Senin, 05 Agustus 2013

Perintah di Benua Biru


@Göttingen, Germany
Materi ringkas Tausyiah di acara Buka Bersama Pengajian KALAM Göttingen (klik disini)

Bismillah…
Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A., dari Nabi SAW, beliau bersabda, ”Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Puasa itu untukKU, dan AKU yang akan memberikan ganjarannya, disebabkan seseorang menahan syahwatnya dan makannya serta minumnya karena-KU, dan puasa itu adalah perisai, dan bagi orang yang berpuasa dua kebahagiaan, yaitu kebahagian saat berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya, dan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi ALLAH, daripada bau minyak misk/kesturi’ ” (HR. Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Malik, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah).

Ada rasa yang berbeda di Ramadhan tahun ini, apa pun itu sangat aku syukuri. Ada rasa yang lain dari biasanya di Ramadhan tahun ini, apa pun itu sangat aku syukuri. Ternyata, puasa di summer di benua biru ini lah penyebab perbedaan itu. Aku harus berpuasa disini lebih dari sembilan belas jam lamanya, di cuaca yang cukup ekstrim – kadang dingin atau sangat panas, di lingkungan tanpa tanda kehidupan bernuansa islam seperti yang terjadi di Indonesia. Namun apa pun itu, pasti akan sangat aku syukuri keberadaannya.

Berbagi Tausyiah di Acara Buka Bersama
Pengajian KALAM Göttingen (KALAM, 2013)

Ada rasa yang berbeda, itu yang aku rasakan. Sembilan belas jam aku harus menahan dahaga, namun tetaplah ada batasnya. Sembilan belas jam lamanya aku menahan lapar, namun tetaplah ada batasnya. Aku hanya membayangkan; bahwa, ada ribuan bahkan jutaan orang di luar sana merasakan hal yang sama; dahaga menyekik tenggorokkan dan lapar melilit perut. Bedanya, batas mereka untuk menahan dahaga dan lapar itu tidak pernah mereka tahu kapan akan berakhir. Mereka tidak pernah akan tahu kapan kerongkongannya lega karena segelas air teh manis, mereka pun tidak pernah mampu membayangkan kapan perutnya merasa kenyang oleh hanya segenggam roti gandum; bahkan – mungkin – mereka sudah lupa, bagaimana rasanya tidak haus dan kenyang. Aku hanya berkeyakinan di dalam hati, sangatlah tidak logis dan masuk akal; jika orang yang bersaum tidaklah memiliki kepekaan sosial yang sangat tinggi.

Berbagi Pengalam di Acara Buka Bersama
Pengajian KALAM Göttingen (KALAM, 2013)
Ada rasa yang berbeda, itu yang aku rasakan. Berbuka bersama – sesama warga Indonesia atau bersama dengan mereka dari berbagai jenis bangsa – setidaknya menjadi penyejuk di kegersangan ukuwah di bumi Jerman ini. Seperti ada tetes air sejuk di luasnya padang pasir. Terasa sangat, ada persamaan besar yang kadang kita lupakan, yang dapat mengikat kita tetap padu. Terasa amat, ada persamaan arah rel perjuangan yang kadang kita lupakan, yang tetap mengikat kita tetap satu. Walau memang, berbagai kondisi alamiah atau buatan manusia tanpa hati, selalu mencoba untuk menceraiberaikannya. Persatuan tidaklah akan pernah hadir dengan cara sim-salabim, persatuan pun bukan sesuatu yang datang dengan tiba-tiba; dia ada, karena imbas dari sebuah aksi sadar kita semua; sadar bahwa memang persatuan dan kesatuan harus diperjuangkan dengan sangat sistemik dan terstruktur, sadar bahwa kita memang diikat oleh ALLAH untuk menjalankan sunnah Rasul secara pribadi, komunitas, bangsa dan alam seutuhnya.

Berbagi Indahnya Kebersamaan di Acara Buka Bersama
Pengajian KALAM Göttingen (KALAM, 2013)

Ada rasa yang berbeda, itu yang aku rasakan. Menegakkan perintah saumNYA di benua biru memiliki cerita klasik yang spesifik adanya; klasik, karena banyak orang diberi kesempatan untuk menikmatinya; spesifik, karena setiap individu berbeda cara di dalam merasakannya. Untukku, aku hanya ingin menikmati setiap momen kesendirianku untuk terus mendekatkan diri kepada ALLAH. Aku hanya berusaha untuk mengikhlaskan diri di dalam mengerjakan semua hal yang seharusnya aku kerjakan disini semaksimal aku bisa, sebagai kadar sadarku di dalam mengaplikasikan rasa syukurku kepadaNYA. Karena, ketika ALLAH menerbangkanku belasan ribu kilometer dari Indonesia; aku sangat yakin bahwa ada skenario besar ALLAH di balik ini semua. Jadi, tidaklah cukup buatku untuk hanya berujar syukur alhamdulillah saja untuk mensikapi semua kenikmatanNYA. Tidaklah cukup buatku hanya untuk menikmati semua bergunung gemunung anugrah pemberianNYA di dalam hati. Kalau hanya syukur di lisan dan keyakinan di hati saja yang aku lakukan, dalam rangka bersyukur kepada ALLAH; lantas buat apa ALLAH jauh-jauh menerbangkanku belasan ribu kilometer menjauh dari Indonesia menuju ke benua biru ini. Pastilah ada tuntutan lebih nan besar setelah ini, sebuah tuntutan untuk memberikan terbaik ke sebanyak-banyaknya orang, sebuah tuntutan untuk melibatkan diri dengan sangat sadar dalam menegakkan kebenaran kalimat ALLAH, dan – tentu – beribu hal lainnya atas usaha optimalku pada peran yang terpilihkanNYA untukku.

Ada rasa yang berbeda, itu yang aku rasakan. Apa pun itu ya ALLAH, terima kasih atas semua rasa – perintah di benua biru – nan indah ini…

Alhamdulillah…


Jumat, 12 Juli 2013

Keteladanan Kecil di Tengah Phobia Besar


@Göttingen, Germany

Bismillah…
"Sesungguhnya, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) ALLAH dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat ALLAH" (Q.S. Al-Ahzab[33]: 21)

Aku duduk di samping perempuan Turki berjilbab di sebuah bus menuju centrum. Di dua bangku depan yang menghadap kami, anak laki-lakinya - yang kira-kira berumur tiga atau empat tahun – duduk menghadap ibunya dengan manis; sambil memegang es krim di tangan kanannya. Di sebelahnya, duduk seorang ibu-ibu bule separuh baya.

Selang tak berapa lama, es krim yang dimakan si anak kecil lucu ini menetes – hanya setetes kecil – dan mengenai tas kain si ibu-ibu bule yang duduk di samping sebelah kanannya. Si perempuan Turki ini spontan mengeluarkan saputangan dari tasnya, dan menuangkan sedikit – asal basah – air mineral di atas sapu tangan tersebut. Lalu sepintas mata, perempuan itu meminta maaf atas ulah si anak kecilnya itu; sembari membersihkan cipratan es krim strawberry – yang hanya setetes itu – yang dimakan si anak kecil berhidung mancung tersebut.

Ibu-ibu bule hanya tersenyum, sambil berujar ‘keine problem’ (tidak masalah), dan membiarkan tas kainnya dibersihkan perempuan Turki yang merasa sangat bersalah tersebut; lalu ibu bule ini pun – malah – mencium lembut kepala si anak tersebut. Sebuah cuplikan scene teladan luhur yang ditunjukkan oleh seorang perempuan muslim di tengah-tengah phobia masyarakat eropa atas umat Islam.

Aku menjadi teringat dan alam lamunku menerawang jauh ke enam belas tujuh belas abad yang telah silam, bahwa Islam dikembangkan oleh Rasul dengan kharisma dan keteladanan yang sangat agung. Islam menyebar ke seantero dunia dengan keteladanan yang luhur yang Rasul contohkan; yang Rasul contohkan bukan hanya pada ibadah ritualnya semata, namun seluruh aspek berkehidupan ibadahnya yang berdimensi sangat luas, yang telah tersajikan jelas pada sunnah-sunnahnya. Islam tidaklah disebarkan lewat perang atau agresi militer. Islam tidak mengenal kekerasan; namun Islam pantang surut ke belakang – walau hanya satu hasta – jika musuh menghadang. Kekuatan militer Islam – waktu itu – hanyalah dipergunakan untuk pertahanan, bukan untuk penghancurleburan; terbukti bahwa peperangan yang terjadi di jaman Rasul, pada umumnya terjadi di dalam kota di mana umat Islam berdomisili; secara akal, tidak mungkin jika Islam menyerang, secara logika pula, umat islamlah yang diserang. Namun ketegasan adalah karakter militansi umat Islam. Karena, terkadang kita butuh ketegasan yang nyata, untuk menggoreskan garis furqon pembeda atas akidah yang diyakini; dalam rangka menegakkan kebenaran hakiki ILLAHI.

Alhamdulillah…

Selasa, 04 Juni 2013

Roma, Itulah Namanya...

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Roma, Italy

Bismillah...
Roma. Itulah namanya. Sebuah kota yang aku singgahi pada kesempatan kali ini. Sebuah kota klasik yang dipenuhi ribuan bangunan berusia ratusan bahkan ribuan tahun, yang masih sangat tertata dan terawat dengan sangat baiknya; sebuah gundukan puing-puing dari serpihan sisa bangunan saja, akan menjadi pusat turis di kota ini. Sebuah kota yang terdengar sedikit garang, karena beberapa ceritanya yang aku dengar dimana tingkat kejahatan kota ini cukup tinggi. Usaha lebih yang penuh dengan kehati-hatian, menjadi harus ku lakukan salama aku menjelajahi kota ini pada akhirnya.

Mejeng di Colosseum

Roma. Itulah namanya. Sebuah kota yang berjarak lebih dari 1.400 km ke arah selatan bumi dari kota Göttingen; dan menjadikan aku harus terbang untuk mencapainya. Sebuah kota yang dipenuhi oleh tempat wisata, seperti: Colosseum (tempat pertarungan para gladiator), Trevi Fountain (air mancur Trevi), Vatican Church, Pantheon, Spanish Steps (German: Espagna Treppe), Moschea di Roma (Masjid Roma) dan masih banyak lainnya. Empat hari tiga malam aku hadir disini, sepertinya tidak cukup waktu untuk menyisir setiap sudut kota ini. Namun, dari sekian banyak tempat wisata yang berhasil aku kunjungi; Moschea di Roma (Masjid Roma) memberi keteduhan tersendiri buatku. Walau harus sedikit menuju ke luar kota Roma untuk mencapainya, Masjid ini memberi sebuah sinar harapan kebangkitan atas sebuah peradaban besar yang pernah berdiri tegak di daratan Eropa ini.

Berbaur dengan Ribuan Orang di Vatican

Roma. Itulah namanya. Aku menyukai kota ini. Satu hal yang membuat aku menyukai kota ini, karena aku dapat dengan mudah menemukan makanan halal; sebuah kondisi yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Hampir lebih dari enam resto halal langsung menyambutku, sesaat aku menapakkan kaki di Roma Termini; sebuah stasiun utama kota Roma, setelah 30 menit aku berlari menggunakan kereta dari Bandar Udara Internasional Leonardo Da Vinci (Italia: Aeroporto Leonardo Da Vinci) Roma. Enam Resto halal yang menyambutku, membuat senyumku mengembang; mengapa tidak, karena tanpa persiapan karbohidrat yang cukup, atau karena cadangan protein yang kurang, akan membuat konsentrasiku buyar selama aku berkeliling kota ini.

Roma. Itulah namanya. Sebuah kota nan eksotis. Namun ada satu hal yang sedikit mengganggu keindahannya; sebuah pemandangan kurang mengasyikkan mata, yang merupakan salah satu imbas penerapan ekonomi kapitalis, sangat kental terasa selama berada di kota ini. Banyaknya peminta-minta di sekitaran pusat kota Roma ini, merupakan salah satu imbas implementasi sistem ekonomi yang mengagungkan keuntungan sebagai pola penghargaan akan tumbuhnya ekonomi sebuah perusahaan atau negara itu. Sangat menyedihkan. Namun juga, aku pun hanya bisa tersenyum; inilah saatnya memberi - ya memberi - makanan halal dan makan bersama mereka menurutku; jadi, itulah yang aku dapat lakukan pada akhirnya.

Ada Keteduhan di Mosche di Roma (Masjid Roma)

Roma. Itulah namanya. Sebuah kota pada pijakan kakiku saat ini. ALLAH telah menerbangkanku ribuan kilo meter ke kota ini; sombong rasanya, jika syukur tidak kupanjatkan tanpa henti kepadaNYA. Sekali dan sekali lagi, terima kasih ya ALLAH, atas semua ini; terima kasih atas karunia indahMU ini; terima kasih...

Alhamdulillah...

Rabu, 15 Mei 2013

Berlin, Kota Ber-image 'Seram'...

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Berlin, Germany

Bismillah...
Namanya 'Berlin'. Mendengar namanya saja, kota itu telah membuat bulu kudukku berdiri. Entah kenapa, tapi seperti itulah yang aku rasakan. Ada puluhan 'image seram' tergambarkan di kepalaku, ketika aku mendengar kata 'Berlin'. Angker, perang dunia kedua, Hitler, Holocaust, tembok Berlin; dan masih banyak lagi kata-kata lain yang dapat menggambarkan 'image seram' kota Berlin ini menurutku. Ketika aku hadir di kota ini, cuaca sedang cukup panasnya. Matahari sedang giat-giatnya memunculkan diri, dan mengigit kulit ariku; maklum, setelah sekitar empat bulan dia enggan untuk menampakkan keganasan gigi taringnya.

Rencanaku, aku hanya ingin singgah kurang lebih lima jam saja di kota angker ini; sebuah kota yang bejarak kurang lebih 330 km dari kota Göttingen menuju Timur Laut ini. Aku - biasa - hanya ingin berburu pengalaman di berbagai tempat bersejarah di kota ini; Brandenburg Tor (gerbang Brandenburg), universitas ternama Humboldt, Berliner Dom, Holocaust Memorial; adalah beberapa tempat yang ingin aku singgahi, atau hanya sekedar untuk mentadaburinya. Berburu makanan halal di sekitar daerah Turmstraße, pasti tidak akan aku lewatkan; dan tentu saja, aku ingin pula mencoba untuk menghapus rasa dan image seramku ini, atas kota yang bernama Berlin ini.

Ku di Brandenburg Tor 
Setelah tiga jam perjalanan dengan menggunakan ICE dari Göttingen, aku tiba di Berlin Central Station (German: Berlin Hauptbahnhof); sebuah stasiun bernuansa cerah, dan beraroma modern; karena mayoritas dinding dari stasiun ini terbuat dari kaca dan tembus pandang. Dari stasiun itu, aku langsung menuju ke gerbang Brandenburg. Tembok Berlin berhasil dirobohkan pada tahun 1990, dan gerbang Brandenburg inilah yang merupakan gerbang yang dijadikan sebagai simbol tonggak bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur. Tidak jauh dari Brandenburg Tor, hanya sekitar 5 menit berjalan kaki; aku berhasil menapaki sebuah monumen untuk mengenang para korban perang dunia II berbangsa Yahudi; namanya Monumen Holocaust Memorial. Betul saja, memasuki area Holocaust Memorial ini, bulu kudukku semakin merinding; seperti memasuki pelataran pekuburan yang cukup menyeramkan. Dengan ribuan beton-beton berbentuk persegi panjang, berwarna hitam, serta dalam berbagai ukuran besar dan kecil; tempat ini nampak sangat angker dan tidak nyaman untuk berlama-lama disana. Aku, dengan segera, beranjak pergi; dan selanjutnya aku menuju gedung Reichstag; sebuah gedung yang merupakan gedung parlemennya Jerman (Bundestag); dengan tulisan 'Dem Deutschen Volke' atau 'kepada rakyat Jerman' di sisi depannya, gedung ini sangat gagah berdiri. Gedung klasik nan tua ini, berdiri kokoh di hadapanku sekarang. Sebuah gedung yang menggambarkan keangkuhan kota Berlin; pun menambah kewibawaan kota Berlin. Namun, sedikit banyak; gedung Reichstag ini telah mampu menepis keangkeran Holocaust yang baru saja aku lewati.

Ku di Berliner Dom 
Selanjutnya, aku menuju pusat daerah jajanan makanan halal; di Turmstraße. Aku dapat memilih sesuka hati jenis makanan yang selama ini sangat sulit aku jumpai di Göttingen; namun tentu saja, menu mayoritasnya adalah makanan khas Turki dan Timur Tengah. Berada di kawasan ini, sedikit banyak telah membawa alam pikir dan imajinasiku terbang ribuan kilo meter ke negeri di dataran Timur Tengah bercitarasa Arabic. Setelah menyantap makanan berselera ayam, kemudian aku melanjutkan perjalanku ke Universitas Humboldt; hanya untuk sekedar melihat-lihat dan mengambil beberapa gambar dengan kameraku. Universitas Humboldt, adalah salah satu universitas tua dan tertua di Berlin, serta berkualitas pendidikan selangit; Universitas Humboldt adalah salah satu universitas yang berdiri di awal tahun 1800-an, walau tetap jauh lebih muda daripada Universitas Göttingen yang berdiri di sekitaran tahun 1700. Beradanya aku di Universitas Humboldt, tanpa aku sadari, telah membuat keangkeran kota Berlin sirna sama sekali dari rasaku ini; karena nuansa modernnya, sudah memudarkan aura mistis yang menaunginya selama ini.  Dan, akhirnya perjalananku, ku akhiri - dan memang harus aku akhiri - di Berliner Dom atau Berlin Cathedral; sebuah Gereja tua yang megah nan artistik; dengan taman yang sangat indah dan tertata rapi.

Berlin Hauptbahnhof
Itulah sekelumit napak tilas perjalanan lima jamku di kota Berlin; si Kota berimage angker, yang tidak lagi seangker seperti pada bayanganku sebelumnya. Apa pun nuansa yang terekam di kepalaku ini, tidak menyebabkanku untuk lupa akan panjatan syukur ke khadirat ALLAH SWT; atas kuasa yang telah - sekali lagi - memperjalankan diriku ini mencapai sebuah tempat yang tidak pernah terpikirkan sama sekali untuk aku singgahi sebelumnya. Terima kasih ya ALLAH, terima kasih atas semua kuasa indahMU ini...

Alhamdulillah...

Rabu, 08 Mei 2013

Saat yang Tepat untuk Aku Berlari...


Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Göttingen, Germany

Bismillah...
ALLAH selalu mengingatkanku; atas sesuatu yang kadang aku lupakan, karena kepadatan aktivitas dan pekerjaanku; atas waktu yang terus bergurir, karena memang seperti itulah sunnatullah-nya; atas musim yang kembali berganti, karena memang seperti itulah aturan mainnya; atas hidangan umur yang bertambah namun berkurang, karena seperti itulah takar hitungannya. Tak terasa musim dingin tergantikan oleh musim semi; matahari telah mulai menampakkan dirinya, walau kadang masih terlihat malu-malu; daun-daun pohon sudah mulai kembali tumbuh, walau baru sekedar tunas mudanya. Selamat datang musim semi, ceria aku ucapkan; sebuah musim, dari rangkaian empat musim yang memayungi tanah Eropa ini, telah kembali hadir.

Orang-orang mulai kembali membeli dan memakan es krim; resto-resto sudah mulai kembali menggelar meja dan kursi tempat nongkrong di sepanjang trotoar jalan pada sebagian pusat kotanya; toko-toko sudah mulai mencucigudangkan sebagian barang khusus yang dijual di musim dingin yang hampir seratus persen berlalu itu. Semua nampak ceria, wajah-wajah nampak berseri kembali, semangat pun nampak mulai  membumbung; setelah hampir empat bulan nampak kuyu dan lesu tak bergairah seperti kurang darah dan tidak pernah mandi.

Pemandangan Klasik Tempat Nongkrong Pinggir Jalan 1

Pemandangan Klasik Tempat Nongkrong Pinggir Jalan 2

Sebagian orang pun telah mulai merubah penampilannya; setelah menutupi seluruh tubuhnya rapat-rapat tanpa celas sedikit pun, sekarang mulai membuka auratnya sedikit demi sedikit, atau bahkan mungkin akan 'hampir' seluruh tubuhnya; sebagian orang telah mulai kembali menggunakan sepatu sport, bukan lagi sepatu kulit yang tinggi dan kedap udara; sebagian orang pun mulai berkerumun di beberapa pojok taman kota, hanya sekedar berjemur atas cahaya surya sembari ber-barbecue-ria; dan juga aku melihat, bahwa sebagian orang telah mulai mengayuh sepedanya kembali tanpa ragu, dengan pakaian alakadarnya, tanpa takut tercubit rasa dingin yang menusuk tulang.

Lalu aku? Entah apa yang akan aku lakukan, entah acara ritual apa yang akan aku kerjakan; mungkin buncah rasa syukur atas berkehidupanku ini saja yang aku rasakan dalam menyambut musim semi ini; atau... Hmmm aku sangat amat tertarik dengan udara yang sedikit hangat ini, matahari yang cukup terik tetapi tidak menyengat ini, cuaca yang sangat cerah nan lembut ini, udara yang sangat jernih tanpa polusi ini, burung-burung yang berkicau riang ini; ya ALLAH indahnya... Sebuah nuansa indah penuh oksigen, nuansa ceria penuh warna, nuansa alam nan sejuk yang sangat cocok sekali untuk jogging. Jogging? Hmmm... Ya jogging... It's good idea I think... Aku berpikir, mungkin inilah 'saat yang tepat untuk aku berlari'...

Alhamdulillah...

Selasa, 07 Mei 2013

Leiden nan Tenang...

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Leiden, Netherland

Bismillah...
@Leiden Centraal
Bertemu orang yang syarat pengalaman atas sejarah kelam Indonesia, menjadi oleh-oleh berhargaku yang aku dapat dari kunjunganku di kota Leiden ini.  Orang yang penuh dengan syarat pengalaman sejarah Indonesia di akhir tahun 60an ini, tinggal, menetap, dan telah menjadi warga negara Belanda. Bukan karena keengganan beliau untuk kembali ke Indonesia; bukan pula karena Indonesia telah menjadi cerita masa lalunya yang harus dikubur dalam-dalam; namun sebuah kondisi sistemik yang memungkinkan beliau tidak mungkin untuk kembali ke negara tercinta, Indonesia. Beliau menjadi sesepuh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda; atau minimal menjadi 'dianggap sepuh', karena banyak para anggota PPI di Belanda ini berkunjung ke kediaman beliau, just share and talk something. Banyak cerita yang berhasil aku dengar dan pelajari darinya, walau hanya sejenak aku berkunjung; berbagai cerita kisah nyata, yang semakin memperjelas benang merah sejarah Indonesia, yang menambal sulam keutuhan atas berbagai jenis kebolongan cerita sejarah Indonesia yang ada di kepalaku ini. Kembali dan lagi aku bersyukur kepada ALLAH, atas semua nikmat indah ini.


Kota Leiden, sebuah kota sejuk, sunyi, dan senyap; kota yang membuat aku enggan untuk beranjak meninggalkannya. Kota Leiden, sebuah kota di titik pusat segitiga antara kota Amsterdam, Den Haag, dan Rotterdam, dan berjarak sekitar 45 menit dengan menggunakan kereta dari stasiun Centraal Amsterdam; sebuah kota yang merupakan kota penting yang terletak di provinsi Luid Holland. Kota Leiden, sebuah kota kecil yang memiliki universitas tertua di Belanda, universitas Leiden; sebuah universitas yang berdiri di pertengahan abad ke 16; sebuah universitas yang menjadi tautan mata pencaharian lebih dari 4.500 orang penduduknya ini, menyebabkan kota Leiden ini menjadi kota bernuansa kota pelajar. Kota Leiden, aku menyukai kota ini; menjelajahi sejenak panoramanya, menjadi pengalam baru yang mengasyikkan buatku pada akhirnya. 

Kota asri nan bersih ini, cenderung damai dan tenang, dibelah dua oleh sungai yang bernama Sungai Rhine; sebuah lukisanNYA yang menambah ketakjubanku atas kota ini. Sungai Rhine, sebuah sungai dua fungsi yang sangat dibanggakan penduduk kota Leiden ini, di musim panas dapat menjadi tempat wisata air bagi pengunjungnya, sedangkan di musim dingin ia bisa digunakan sebagai tempat orang ber-ice skating; membuatku terpesona atas keindahannya. Bangunan-bangunan klasik ciri khusus Belanda  abad 17an, masih menjadi panorama dominan dari kota ini; membuat aku ingin berlama-lama tinggal di kota yang ramah dan rapi ini. Tradisional, ramah, dan tenang menjadi kata kunci untuk melukiskan kota Leiden ini; walau pun fasilitas yang tersaji, tetap saja hampir setaraf dengan kota-kota besar lainnya.

Itulah Leiden, sebuah kota yang sempat aku pijak. Hadirnya aku di kota ini, pastilah ada karena skenarioNYA. Hanya hikmah yang harus selalu aku ambil, dan syukur yang harus selalu aku hiasi pada berkehidupanku ini; agar hari-hariku menjadi hari-hari yang bermanfaat tinggi bagi sesama, menjadi pencapaian akhir berkehidupanku. Liburan sejenakku di kota Leiden ini, telah mampu mengembalikan kepenatan pikiran dari kesibukan aktivitas harianku; pikiranku kembali menjadi tenang, setenang kota Leiden...

Alhamdulillah...

Minggu, 10 Maret 2013

Indonesia, Aku Telah Kembali, Walau Hanya Sesaat...

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Jakarta, Indonesia

Bismillah...
Hampir setengah putaran revolusi bumi, akhirnya aku kembali lagi ke Indonesia; negeri dimana hamparan mimpi sempat ku sibakkan, negeri dimana tingginya angan pernah ku tegakkan, negeri yang kadang membuat air mataku menetes lemah karena telah keropos oleh ulah sebagian orang bodoh  pemiliki hati musang. Ku putar kembali video mimpi dan angan itu di kepala kosongku ini, namun kabut asap knalpot Jakarta, macet dan pengapnya Ibu kota, hiruk pikuk manusia-manusia yang berjalan hilir mudik; membuat video mimpi dan angan itu menjadi buram dan benar-benar kosong adanya; hanya senyum hangat mentari yang mampu mendekap dan merangkulku, membuat aku tetap mampu menggerakkan kaki lemahku ini; hanya tawa canda keluarga, dan anak-anak didikku yang mampu mengusap air mata pada hati yang kelabu ini...

Indonesia adalah tanah kelahiranku; aku berpijak dan dibesarkan di atas tanah pertiwi ini. Indonesia adalah selera asalku; aku hidup dan berkembang dari selera saripati bumi ini. Indonesia adalah alam mimpi besarku; negeri yang membuat aku ingin kembali dan harus kembali, walau telah banyak yang aku dapatkan di negeri orang, walau beribu orang yang membenciku telah berhasil menyapu ku untuk menjauh dari mimpi atas alam zamrud khatulistiwa ini. Indonesia adalah syurga ikhtiar dan sunnah implementasiku; semua yang kudapat, pasti akan ku bawa pulang untuk aku ikhtiar dan implementasikan disini.

Pembenahan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia, bukanlah perkara mudah; namun bukan pula sesuatu yang tidak mungkin dan tidak terbayang sama sekali. Hanya saja, kesadaran bahwa kita terintervensi oleh keadaan dan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan individu dan golongan; tidaklah kunjung muncul ke permukaan nalar akal bangsa ini. Mengembalikan tata pikir, kembali menjadi pola pikir yang saharusnya dimiliki bangsa ini; menjadi terasa amat sangat berat. Keegoan dan anggapan benar yang keluar dari statemen pribadi; membuat kondisi menjadi tambah kacau pada akhirnya. Kebenaran sepertinya milik pribadi, semua orang berhak memiliki pendapat atas kebenaran tersebut; padahal tidak sama sekali. Kebanaran haruslah sombong; walau seluruh jagat raya ini meng-claim bahwa kebenaran itu salah, kebenaran tetaplah akan menjadi sebuah kebenaran. Kebenaran haruslah angkuh; karena jika kebenaran bisa dimodifikasi atau ditawar dan dipilah pilih sesuai dengan keinginan dan hasrat diri, tidak akan pernah ada lagi kebenaran; yang ada hanyalah kesalahan yang merajai dan menggenggam kehidupan umat manusia.

Indonesia Kaya Tanpa Impor Sapi

Terbayang sebuah misi berat, atas capaian visi besar; itu yang ada di benak dalamku, sesaat aku kembali ke Indonesia. Terbayang sebuah pengorbanan yang sangat besar yang harus aku lakukan, tanpa memperhatikan kepentingan pribadiku sama sekali, itu yang muncul di alam pikirku; sesaat aku menginjakkan telapak kakiku di tanah Jakarta ini. Indonesia harus kembali pada alamiahnya. Indonesia harus dihuni dan dikelilingi orang-orang yang memang mau berkorban; bukan untuk dirinya, bukan untuk keiinginannya, bukan pula untuk ego pada pribadinya; namun orang-orang yang memang mau berkorban untuk sebanyak-banyaknya umat manusia, dengan landasan ibadah ikhlas padaNYA...

Indonesia, aku telah kembali, namun hanya sesaat; karena aku harus kembali berpijak pada nalar dan kehidupan nyata ini...

Alhamdulillah...