi catat-mencatat atas amalan yang dilakukan.

Subhanallah... ALLAH memerintahkan kita untuk menancapteguhkan keyakinan di hati ini atas Qadha dan QadarNYA; yang pada hakikatnya, memang semua berjalan di atas Qadha dan QadarNYA. ALLAH menyerukan tanpa lelah kepada kita untuk menyemayamkukuhkan keimanan di ruang dada ini atas Qadha dan QadarNYA; yang pada hakikinya, memang semua berjalan pada rel Qadha dan QadarNYA.

Subhanallah... Dengan QadhaNYA, semua berjalan atas dasar dan 'aturan main'NYA; semua berjalan dengan hukum dan tentuanNYA; semua bergerak pada sebab dan akibatNYA. Betapa maha kasih dan sanyangNYA ALLAH kepada umat manusia, ALLAH telah menciptakan semuanya masuk akal dan sangat logis, agar manusia dapat menalar dan memahaminya dengan sangat mudah; namun, kebanyakan dari kita ingkar....

Subhanallah... Dengan QadarNYA, semua berjalan dengan sangat seimbang; semua berjalan dengan sangat akurat, tidak kurang dan tidak berlebihan, bermanfaat dan tidak sia-sia; semua berjalan dengan penuh ukuran yang sangat tepat; berkurang saja sebuah nilai Qadar karena ulah 'bodoh' manusia, alam ini mulai menjadi tidak seimbang, dan bencana tentu akan menjadi sangat dekat pada akhirnya...

Subhanallah... Dengan dua sisi mata uang Qadha dan QadarNYA, semua mengalir secara alamiah dan otomatis;  semua berjalan pada rangkaian cerita dan kisah utuh tanpa terpecah-belah; semua bahu-membahu secara sistemis dan holistis, satu dan berpadu, sinergis dan terinterkoneksikan; yang mengharuskan manusia - sebagai makhluk bernalar tinggi - melakukan semuanya secara manusiawi, bukan dengan cara pragmatis, short cut dan penuh mistis, bukan menjilat atas, menginjak bawah serta menghalalkan berbagai macam cara jahiliyah; setelah semua terusahakan secara maksimal pada konstrain yang ada, biarkan hak ALLAH atas keputusanNYA yang bermain pada status kita masing-masing, bukan lantas kita mengambil peran atas hakNYA, yang menjadikan kita dilabeli sebagai makhluk yang sombong pada akhirnya...

Tidakkah kau lihat semua tercipta dengan sangat seimbang dan tanpa cacat (QS. Al-Mulk: 3), penuh manfaat dan jauh dari kesia-siaan (QS. Ali Imran: 191)? Sebuah kata-kata indah dari Sang Pemilik alam, sebagai sebuah tantangan bagi kaum ulil albab, kaum para pemikir, untuk terus mencari sampai ke liang lahat atas semua fenomena yang terkandung pada ciptaanNYA; karena hanya kaum yang mau berfikir dan memiliki ilmu tinggilah yang akan mampu memahami semua (QS. Al Ankabut: 43). Jika saja, semangat ini menjadi semangat tanpa lelah kita; jika saja, usaha ini menjadi usaha tanpa pamrih kita; jika saja, kajian ini menjadi kajian rutin kita; mudah-mudahan, itu semua menjadi bukti syukur kita padaNYA...

Alhamdulillah...

Kamis, 03 Januari 2013

Menyentuh LangitMU di Puncak Mount Titlis...

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Zurich and Mount Titlis, Switzerland

Bismillah...
Kakiku tertapakkan kembali di belahan bumi bagian selatan Jerman lainnya; bukan karena ingin ku, bukan karena harap ku, bukan pula karena mimpi ku; namun ALLAH lah yang membawaku kembali berpisah ratusan kilometer dengan kota Göttingen; aku hanya ingin menjalankan, menikmati dan mensyukurinya semaksimal mungkin, dengan mengisi pundi-pundi syukurku atas semua kesempatan dan gunungan karunia ALLAH yang telah mendarat di kehidupanku ini. Tapak - kecil - kakiku sekarang mendarat mulus di negara yang bernama Switzerland (Indonesia: Swiss), tepatnya di kota Zurich; yang kemudian aku lanjutkan dengan menelusuri pegunungan Alpen, tepatnya di Mount Titlis, sebuah gunung berselimut salju abadi, yang merupakan gunung yang terletak pada bagian kecil dari jajaran pegunungan Alpen. Switzerland dan Zurich, merupakan negara dan kota yang - konon - memiliki kualitas hidup terbaik di dunia; udara yang bersih, perekonomian yang sehat, keteraturan dan kedisiplinan yang tinggi, keramahan penduduknya; semua menjadikan bibir ini terus berdecak kagum atas ALLAH yang menciptakannya. Lukisan alam disana, merupakan sebuah keindahan nyata yang berhasil tersuguhkan di bumi ini; ada dan terawat dengan sangat optimal; bukan ada lalu ternodai pada akhirnya. Jika kondisi negaraku seperti ini, sepertinya, penduduk Indonesia akan selalu berucap dan beraksi syukur kepada ALLAH; karena keindahan dan keteraturan itu memang seharusnya dihadirkan, diciptakan dan terjaga kelestariannya; walau pun itu telah tersajikan oleh alam sebelumnya; bukan lantas terampas, terhancurkan, dan terberanguskan; sebuah kondisi yang - tanpa sadar - membuat para penduduknya pun menjadi beringas, terbingungkan dan jauh dari aksi syukur nan nyata.

Switzerland merupakan sebuah negara dengan 4 bahasa sebagai bahasa resminya: Jerman, Perancis, Italia dan Romansh. Kota ini pun, sebagian orang menyebutnya dengan kota semua musim, karena kota ini asyik - dan tetap asyikin - dikunjungi kapan pun kita mendatanginya. Namun sayang, sesampainya aku di kota Zurich ini, di sore hari hingga menjelang malam, aku gagal - total - menemukan rumah makan halal. Aku mencoba untuk menyusuri kota dengan bantuan google-map serta menggunakan taxi, selain memang karena lokasi hotel tempat aku menginap jauh dari pusat kota, namun tetap, rumah makan dengan sajian makanan halal, tidak berhasil aku jumpai. Hmmm, laparnya perutku...

Salah Satu Pojok d Pusat Kota Zurich
Berbicara biaya hidup yang tinggi di sini, aku ingin ilustrasikan hal tersebut dengan penggunaan taxi, selama aku mencari makanan halal. Buka pintu pertama untuk taxi saja, argo yang tertera di argometer taxi sudah tertulis 8CHF (Franch Swiss), hampir setara dengan Rp. 80.000 (untuk kurs Rp. 10.000). Beberapa menit saja menggunakan taxi, argo terus merambat naik mencapai 80 sampai 90 CHF (hampir setara Rp. 900.000). Wow... Akhirnya aku putuskan untuk turun dari taxi, dan melanjutkan perjalanan malamku dengan berjalan kaki, dalam kondisi perut kelaparan. Kemudian, aku pun putuskan untuk mencari dan membeli buah-buahan, sebagai makanan malamku di malam itu. Apa pun itu, aku tetap harus bersyukur atas semua ini pada akhirnya. Terima kasih ya ALLAH, terima kasih atas semua nikmat ini...

Siap Mencoba Perlengkapan Sky
Keindahan Pemandangan dari Puncak Mount Titlis
Keesokkan harinya, aku bergabung dengan sebuah tour agent, untuk menuju Mount Titlis. Pemandu wisatanya, ketika pertama kali masuk bis - menuju Mount Titlis - menanyakan asal masing-masing negara kami, para wisatawan. Ternyata, wisatawan yang bersamaku dalam satu bis, merupakan wisatawan dari berbagai negara: Perancis, Jerman, Brazil, Portugal, Spanyol, dan tentunya Indonesia. Hebatnya, pemandu wisata ini - selama memandu kami - mampu menggunakan berbagai jenis bahasa tersebut, tentunya minus bahasa Indonesia; setelah aku tanyakan, pemandu wisata ini ternyata mampu berbahasa lebih dari 4 bahasa asing secara fasih, di luar bahasa resmi negara Swiss; sebuah kemampuan yang cukup luar biasa menurutku.

Hasil Jepretan di Kaki Mount Titlis

Di Atas Puncak Mount Titlis, di Ketinggian 10.000 Kaki
Mount Titlis, merupakan nama gunung pada jajaran pegunungan Alpen. Ketinggiannya mencapai 10.000 kaki, atau setara dengan lebih dari 3.000 meter. Alhamdulillah, aku dapat mencapai puncaknya dengan menggunakan cable car. Pemandangan dari puncak Mount Titlis sangat luar biasa. Perpaduan warna antara warna hijau pohon cemara, putih salju dan biru langit, menjadi sebuah paduan lukisannya alam milik ALLAH pada kanfas bumi nan luas. Dada ini kadang tersesakkan, teringat atas rasa syukur yang kadang terasa kurang dan tidak semestinya, dangkal dan seperti alakadarnya. Padahal, selain aku berhasil diterbangkanNYA ribuan kilometer dari Indonesia, aku pun juga - sekarang - hampir mampu dibuatNYA untuk "menyentuh langit" milik ALLAH. Subhanallah...

Hasil Jepretan dari Cable Car
Itulah sekelumit perjalanan dan napak tilas tapak kaki - lemah - ku di sisi dunia yang lain milik Zat Maha Pencipta. Selepas ini semua, aku harus kembali memaksimalkan jerih usahaku atas peran yang telah terpilihkan, sebagai guratan pena hidup dan berkehidupanku atas rasa syukur yang sangat menggunung ini. Terima kasih ya ALLAH; semakin nyata saja apa yang harus aku kerjakan, semakin jelas saja apa-apa yang harus aku perbaiki. Terima kasih ya ALLAH, syukurku atas semua karuniaMU, atas semua rasa indahMU; berikan ku kesempatan terbaik, untuk menjadi terbaik di antara terbaik. Terima kasih ya ALLAH, atas kesempatan untuk mencoba "menyentuh langitMU" dari puncak Mount Titlis, walau aku yakin aku tidak akan dapat melakukannya, namun itu semua telah mampu membuat ku merasa semakin kecil - hina dan tanpa arti - di hadapan KeagunganMU...

Alhamdulillah...

Selasa, 25 Desember 2012

Au Revoir Paris...

@Paris, France

Bismillah...
Bonjour... Comment allez-vous?... Merci beaucoup... Ca va?... Je t'aime... Aku mencoba mengingat kembali beberapa kata ekspresi komunikasi di dalam bahasa Perancis yang pernah aku pelajari; karena di akhir minggu ini, di awal winter holiday, aku ingin mencoba menyisir belahan kota yang lain di dunia milik ALLAH, Paris - France. Sisiranku menuju kota romansa itu, berhasil aku lalui selama 5 jam perjalanan dengan menggunakan ICE. ICE telah membawaku ratusan kilo meter menjauh dari kota Göttingen menuju Paris (kurang lebih 750 km). Lelah dan cape tidak terasa sama sekali, penat apalagi sakit kepala tentu tidak aku alami, karena rasa syukur kepada ALLAH telah mampu memenuhi rongga dada ini, karena aku akan dibawaNYA menuju sebuah kota yang - kata orang - merupakan sebuah kota yang eksotis, romantis dan penuh makna kandungan seni. Tidak terlelap sekejap mata pun selama perjalananku di kereta ICE, itu yang aku alami pada akhirnya. Walau - hanya - 3 hari 2 malam saja di Paris, sudah cukup membuat aku untuk terus memperlama sujud syukurku, memperbaiki tadaburku, mendalami arti fungsi diriku, menapaki pencarian ilmuku; untuk aku genggam, untuk aku yakini, untuk aku bagikan, dan - tentunya - untuk aku manfaatkan seluas-luasnya pada jalan lurusNYA.
Di Salah Satu Pojok Musee Du Louvre
Di Salah Satu Pusat Perbelanjaan @Printemps
Paris (Latin: Lutetia Parisiorum) menjadi sebuah kota yang banyak dibicarakan para pelancong di seluruh dunia, karena keromantisan dan keeksotisan kotanya; Paris menjadi kota tujuan pariwisata, karena terbukti bahwa ada lebih dari 30 juta pengunjung asing setiap tahunnya menyambangi kota Monalisa ini; Paris menjadi tempat yang tepat untuk membidik beberapa gambar dengan menggunakan DSLRku pada akhirnya, karena Paris adalah seni selain cita rasa seni itu sendiri... Menara Eiffel, sebuah menara yang tersusun lebih dari 18 ribu rangkaian besi besar dan kecil dan memiliki tinggi  312 meter ini, sebuah menara 'yang berdiri sombong' yang membuat kota Paris nampak megah dan memiliki wibawa namun tetap bercitarasa seni yang tinggi; Arch de Triomphe, sebuah bangunan berupa gapura besar dan kokoh yang menjadi simbol kemenangan Perancis; Musee Du Louvre, sebuah museum dimana la joconde (lukisan Monalisa) dipamerkan; Palais Garnier atau Gedung Opera, sebuah gedung yang sangat klasik dan megah tempat pertunjukkan seni dan opera; serta telusur sungai Seine (Latin: Sequanus), sebuah sungai cantik dan berair tenang yang membelah kota Paris; adalah merupakan beberapa tempat pariwisata di kota Paris yang berhasil aku jelajahi pada akhirnya. Keindahan dan keharuman rasa seni sangat terasa, selama aku menyusuri kota ini. Bangunan dengan tinggi hampir sama, bergaya seni klasik, menjadi pemandangan yang sangat menakjubkanku.
Palais Garnier
Membidik dan Membidik...
Satu hal lagi, yang tidak pernah aku lupakan di setiap kunjunganku di salah satu kota di belahan dunia; yaitu makanan halal. Restoran halal di Paris 'cukup banyak' (sebuah istilah yang aku gunakan untuk menggambarkan makna 'lebih dari jarang') dengan nuansa dan cita rasa Turki atau India. Beberapa kali - selama aku di Paris - aku mencoba untuk menikmatinya, dengan variasi menu alakadar dan apa adanya. Aku - sekali-kali - tidak pernah berharap lidahku akan merasakan rasa dan cita selera masakan / makanan Indonesia di setiap suap santap makanku; karena itu semua - hanyalah - akan membuatku tidak mampu menikmati makanan yang tersaji. Makan, nikmati dan syukuri saja, karena aku - tetap - masih beruntung, masih dapat menyantap makanan yang halal dan toyib, di hingar dan bingar gemerlap kota yang bernama Paris ini.
Membidik dan Dibidik
Santai di Salah Satu Stasiun Metro
Paris Dibidik dari Atas Printemps
Paris Dibidik dari Lantai Dua Menara Eiffel
Setelah 3 hari 2 malam aku menapakkan kakiku di Paris ini, ada keenggananku untuk kembali ke Göttingen; ingin rasanya aku berlama-lama di kota ini untuk menghabiskan waktu winter holidayku. Namun, apa pun itu, seperti apa pun keinginan itu, aku harus - tetap - kembali ke Göttingen; untuk merangkai cerita hidup dan berkehidupanku yang lain; untuk tetap belajar dan mencari untuk menjadi terbaik dan bermanfaat bagi sesama dan dunia. Aku hanya ingin melakukan semua hal dengan terbaik dan seoptimal mungkin yang harus aku kerjakan, sebagai bukti rasa syukurku atasNYA; tanpa menginginkan apa-apa, tanpa berharap apa-apa; biarkan saja keingan dan harapanku, aku serahkan kepada ALLAH Azza wa Jalla... Biarkan keinginan dan harapanku mengalir, seperti mengalirnya air jernih pada sungai Seine... Au revoir Paris!...

Alhamdulillah...

Minggu, 09 Desember 2012

Selamat Datang Salju...

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Göttingen, Germany

Bismillah...
Ku berdiri dari tempat dudukku, yang telah kududuki hampir lebih dari enam jam ini; ku gerakkan seluruh badanku, agar pegal dan lelah yang sangat aku rasakan hilang; ku tengokkan mukaku ke arah jendela, jendela yang sengaja aku buka tirai penutupnya; ku langkahkan kakiku ke arah jendela itu, perlahan namun pasti, sambil ku pandangkan mataku jauh ke depan, lurus ke arah luar kamarku, terhunus dan terbelalak. Mataku masih menerawang - namun terhujam - dan memandang jauh ke arah luar kamarku, jauh sampai batas pandang mataku terantuk tembok rumah. Satu, dua, sepuluh, seratus, seribu, sejuta, semilyar; bulir-bulir putih itu mulai berjatuhan, bulir-bulir putih itu mulai menyelimuti tanah, tumbuhan dan bebatuan; bulir-bulir putih itu mulai mendinginkan bumi; dingin yang membekukan, dingin yang menusuk tulang-belulang pada tubuh, dingin yang menyadarkanku bahwa musim dingin telah datang. Ya ALLAH, musim dingin itu telah di hadapanku sekarang...
Wah Kameraku Kedinginan Nih...
Masih dalam terawang kosongku pada jejatuhan bulir-bulir putih itu... Aku termenung... Tak terasa waktu berlalu begitu sombongnya; sombong, karena waktu tidak akan pernah kembali lagi, walau sekuat daya aku memintanya; sombong, karena waktu akan tetap berjalan, bahkan berlari meninggalkanku, walau sekuat tenaga aku menahannya. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu; cepat, karena aku masih merasakan jelas masa-masa kecil nan indahku itu; cepat, karena masih terpatri nyata ukiran nasihat orang tua dan orang-orang lurus di kepalaku; cepat, karena masih hangat puluhan - bahkan ratusan - caci maki hujatan orang-orang yang ku coba untuk aku ingatkan di telingaku; cepat, karena aku masih ingat betul hal-hal nyata yang telah aku perbuat, hal-hal yang mungkin tiada arti di hadapanNYA. Ya ALLAH, akan ENGKAU bawa kemana aku ini? Aku hanya berusaha melakukan sebaik mungkin, semua hal yang harus aku kerjakan; aku hanya berusaha seoptimal mungkin menjalankan peran yang telah ENGKAU pilihkan; tapi... Akan ENGKAU bawa kemana aku ini? Sebuah pertanyaan yang tidak mungkin aku jawab; hanya syukur yang harus tetap aku jaga pada relung raga ini, hanya ikhlas yang harus tetap aku peluk pada ruang dada ini, hanya tawakal yang harus tetap aku genggam pada kedua tangan ini, hanya usaha maksimal yang harus tetap aku tegakkan pada alam luasMU ini; hanya... Ya, hanya itu ya ALLAH, yang dapat aku sembah baktikan kepada MU, hanya itu saja...
Menapaki Jalan Salju Setapak
Hmmm... Yummy...
Berlalunya masa, seharusnya mendekatkan manusia pada kebenaran hidup; bergantinya waktu, seharusnya membawa insan pada kesempurnaan berkehidupan; bergeraknya ke kedewasaan, seharusnya membuat keangkuhan dan arogansi diri lenyap; keangkuhan dan arogansi atas ketidakpatutan pada hukum ALLAH; keangkuhan dan arogansi atas kebodohan pada pilihan jalan hidup; keangkuhan dan arogansi atas kesombongan akan pemaksaan isi kepala yang kosong; keangkuhan dan arogansi atas ketidakikhlasan akan semua putusanNYA; keangkuhan dan arogansi atas ketidakmanutan akan semua tetapan dan takaranNYA. Seharusnya, keangkuhan dan arogansi itu lenyap, lenyap tak berjejak; seperti lenyapnya malam oleh siang, gelap oleh terang, hitam oleh putih, panas oleh dingin; ya panas oleh dingin... Seperti lenyapnya panas oleh dingin...
Wuiihh... Dinginnyaa...
Sayang... Terbalik...
Selamat datang salju, kau telah melenyapkan panas oleh dinginmu; seperti akan lenyapnya keangkuhan dan arogansi oleh keikhlasan dan kerendahhatian...

Alhamdulillah...

Senin, 19 November 2012

Salzburg, Si Kota Tua

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Salzburg, Austria

Bismillah...

Salah Satu Pojok Kota Salzburg
Di akhir minggu ini, di sela dua hari liburku ini, aku mencoba untuk menyambangi sebuah kota klasik - beraroma tua - di sebelah utara Austria; sebuah kota, dimana sebagian orang menyebutnya dengan 'Old Town', atau 'Altstadt' dalam bahasa Jermannya; sebuah kota tempat kelahiran musikus dan komposer terkenal di abad 18, Wolfgang Amadeus Mozart; sebuah kota yang benama Salzburg, Austria. Salzburg merupakan sebuah kota kecil, yang merupakan Ibukota dari State of Salzburg (Land Salzburg). Salzburg berhasil aku capai dalam waktu kurang lebih 6 jam perjalanan dengan menggunakan kereta ICE dari Göttingen, dengan transit sekitar 45 menit di kota München. ICE mampu membelah dan mengiris Jerman dari Göttingen ke Salzburg dengan kecepatan bisa mencapai 300km per jamnya, bahkan lebih. Sangat cepat dan tanpa hambatan.

Salah Satu Pemandangan di Sepanjang Perjalanan
Perjalanan menuju Salzburg; tidaklah berhasil membuat mataku terlelap, walaupun hanya sekejap. Pemandangan di sekitar dan pinggir sepanjang jalan kereta yang membawaku menjelajah bumi Eropa, terus menunjukkan keindahannya sepanjang mata memandang. Pepohonan yang rindang, dan sedikit menguning, yang akhirnya gugur karena datangnya musim dingin; pegunungan yang sangat lembut, yang sedikit malu-malu menampakkan kegagahannya, karena tertutup kabut udara dua derajat celcius di bawah nol; hamparan sabana yang hijau menggoda, menyelimuti tanah gembur nan subur berpori; beberapa kelompok rumah penduduk, yang menunjukkan bahwa daerah tersebut berpenghuni dan ada kehidupan; merupakan penggalan dari film pemandangan nyata milik ALLAH yang mengiringi perjalananku menggapai si kota tua ini. Sesekali, digital LSR-ku berbunyi - kleck - berarti satu dua tiga photo - lukisan pemandangan indah tersebut - berhasil aku bidik dan aku abadikan.

Bangunan Bergaya Barok
Bahwa Salzburg adalah kota tua, memang benar adanya; kota kecil ini memiliki beberapa jejer gedung-gedung berbentuk tradisional klasik abad pertengahan, bergaya arsitektur barok; bahkan rumah tempat kelahiran Mozart di abad 18, sampai hari ini tetaplah terjaga keaslian bentuk arsitekturnya. Bahwa Salzburg adalah kota yang indah, memang benar adanya; kota ini dirimbuni oleh taman-taman kota yang hijau serta bunga beraneka ragam warna; dikelilingi beberapa gunung landai - berada di sebelah utara pegunungan Alpen - dan dibelah menjadi dua bagian oleh sungai yang berair jernih bernama sungai Salzach. Bahwa Salzburg adalah kota yang tertata rapi, memang benar adanya; kota ini tertata dengan sangat teratur dan sangat terjaga kebersihannya, serta dianggap sebagai salah satu situs kebudayaan - kuno - milik dunia. Bahwa Salzburg adalah fenomenal, memang benar adanya; karena Salzburg adalah Salzburg.

Salzburg yang Mula Berguguran

Makan Malam di Taj Mahal Restaurant

Di kota ini pun tersaji beberapa rumah makan halal, baik beraroma India atau pun Melayu. Aku, setelah berhasil mengobrak-abrik setiap sudut ruang kota ini; setelah menembus dingin dan pekatnya malam kota yang sangat sepi ini; akhirnya - alhamdulillah - berhasil menemukan sebuah rumah makan halal, bernama rumah makan Taj Mahal. Rumah makan berkarakter India ini, mampu mensuapi kekeroncongan usus besarku - yang selama sehari ini hanya diisi oleh hidangan ringan dan buah pisang ambon - dengan makanan berasa rempah yang sangat kental. Namun, apa pun itu, akhirnya aku tutup malam minggu di Salzburg ini dengan ucapan syukur tiada henti kepada Zat Pemilik alam semesta, ALLAH Azza wa Jalla.

Museum Mozart
Gembok Cinta
Begitulah Salzburg, sebuah lukisan alam karya Zat Yang Maha Agung, sempurna dan tanpa cela. Kehancuran alam, hanyalah akibat dari ulah manusianya sendiri, dan harus kita akui itu; bahkan ada 'sekelompok orang' yang telah diberikan - secara cuma-cuma - alam nan subur dan hijau, tapi akhirnya menjadi gundul dan gersang karena kebodohan dan kedunguan orang-orangnya. Semoga 'sekelompok orang' tersebut bukanlah terjadi di Indonesia; kalaupun itu terjadi di Indonesia, aku masih berharap, semua itu bukanlah terjadi di Indonesia....

Alhamdulillah...