Kamis, 05 Desember 2013

Loh, Katanya Phobia...

@Göttingen, Germany

Bismillah...
Islamphobia terus dihembuskan oleh kaum yang tidak menginginkan Islam ada sebagai sebuah ideologi; baik ideologi individu, komunitas, apalagi bangsa atau negara. Kaum ini terus menyulutkan kebencian terhadap Islam dengan propaganda negatif akan Islam. Eropa, termasuk kawasan yang sangat terasa kental sekali kephobiaannya terhadap Islam.

Aku tidak akan sebutkan secara eksplisit mengenai berbagai jenis reaksi nyata sikap kephobiaan tersebut. Biarkan saja. Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu dari sisi lain, mengenai apa yang aku alami saja. Di Jerman, beberapa minggu ke depan ini akan – kembali – memasuki musim dingin. Musim dimana suhu udara bisa mencapai lima, sepuluh bahkan lima belas derajat celcius di bawah nol. Sangat dingin menusuk ari. Selain pula berasa malam terus-menerus, itu yang aku rasakan. Waktu gelap matahari – memang – lebih panjang. Bagi yang suka solat qiyamulail, kita – kadang masih – bisa melakukannya pada pukul 06.00, karena – bisa saja – waktu subuh akan masuk di pukul 06.30; itu pun – padahal – setelah waktu Jerman (secara keseluruhan disebut Western European Time Zone) kembali bergeser / berkurang 1 jam dari biasanya (di waktu winter perbedaan waktu Indonesia dengan Jerman menjadi 6 jam, tadinya 5 jam), karena berakhirnya waktu summer (atau istilahnya the end of daylight saving time). Sedangkan waktu maghrib datang lebih cepat, di pukul 16.20 bisa jadi waktu solat maghrib telah tiba.

Efek lain tentunya adalah cara berpakaian. Cara berpakaian ini, untuk kaum yang Islamphobia – pun – digadang-gadang – sehingga harus – menjadi masalah. Maklumlah, mereka ter-setting kepala dan jiwanya, agar membenci Islam dari berbagai aspek; agar Islam sebagai sebuah ideologi benar-benar harus tercabut sampai ke akar rumputnya. Lalu, bagaimana dengan Eropa pada musim dingin ini? Konon hijab – makanya dilarang karena – dianggap sebagai budaya Islam, maka harus tercabutkan. Kok, mereka sekarang berhijab ya? Bahkan telapak tangan pun, salah satu bagian yang boleh nampak pada seorang perempuan, tertutup dengan sangat rapatnya. Jangankan tatapan mata, atau ciuman hidung; kalau bisa udara pun tidak boleh menyentuh pori-pori badannya. Hanya muka saja yang masih nampak. Mereka – tidak hanya perempuan – benar-benar berpakaian syar’i pada winter ini.

Alasan logis? Bahkan hijab – dalam Islam – sebagai penutup aurat perempuan jauh lebih beralasan logis. Islam sangat mengagungkan kaum perempuan, karena perempuan adalah sekolah pertama bagi bangsa dan umat. Ibulah (perempuan) yang disebutkan pertama sampai tiga kali oleh Rasul untuk kita berbakti, sebelum rasul menyebut Bapak (laki-laki). Islam sangat menjaga kaum perempuan, dengan caranya yang sangat sempurna. Islam menjaga perempuan dari berbagai aspek, baik lahir maupun bathin. Bahkan sampai level terdetail sekali pun, yaitu menutup auratnya; dalam rangka menjaga setiap bagian jengkal fisik perempuan tersebut. Untuk hal ini, aku pernah mendengar sebuah percakapan – yang cukup menginspirasiku – pada sebuah film karya Dedi Mizwar, ketika seorang buta berbincang dengan seorang perempuan. Si Buta bertanya kepada perempuan tersebut, ‘Mba kok tidak menggunakan jilbab?’. Si Mba – yang memang tidak berjilbab – tersebut bertanya dalam heran, ‘Loh, dari  mana Bapak tahu bahwa saya tidak berjilbab? Sedang Bapak – maaf – tidak bisa melihat’. Lalu si Buta itu menjawab sambil berlalu, ‘Wangi rambutnya tercium Mba..’.

Itulah Islam. Sempurna, komprehensif dan sangat holistik. Hanya akal kita – kadang – tidak kita gunakan secara optimal untuk menalar, yang memungkinkan – naudzubillah min dzaik – akan terus menggerus kadar keimanannya. Padahal, akallah yang memungkinkan manusia berbeda dengan makhluk ALLAH lainnya. Padahal, akallah yang akan mengangkat kedudukan manusia-manusia beriman beberapa harkat.

Itulah Islam. Bahkan hijab telah ada dalam rencana terstruktur dan indah dari ALLAH. Walaupun alasannya karena musim dingin, tidak mengapa. Karena manusia butuh alasan logis untuk mengambil sebuah keputusan penting. Jadi biarkanlah musim winter ini menjadi alasan logis para penduduk Eropa untuk berhijab, walau dengan cara mereka sendiri. Loh, katanya phobia...


Alhamdulillah...

Bus yang Sopan dan Teratur

@Göttingen, Germany
Related article (klik disini)

Bismillah...
Suasana di Dalam Bus
Orang-orangnya begitu terkontaminasinya dengan minuman keras; karena – mungkin – bir telah menjadi minuman pokok kedua setelah wine; karena – pula – hampir setiap minggunya ada pesta bir di berbagai tempat yang dilegalkan oleh pemerintah setempat. Kebanyakan dari mereka pun telah meninggalkan kehidupan beragamanya, dan beralih menjadi tidak bertuhan, atau dalam bahasa kerenya atheis. Bahkan, sebagian dari mereka memiliki pola pikir tajam dan sangat terstruktur, namun hanya – mentok – sebatas pada kehidupan duniawi saja, tanpa pernah terpikirkan di kepalanya akan skenario akhirat. Namun, disini, di tempat yang masjid pun sulit untuk dijumpai, bus, yang menjadi salah satu moda transportasi dalam kotanya, terlihat sangat sopan dan teramat sangat teratur.

Ya. Sopan dan teratur... Setidaknya, itulah yang ada di relung kepalaku. Kok bisa ya? Padahal, kontaminasi negatif akan kehidupan nan fulgar telah menggerogoti hampir 100% pola kehidupan masyarakatnya. Nalar! Itulah jawabannya. Akal! Itulah jawabannya. Kota ini dibangun di atas pondasi sistem berdasarkan nalar atau akal manusia yang nyata. Aspek-aspek reaksi manusia terhadap manusia lain, lingkungan dan alam; berusaha diimplementasikan – seoptimal mungkin – dengan sangat logis dan masuk akalnya.

Anak-anak Kecil Belajar Baris Masuk ke Bus
Bus yang sopan dan teratur, inilah contoh yang ingin aku gorestintakan pada tulisan blog-ku kali ini. Bus-bus itu akan berhenti, di setiap lampu merah; menyerobot lampu merah adalah sebuah pelanggaran yang sangat luar biasa berat dan memalukan. Bus-bus itu akan menunggu, yaa menunggu; di saat ada penyebrang jalan yang sedang atau akan menyebrang melalui zebra cross di hadapannya; bukan sebaliknya, dimana penyebrang jalan yang harus tengok kanan dan kiri untuk menyebrang jalan; bahkan anak-anak kecil bisa dengan santainya menyebrang jalan dan lepas dari pengawasan orang tuanya, dan dengan penuh hormat bus-bus itu akan menunggu. Bus-bus itu akan mengikuti kayuhan pengendara sepeda di belakangnya, sampai bus tersebut berhenti di halte yang telah ditentukan; tidak lantas menyerobot sepeda tersebut dan menikungnya karena dia harus berhenti di halte. Bus-bus itu akan selalu on time datang dan pergi, sesuai dengan jadwal yang ditentukan, dan sampai ke halte berikutnya dengan sangat presisi waktu. Bus-bus itu memiliki fasilitas khusus untuk para manula dan orang-orang disabilitas; bahkan bus tersebut mampu menunduk (miring) dan mempersilahkan para manula dan orang-orang disabilitas untuk naik dan turun bus tersebut tanpa mengalami kesulitan; termasuk fasilitas tempat duduk bagi para manula dan orang-orang disabilitas tersebut, yang disesuaikan desainnya. Bahkan fasilitas khusus bagi pembawa dorongan bayi dan sepeda di dalam bus pun tersedia lengkap. Bus-bus itu dapat mengatur suhu ruangannya tetap stabil, tidak terpengaruh – sedikit pun – akan suhu musim summer atau winter. Satu hal yang pasti, bus-bus itu teradakan dikarenakan sebuah optimalitas nalar dan akal manusia yang kemudian diimplementasikan di atas sebuah sistem sebagai penjaga kekonsistensian dan keteraturannya.

Logis saja dulu, semua akan terasa nyaman. Logis saja dulu, semua akan terasa elegan. Logis saja dulu, semua akan terasa seimbang dan penuh ketaraturan pada akhirnya. Apalagi, setelah itu semuanya tersandarkan pada kelogisan yang islamis, ya sebuah kondisi logis islamis; dimana islam – diakuisisi – sebagai benteng controlling atas kebenaran pada kelogisan nalar dan akal yang diimplementasikan tersebut; sehingga, kelogisan nalar dan akal tersebut akan bermakna ganda di mata ALLAH pada akhirnya...


Alhamdulillah...

Sabtu, 12 Oktober 2013

Proses Benar nan Sistemik, Itulah Inti Ibadah…


@Göttingen, Germany

Bismillah…
Kadang menyedihkan, namun aku terus mengikuti perkembangannya. Kadang mendatangkan harapan, namun – setelah itu – hanya dalam sekejap mata kembali sirna. Kadang mendatangkan decak kagum, namun kehandalan dan kekuatan sistem kadang dilupakan pada akhirnya. Namun hari ini, aku bisa tersenyum dan menangis haru; akhirnya momen itu datang juga, akhirnya, usaha optimal dengan cara sistemik yang sangat padu menunjukkan buah hasil yang – luar biasa – manis. Adik-adikku, selamat; semoga ini salah satu cahaya kebangkitan itu. Jangan pernah ragu untuk terus bersujud syukur, ketika goal-goal mampu kamu sarangkan ke gawang musuh; siapa pun itu lawannya. Aku tak hadir langsung di hadapanmu, namun gegap gempita pendukungmu di gelora Bung Karno sangat aku rasakan, walau aku berada jauh ribuan kilometer dari arena perang itu.


Aku mengikuti sangat  tim ini; mengikuti para cikal yang masuk ke dalam kesebelasan Indonesia under 19. Sebuah kesebelasan yang memang dipersiapkan secara sempurna pada ukuran logis akan kesempurnaan usaha manusia; dan memang seperti itulah yang seharusnya dilakukan. Sebuah kesebelasan yang digali dari bibit unggul dari semua pelosok anak negeri dengan keriteria dan indikator yang sangat ketat, yang dicanangkan pelatih tanpa ada titipan politis sedikit pun; dan memang seperti itulah yang seharusnya dilakukan. Kecerdasan, visi, postur, skil, kekuatan fisik dan mental, merupakan sebagian parameter yang dapat diukur untuk menciptakan pemain-pemain yang berkaliber militan dan mumpuni; proses pemulihan fisik dan genjotan mental yang dilakukan tim pelatih secara sistemik, berkala dan berkesinambungan, secara konsisten dan istiqomah, lebih hampir dari 5 tahun; menjaga kualitas asupan gizi makanan dan minuman dengan didampingi para pakar yang paham sekali akan ilmunya, dilakukan dengan sangat seksama dan tepat sasaran; adalah serangkaian hal-hal logis yang memang seharusnya dilakukan. Dan pada akhirnya, semua – usaha yang seharusnya dilakukan – itu telah menemani catatan sejarah indah – yang sangat langka – ini. Sejarah indah yang telah menenggelamkan sejarah kelam dan buruk.

Itulah inti perjuangan yang harus digarisbawahi. Bukan hasil dan prestasi yang menjadi orientasi utama yang seharusnya didiskusikan, dibicarakan dan diperdebatkan; tetapi fokus dan hanya fokus serta terus berbenah pada metode dan cara atas segala ‘apa yang harus dilakukan‘ oleh anak-anak Adam. Karena kita hanyalah manusia, yang – sangat – diwajibkan untuk terus berusaha sekuat tenaga dengan akal, jiwa, raga, ilmu, kemampuan dan etos kerja berbasiskan sistem yang tertata kelola dengan sangat apik; dan – lalu – biarkan ALLAH dengan hakNYA memberikan hasil dan prestasi itu kepada kita. Dan, kesebelasan Indonesia under 19 dengan perangkat tim anak-anak muda nan brilian ini, serta seluruh perangkat tim pelatihnya, yang dikemas dalam sebuah sistem nan padu tanpa intervensi orang-orang tak bertanggungjawab; telah mampu menunjukkan itu, menunjukkan sebuah keniscayaan bahwa bersyaratlah untuk berprestasi – bukan berprestasi tanpa usaha dan pemenuhan syarat – harus menjadi orientasi utama semua insan manusia. Penuhilah – saja – semua ‘yang harus dilakukan‘ dengan benar dan sistemik; serta – pada akhirnya di level keikhlasan yang sangat tinggi – biarkanlah ALLAH menentukan hakNYA atas hasil dan prestasi itu. Karena, bersyarat dan mengoptimalkan semua usaha kita secara manusiawi berbasiskan kelogisan, adalah inti dari ibadah itu sendiri.

Selamat Indonesia, semoga ini semua terjaga keistiqomahannya, semoga ini membuka wahana berfikir kita; bahwa melakukan hal seoptimal mungkin untuk berprestasi, akan jauh lebih penting dari prestasi itu sendiri; karena prestasi bukanlah urusan kita (it’s not our business); prestasi hanyalah hak ALLAH yang akan diberikan kepada setiap kita yang DIA inginkan. Karena – pula, ketika proses dan segala hal yang dilakukan telah menjadi orientasi utamanya; tidak akan pernah ada pengagungan yang berlebih atas prestasi yang digapai, dan tidak akan pernah – pula – ada hujatan yang menyayat hati ketika kegagalan tidak berhasil direngkuh…

Alhamdulillah…

Rabu, 02 Oktober 2013

Berlin, Jepret... Jepret...


@Berlin, Germany

Bismillah…
Saat ini aku hanya ingin berbagi hasil jepretanku selama aku di Berlin. Ini kali kedua aku berada di kota yang ber-image seram – namun tidak seram lagi – ini. Aku menghabiskan kurang lebih sembilan jam di kota ini. Hanya untuk melihat-lihat dan mengabadikan beberapa momen dan sudut kotanya dengan menggunakan kamera DSLR ku; dimana, aku memulai aktivitasku dengan mengunjungi tempat makanan halal di sekitar kawasan Turmstraße, dan menyantap makanan bermenu ayam gorang nan renyah. Kebetulan, di saat aku berkunjung, di Berlin sedang ada perlombaan marathon dan sepatu roda; sehingga beberapa jalur bus dan metro (atau U bahn) sempat dialihkan, sehingga – pula – aku harus menyusuri beberapa tempat dengan berjalan kaki. Aku pun berhasil mengabadikan momen perlombaan bersepatu roda tersebut dengan menggunakan teknik blurring dan panning; sebuah teknik freeze objek berjalan, dimana background lain akan menjadi blur dibuatnya. Begitu juga dengan gerbang Brandenburg – yang terletak di antara Pariser Platz dan Platz des 18 März atau di sekitaran persimpangan Unter den Linden dan Ebertstraße – berhasil aku jepret gambarnya. Selain itu, Aku pun tidak luput mengabadikan beberapa gambar gedung yang ada di Potsdamer Platz, sebuah kawasan atau lapangan kota di tengah kota Berlin; dan juga gedung parlemen Reichstag, sebuah gedung bertuliskan Dem Deutschen Volke (Indonesia: Kepada Rakyat Jerman).

Brandenburger Tor
Mendung di atas Brandenburger Tor
Gedung Parlemen Reichstag
Potsdamer Platz
Sang Juara Blurring - Panning
Lagi, lagi dan lagi. Sebuah perjalanan mengasyikkan yang tidak pernah terbayangkan di alam pikirku ini. Sebuah perjalanan penuh hikmah. Sebuah perjalanan yang hanya bisa dibalas dengan syukur yang sangat. Bukan hanya syukur di ucap, namun pula syukur pada etos tindak harian kita. Terima kasih ya ALLAH atas semua indah ini…

Alhamdulillah…


Selasa, 01 Oktober 2013

Grenzlandmuseum, Museum Tapal Batas Jerman


@Duderstadt, Germany

Bismillah…

Cerita tentang Jerman Barat dan Timur – dengan cukup gamblangnya – terjawab sudah pada akhirnya; setelah aku mengunjungi museum Grenzlandmuseum di daerah Duderstadt, Jerman; sebuah kota bernuansa tua pada jarak sekitar 30 kilometer arah timur dari kota Göttingen. Awalnya, aku mengira bahwa Brandenburger Tor (Gerbang Brandenburg) yang berada di Berlin adalah simbol atau gerbang tapal batas antara Jerman Barat dan Timur; secara de jure betul, bahwa sisi barat tembok berlin adalah termasuk otoritas Jerman Barat dan sisi timurnya adalah masuk otoritas Jerman Timur, dimana tujuan pendirian tembok Berlin itu sendiri untuk memisahkan bagian Jerman yang dikontrol oleh Soviet dan oleh negara-negara barat; namun, secara de facto, sebenarnya seluruh kota Berlin itu sendiri berada di wilayah Jerman Timur, yang secara teknis termasuk daerah okupasi Soviet. Jerman itu sendiri sebelumnya terkoyak wilayahnya menjadi empat bagian okupasi; yaitu wilayah okupasi Soviet, Amerika Serikat, Inggris dan Perancis (1945 – 1948); sedangkan pemisahan Jerman Barat dan Timur itu berlaku mulai tahun 1949; dan kembali melebur menjadi Jerman pada tahun 1990. Meleburnya dua kubu Jerman ini, ditandai dengan dibukanya kembali Gerbang Brandenburg oleh Helmut Kohl, Kanselir Jeman Barat pada waktu itu (tepatnya pada tanggal 22 Desember 1989).

Si Kota Tua Penuh Pesona
Sendiri di Kota Tua

Berjalan-jalan ke Museum Grenzlandmuseum dan kota Tua Duderstadt, membuat hasrat mengabadikan lewat kamera DSLR ku membuncah. Akhirnya aku berhasil mengelilingi pojok-pojok kota Duderstadt ini, dan berhasil membidik beberapa bagian kota tua ini.

Sekali lagi. Segala pujiku hanyalah untuk ALLAH semata, Tuhan segenap bumi dan langit serta segala yang ada di antaranya; atas seluruh nikmat yang berlimpah ini.

Alhamdulillah…

Kamis, 26 September 2013

Si Tua Berhati Islami...


@Prague, Czech Republic

Bismillah…
“Pada suatu ketika, seekor anjing mengelilingi sebuah sumur. hampir-hampir anjing itu mati kehausan. Tiba-tiba seorang wanita pelacur bangsa bani Israil melihatnya. Maka dilepaslah sepatunya, kemudian diambilkannya air dengan sepatunya, lalu anjing yang hampir mati itu diberinya minum. Maka ALLAH SWT mengampuninya dengan sebab itu” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Selepas aku dari pusat kota, hanya untuk sekedar melepas penat dan makan malam; seperti biasa aku harus kembali ke domitori kampusku dengan menggunakan metro (kereta bawah tanah) dan dilanjutkan dengan menggunakan bis. Metro yang harus aku naiki, harus melintasi setidaknya lima stasiun (dari stasiun Muzeum menuju Dajvická); beberapa jenis stasiun metro yang selalu aku lewati selama aku berada di kota Praha ini. Tidak ada yang aneh sebenarnya, pun tidak ada yang spesial yang bisa aku lihat; umumnya bernuansa dan bercita rasa biasa saja. Hanya saja, selama aku berdiri di atas metro ini, karena sesaknya penumpang yang baru pulang bekerja dan kuliah; aku memperhatikan seorang tua dengan seekor anjing yang dia gendong di pangkuannya. Anjing itu terdiam di pangkuan orang tua tersebut pada sebuah tempat – seperti tas – terbuat dari kain, dan sesekali si orang tua tersebut  mengelus-elus anjing tersebut dengan penuh kasih sayang. Anjing ini hanya berusaha untuk menjulur-julurkan lidahnya sambil menengok kiri dan kanan.

Perhatianku tertuju pada pemandangan itu – cukup – lama sekali. Satu hal sedang aku bayangkan; tentu, bukan anjingnya yang aku jadikan tema besar di ceritaku kali ini; namun, sebuah ketulusan seorang tua, yang mau dan mampu merawat seekor ‘anjing buta’. Ya, seekor anjing buta. Entah alasan apa yang ada di hatinya, sehingga dia mau merawat anjing tersebut; bahkan untuk berjalan saja, dia sedikit bersusah payah karena ujurnya. Karena alasan lucunya? Aku – sama sekali – tidak melihat sedikit pun kelucuan dari anjing yang seperti panik, menjulurkan lidahnya tanpa henti dan selalu menengok kanan dan kiri tersebut; dengan mata yang semuanya tampak putih dan menyeramkan, seperti  penampakkan monster di film-film fiksi penuh kebohongan itu. Atau untuk menjaga dirinya? Sepertinya agak tidak masuk akal dan berlebihan, seekor anjing buta mampu menjaga diri si pemiliknya; yang ada, pemiliknya hanyalah disibukkan dengan merawat si anjing itu.

Sekali lagi, bukan anjingnya yang menjadi perhatian lamaku, sehingga aku lupa bahwa stasiun Dajvická yang menjadi final destination station ku telah berhasil metro – yang aku naiki – ini gapai; karena anjing menurutku tetap saja merupakan binatang yang mengeluarkan zat air liur yang bernajis. Namun, apa yang terjadi dengan anjing itu? Jika saja dia ada di luaran sana tanpa dilindungi dan dirawat oleh sang pemilik berhati mulia tersebut. Mungkin anjing itu sudah tidak mampu untuk bertahan hidup.

Sebuah kisah kecil nan sederhana, yang ALLAH perlihatkan untukku. Sebuah kisah kecil namun mampu menarik perhatianku selama aku berada di atas metro. Seorang tua dengan kelembutan hati islami. Sebuah pertunjukkan film berdurasi pendek pada kehidupan nyata ini, yang mampu aku nikmati disini. Di sebuah kota dan negara, yang terasa cukup keras; di sebuah kota dan negara yang pengemudi bisnya lebih kasar di dalam mengendarai bisnya jika dibandingkan pengemudi bis di negara-negara asia timur sana; di sebuah kota dan negara yang konon para penduduknya merupakan pengkonsumsi alkohol terbanyak di dunia.

Adab berkehidupan yang mampu mempertegas untuk berlaku baik dan kasih serta sayang pada semua. Terlebih kepada manusia lain, dengan makhluk lain dan alam ini saja islam mengajarkan untuk menjadi rahmat, bukan perusak dan penjilat. Ya ALLAH, beri kesempatan kami untuk menjadi terbaik bagi sebanyak-banyaknya manusia lain dan alam ini…

Alhamdulillah…

Minggu, 22 September 2013

144 Jam di Praha

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Prague, Czech Republic

Bismillah…
Seratus empat puluh empat jam aku berada di kota ini. Praha (English: Prague), itu namanya. Sebuah kota terbesar di negara bertitel Republik Ceko (English: Czech Republic). Sebuah kota yang – sekuat tanaga mencoba untuk – berebut image sebagai jantung Eropa bersaing ketat dengan kota Vienna, Austria. Bangunan-bangunan klasik ala Eropa Timur – bargaya arsitektur Barok dan Ghotic – sudah mulai terasa di kota Praha ini, walau letak negara ini masuk di kawasan Eropa Tengah pada letak georgrafis bumi. Cuaca di kota yang terkenal dengan Charles Bridge (Czech: Karluvmost) nya ini, yaitu sebuah jembatan yang membelah sungai Vltava (German: Moldau), ketika aku kunjungi, sangat cukup bersahabat. Walau suhu berada pada kisaran 7 – 12 derajat celcius yang membuat terasa cukup sejuk di kulit ari, namun matahari tetaplah bersinar cukup terangnya; dan kadang rintik hujan nan lembut menemaniku untuk berjalan menelusuri jalan-jalan dan lorong-lorong sempit kota ini.

Purnama di Charles Bridge

Old Town Square, tentu, tempat ini tidak aku lewatkan untuk aku kunjungi di Praha ini. Sebuah area pasar – yang konon – sudah ada semenjak awal abad ke sebelas masehi ini; sebuah area pusat kota Praha yang dikelilingi berbagai jenis bangunan tua ini; sangatlah dipadati turis setiap harinya. Berbagai jenis bangunan indah yang ada di sekeliling arena kota tua ini di antaranya adalah Old Town Hall dengan jam Astronomisnya yang berukuran besar, Tyn Church yang bergaya Ghotic Architecture, termasuk Jan Hus Memorial sebagai sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang reformer religius Ceko.

Old Town Hall dan Tyn Church di Old Town Square
Bangunan-bangunan lain yang berhasil aku kunjungi di kota ini adalah Klementinum National Library dan National Museum. Khusus untuk Perpustakaan Klementinum, perpustakaan ini merupakan jenis perpustakaan yang didirikan pada pertengahan abad 17 dengan Hall bergaya arsitektur Barok (Baroque), dan pernah dijadikan sebagai perpusatakaan nasional dengan koleksi buku lebih dari 6 juta buku. Sayang berpuluh kali sayang, aku tidak diperbolehkan untuk mengabadikan foto perpustakaan ini. Namun, untuk sedikit menghiburku, aku diperbolehkan untuk naik ke menara astronomi (Astronomical Tower), sebuah menara astronomi yang memiliki tinggi 52 meter dengan 172 buah anak tangganya berbentuk spiral; dan – tentunya – aku diperbolehkan untuk membidik beberapa foto kota Praha dari atas puncak menaranya.

Gaya Jepretan Miring National Museum

Praha merupakan kota terbesar sekaligus sebagai Ibukota negara Republik Ceko, sebuah negara di area Eropa Tengah yang pada tahun 1993 resmi berpisah dari Republik Slovakia (tadinya bernama Cekoslovakia). Berjalan-jalan mengelilingi kota ini, sebenarnya diselimuti sedikit perasaan was-was; karena Ceko, termasuk kota Praha-nya, konon merupakan salah negara dan kota yang masyakaratnya merupakan masyarakat pengkonsumsi alkohol tertinggi di dunia. Aroma dan semerbak khas bau alkohol, kadang tercium hidung ini dengan sangat jelas dan kuatnya, baik di saat aku menaiki bus, trem atau metro bawah tanah; tiga jenis kendaraan yang merupakan jenis moda transportasi yang bisa aku gunakan untuk hilir mudik di pusat kota Praha ini.

Menjelang Maghrib di Praha

Untuk makanan halal, estimasiku tentang sulitnya aku menemukan makanan halal ini sedikit meleset. Di pusat kota, tepatnya berdekatan dengan daerah National Museum Ceko, tidak kurang lebih dari tiga atau empat resto halal bergaya Turki berhasil aku temui. Di resto tersebut aku bisa memilih berbagai jenis menu makanan dengan menu nasi sebagai menu utamanya; gulai kambing, gulai ayam, sop iga dan masih banyak lainnya, adalah jenis menu yang bisa aku lahap, dan – setidaknya – dapat me-recharge serta menambah tenagaku untuk aku gunakan berkeliling kota dengan berjalan kaki.

Sebuah perjalanan yang tidak pernah terbayang akal dan terniatkan hati sebelumnya olehku. Hanya dengan kuasa dan karuniaNYA, kuasa dan karunia ALLAH Azza wa Jalla, aku bisa dihadirkan di kota tua penuh warna nan indah ini; kota yang berhasil aku telusuri dan jajaki selama 144 jam ini. Terima kasih ya ALLAH atas semua indah ini…

Alhamdulillah…