Jumat, 03 Juli 2015

Dejavu Praha

Ditdit Nugeraha Utama
@Prague, Czech Rapublic

Bismillah...
Sepertinya aku pernah melakukannya. Menggunakan metro, menapaki jalan di antara gedung-gedung tua menjulang tinggi, mengambil beberapa photo sudut kota, atau hanya sekedar mencari makanan halal ke setiap pelosok kota. Ya aku sepertinya pernah melakukannya. Tentu. Aroma sama dua tahun yang lalu, aku rasakan lagi waktu ini. ALLAH telah menghadirkanku lagi di kota Praha ini.

Charles bridge dari sisi dalam

Tentu pada kesempatan dan misi berbeda, aku ber-dejavu di kota Praha ini. Waktu ini, misiku adalah menyampaikan update terakhir pekerjaanku selama tiga tahun ke para saintis seluruh dunia. Aku sangat gembira, karena respon mereka begitu antusias atas pekerjaanku tersebut. Bukan, ini bukan karena aku. Sama sekali bukan karena aku. ALLAH, DIAlah yang memungkinkan semua ini terjadi.

Charles bridge dari sisi luar

Satu minggu aku berada di kota ini, di waktu yang sempit, aku tetap menyempatkan untuk meng-klik-kan kamera DSLRku. Beberapa photo sudut kota eksotis ini berhasil aku abadikan. Inilah dejavu Prahaku. Praha, yang pernah aku kunjungi, aku coba untuk siratkan kembali dalam rangkaian gambar-gambar klasik DSLRku... [dnu]

Alhamdulillah...

Lorong kota praha dengan penuh warna

Old town square klasik, sangat padat pengunjung

National museum, berdiri dengan sangat kokohnya

Rabu, 18 Maret 2015

Tasku hilang, tasku kembali...

Ditdit Nugeraha Utama
@Göttingen, Germany

Bismillah...
Kaget bukan main, ketika aku sadar bahwa aku tidak sedang menggendong tasku yang selama perjalanan ini aku gendong. Kemana tasku? Kemana tasku? Teriakku dalam bahasa Inggris dan Jerman. Seisi bus semua menoleh ke arah ku. Tak satu orang pun melihat tasku tersebut. Aku benar-benar kehilangan tasku hari ini...

Tidak ada uang di dalamnya. Yang ada hanya beberapa kartu bank Indonesia, dan bahan makanan yang baru aku beli. Dan yang terpenting, kartu identitasku: passport dan resident permit card; ada di dalamnya! Apa yang harus aku lakukan?

Aku berusaha tenang, walau pun memang jauh dari rasa tenang. Aku coba melapor ke perusahaan manajemen bus pengelola bus kota di Göttingen ini. Aku ceritakan isi dan ciri-ciri tasku; tanpa aku tahu, apakah aku menginggalkan tasku di dalam bus sebelumnya, atau aku tinggalkan di halte ketika aku transit menunggu bus berikutnya, atau memang ada pencopet di kota ini. Aku benar-benar tidak tahu pasti. Petugas manajemen bus tidak membuat laporan apa pun, hanya mengingat ciri-ciri tasku dari cerita panikku, dan menulis nomor telepon yang dapat ia hubungi. Si petugas sama sekali tidak tampak panik, sepertinya ia sangat yakin 100% bahwa tasku akan kembali dan berhasil ditemukan.

Esok harinya aku melaporkan kehilangan tasku ke polisi. Polisi berusaha mengontak kantor properti kota yang biasa menjadi pool setiap jenis properti yang hilang di kota ini. Namun nihil. Karena lebih dari 24 jam, polisi menyimpulkan bahwa tasku dicuri orang. Karena biasanya, semua tas hilang yang ditemukan orang di kota ini, akan dibawa ke kantor properti kota tersebut. Lalu, polisi mendata informasi kehilangan tasku.

Hari berikutnya, alhamdulillah. Petugas dari kantor manajemen bus meneleponku. Tasku berhasil ditemukan seseorang! Walaupun tasku dalam kondisi yang bau karena busuknya beberapa bahan makanan yang aku simpan di dalamnya, tentulah aku – tetap – sangat bersyukur bahwa tasku kembali. Alhamdulillah....

Cerita ini benar-benar aku alami. Sangat luar biasa. Di antara jutaan penduduk kota, di tengah-tengah luasnya kota; sistem kota memungkinkan para penduduknya benar-benar pemegang amanah sejati. Tanpa berpikir panjang, kusematkan jargon “kota amanah“ untuk kota Göttingen ini. Indonesia, bisakah kita membangun kota seperti ini?... [dnu]

Alhamdulillah...

Kamis, 26 Februari 2015

Kakek-kakek ‘sok‘ mandiri

Ditdit Nugeraha Utama
@Göttingen, Germany

Bismillah...
Seperti biasa, untuk bepergian ke kampus atau ke centrum, aku selalu menggunakan bus kota. Semenjak Semesterticket diberlakukan untuk menggratiskan penggunaan bus di kota ini, bus kota yang biasanya sepi penumpang, sekarang relatif terasa penuh, khususnya di jam-jam tertentu.

Hari ini pun aku naik bus dari centrum menuju ke apartemenku. Bus kali ini terasa tidak begitu penuh, walau ada beberapa orang yang memilih untuk berdiri, karena tempat duduk sudah banyak terisi penumpang lainnya. Di sebuah halte bus, di area Markt, ada seseorang tua (kakek-kakek), dengan langkah yang bergetar, tongkat yang menyangga tubuhnya, dan punggung yang sudah bungkuk, berusaha untuk menaiki bus ini. Seperti biasa, bus mencoba untuk membungkukkan badan, dengan miring ke arah kanan, untuk membantu manula atau orang-orang disable lainnya untuk menaiki bus.

Dengan susah payah, si kakek itu berhasil naik bus. Bus tidak mau kompromi, tidak sedikit pun melambatkan lajunya, karena memang tanggung jawab on time untuk sampe halte berikutnya adalah sesuatu yang dijunjung tinggi di negara ini. Si kakek begitu sulit untuk berdiri. Berusaha untuk pegang sana dan pegang sini. Dan, tidak ada satu orang anak muda pun, yang mempersilahkan tempat duduknya untuk diberikan ke si kakek tersebut.

‘Inisiatif orang timur‘ku muncul. Aku berdiri, dan mempersilahkan si kakek untuk duduk. Sitzen Sie bitte, aku mempersilahkan si kakek untuk menduduki tempat dudukku. Lalu, apa yang kakek-kakek itu katakan. Nicht, kein problem, danke schön, das ist deins. Si kakek tidak mau duduk, dia bilang terima kasih dan itu adalah milikku (maksudnya tempat dudukku).

Seperti itulah disini. Tingkat kemandirian orang-orangnya sangat luar biasa. Jangan pernah kita menolong orang yang kita temui – yang sedang kesusahan sekali pun – di jalan, jika memang dia benar-benar tidak memintanya. Kemandirian dan berusaha sekuat tenaga berdiri di atas kakinya sendiri, itulah si kakek yang ‘sok‘ mandiri itu...

Alhamdulillah...

Jumat, 16 Januari 2015

Keteladanan Kecil Bernilai Besar


Ditdit Nugeraha Utama
@Göttingen, Germany

Bismillah...
Hari ini aku jalan untuk melepas penatku ke centrum. Ada sebuah scene menarik yang aku temui. Aku coba share di tulisanku kali ini. Singkat cerita seperti ini. Aku sedang menunggu bus bernomor 41 atau 42 yang langsung menuju apartemenku dari centrum ini. Display layar jadwal bus di halte, bus nomor 42 tertulis berdampingan dengan angka 7. Artinya, bus nomor 42 yang aku tunggu akan datang sekitar 7 menit lagi. Biasanya bus-bus disini datang sangat tepat waktu, kalau pun ada keterlambatan, mungkin hanya 1-2 menit; itu pun – kadang – dikarenakan bus tersebut tidak menyalip sepeda yang sedang orang kayuh, dan bus tersebut harus membuntuti sepeda itu di belakangnya, sampai di halte.

Selagi menunggu, aku melihat ada seorang mahasiswi dengan satu tas di punggungnya dan buku / map di tangan kirinya. Mahasiswi tersebut nampak membawa makanan sejenis roti isi di tangan kanannya. Tepat di halte bus, ia memulai untuk memakan roti yang ia bawa itu. Aku melihat, ia makan dengan cukup kerepotan dan sedikit nampak agak terburu-buru, mungkin karena bus yang akan ia naiki akan segera datang, sehingga ia harus memakan roti, yang – mungkin – adalah makan siangnya, dengan sedikit agak tergesa.

Aku tidak sengaja memperhatikan scene itu. Karena sikap kerepotannya itu, pastilah membuat orang-orang yang ada di sekitarnya, yang sebagian sedang menunggu bus, pun – tanpa diperintah – memperhatikannya. Lahap benar makannya, namun satu dua tiga potongan kecil, bahkan sangat kecil, dari roti yang ia makan jatuh ke trotoar. Tentu tidak nampak dan tidak terlihat, karena potongan roti yang terjatuh itu ukurannya pun sangat kecil dan hanya beberapa saja. Lagian, trotoarnya bukanlah trotoar yang klimis, tidak begitu bersih-bersih amat juga.

Namun, apa yang terjadi. Ia menghabiskan makan siangnya secepat kilat, dan kemudian ia menggunakan tisu roti tersebut untuk memunguti sampah. Ya, memunguti sampah yang diakibatkan karena potongan kecil roti yang ia makan tadi. Subhanallah...

Mungkin untuk sebagian orang, penggalan adegan ini tidaklah ada nilainya sama sekali; namun bagiku sangat luar biasa. Si bule ini, untuk kasus ini, ia mampu menempatkan nilai manusianya dengan sangat tepat. Jangankan membuang sampah, puntung rokok, plastik permen, atau lainnya, dengan sembarangan; potongan roti kecil yang diakibatkan ulahnya – yang tanpa sengaja – itu pun ia pungut kembali, dan membuangnya di tempat sampah yang tersedia. Sebuah penggalan adegan film yang membuat pikirku menerawang jauh ke bumi Indonesia. Hmmm... Apa kabar Indonesia ya?

Tak lama kemudian, bus yang ia tunggu pun datang, dan berlalulah ia. Itulah sepenggal cerita yang aku bisa capture siang hari ini, di centrumnya kota kecil Göttingen ini. Menjadi pelajaran bagi kita semua, itu sudah pasti. Menebar sekecil apa pun kebajikan, haruslah menjadi sebuah keniscayaan atas hadirnya kita di muka bumi ini...

Alhamdulillah...

Minggu, 21 September 2014

Sarapan, Bersyukurlah...

Ditdit Nugeraha Utama
@Dubai, United Arab Emirates

Bismillah...
Bagi sebagian orang, tidak ada yang spesial sama sekali dengan aktivitas yang dinamakan sarapan, sebuah aktivitas yang – wajib – dilakukan sebelum terjun ke aktivitas lainnya. Namun bagi sebagian orang yang lain, sarapan adalah hal yang sangat langka untuk dapat dilakukan. Jangankan untuk sarapan, mungkin untuk makan di saat perut terasa sangat lapar melilit sekali pun, bisa jadi tidak mampu untuk dilakukan; karena sebuah alasan keterbatasan yang memungkinkan ia tidak mampu untuk melakukannya. Maka, apa pun aktivitas itu, sarapan sekali pun, pastinya merupakan berkah yang tidak terkira bagi kita semua.

Sarapan yang biasa aku lakukan merupakan sarapan atas makanan yang cukup berat, namun bisa dikatakan sangat sederhana. Secangkir kopi atau teh atau bisa ditambah dengan air susu, roti atau nasi atau yang lainnya yang mengandung karbohidrat, telor atau jenis lauk pauk lainnya yang mengandung protein, that’s it. Itu pula yang aku lakukan di pagi hari ini. Hanya saja, aku melakukannya ketika aku transit di Dubai International Airport, atas pejalananku dari Jakarta menuju Göttingen.

Killing time aku lakukan, dalam waktu transit selama empat jam ini. Membaca buku Ibn Khaldun, adalah aktivitas yang sangat mengasyikkan. Banyak pelajaran yang didapat, berlimpah ilmu yang dapat diserap; sampai sebuah pemahaman bahwa makna hakikat tidak akan pernah kita dapatkan tanpa analogi. Sebuah ungkapan yang begitu luar biasa, yang hanya dapat diungkapkan oleh seorang yang memang penyerahan dirinya kepada ALLAH merupakan penyerahan diri yang sangat total. Dimana, menuntut ilmu tidaklah diembel-embeli apa pun, selain memang merupakan kewajibannya. Kewajiban mengisi otak kita, sehingga proses berpikir di dalam memutuskan apa pun di dalam berkehidupannya menjadi lebih logis dan benar adanya.

Kembali ke sarapan. Pagi ini aku sarapan dengan meminum segelas – ukuran medium – kopi murni yang aku beli di cafe costa. Karena aku tidak yakin dengan kandungan jenis makanannya, aku tidak memilih makanan lainnya selain kopi, dan itu pun hanya kopi plus air putih, tanpa milk dan tanpa cream. Lalu, aku makan beberapa potong biskuit yang aku bawa dari Indonesia. Cukup sudah. Yang menjadi lebih istimewa adalah bahwa aku melakukan itu semua di salah satu bandara internasional terbesar di dunia, Dubai. Dubai international airport merupakan bandara yang sangat besar, bahkan – mungkin – terbesar di dunia. Bandara ini dibangun di atas area seluas 3.400 hektar, memiliki kapasitas jumlah penumpang lebih dari 60 juta orang plus jumlah pegawai yang lebih dari 50.000 orang, berat kargo yang dapat dioperasikan lebih dari 120 juta ton, dan lebih dari 7.000 jumlah penerbangan yang dioperasikan per minggunya (wikipedia, 2014). Bahkan, konon, kapasitas dan kesibukan bandara ini telah mampu manyalip bandara internasional Heathrow, London. Berjalan-jalan di koridor besarnya – khususnya terminal 3 – yang ditemani berbagai jenis toko besar sepanjang koridor yang dioperasikan 24 jam per harinya, adalah suasana yang cukup mencengangkan.

Aku hanya ingin katakan disini, bahwa bersyukur tanpa henti atas apa yang kita dapat, adalah tindakan bijak dari seorang manusia. Hanya, kita harus juga mengkaji lebih jauh makna syukur itu sendiri. Makna yang tidak boleh disempitkan. Makna yang sebenarnya sangat luas. Syukur hakikatnya adalah mengoptimalkan semua potensi kepemilikan yang kita miliki, yang coba kita berikan untuk menyebarkan kebajikan kepada sebanyak-banyaknya manusia dan alam. Maka, dengan sekilas cerita tentang sarapan ini, bersyukurlah... [dnu]

Alhamdulillah...

Sabtu, 09 Agustus 2014

Andai Aku Tersesat di Stasiun Bojong...

Ditdit Nugeraha Utama
@London, United Kingdom

Ini bukanlah penggalan cerita di dalam salah satu bab novel yang sedang aku tulis. Tetapi mungkin saja akan aku masukkan ke dalam salah satu bagiannya, karena pengalaman nyata ini sungguh menggelikan, lucu, mencekam, dan juga menyeramkan. Pengalamanku menginjakkan kaki di negeri Ratu Elizabeth saja tidak pernah aku impikan sama sekali, apalagi sampai tersesat disana... Hahaha, ya tersesat karena salah naik kereta. Menggelikan bukan? Lalu, menyeramkannya dimana?

Sepulang lawatanku ke dua stadion klub sepakbola ternama yang ada di kota Manchester, sore itu aku harus langsung kembali ke London. Kereta kencang Virgin Trains yang akan membawaku ke London tidak ada yang langsung meluncur menuju kesana, kereta memungkinkan harus transit terlebih dahulu di Birmingham. Disinilah cerita pengalaman langka itu dimulai...

Karena padatnya penumpang yang menggunakan jasa kereta kencang di musim liburan summer ini, kereta menuju Birmingham pun mengalami keterlambatan. Sesampainya di stasiun Birmingham, hari sudah mulai gelap. Kira-kira pukul delapan malam, dimana matahari mulai masuk ke peraduan, dan waktu maghrib musim summer pukul sembilan malam pun akan segera tiba.

Aku – memang – agak tergesa-gesa waktu itu. Tanpa melihat papan informasi keberangkatan kereta, karena aku pikir waktunya sudah terlambat; aku langsung bertanya ke petugas, “kereta menuju ke London ada di platform berapa?“. Petugas hanya menjawab dengan tenang, “sepertinya sudah berangkat, tetapi silahkan anda cek di platform lima“.

Tanpa berpikir lama, aku langsung berlari menuju platform lima dengan menuruni anak tangga berjalan. “Nah itu...“, pikirku. Kereta menuju London masih ada. Aku langsung loncat ke dalam, dan bersamaan dengan itu pula pintu kereta tertutup secara otomatis, dan kereta pun melaju.

Sambil sedikit menghela napas, aku kemudian bertanya ke seorang penumpang lain di dalam kereta, hanya untuk meyakinkan apakah kereta ini benar menuju London. “Apakah benar ini kereta menuju London?”, tanyaku. Suprisingly, dia menjawab dengan singkat dan padat, “no…”. “What!?”. Sekujur tubuhku terasa dingin dan kaku. Aku hanya bisa menatap kosong.

Stasiun yang Mencekam, Tentulah Bukan Stasiun Bojong

“Lalu aku harus bagaimana?”. Dengan santai, orang berparas Timur Tengah itu memberikan saran, “anda bisa turun di stasiun berikut dan menunggu kereta untuk kembali ke stasiun Birmingham“. Ya, itu saran yang paling masuk akal di tengah kepanikan tiada tara. Kepanikan, karena hari sudah mulai malam. Liburan summer memungkinkan kereta kadang berubah rute atau mengalami delay. Selain itu juga, besok aku harus take off dengan menggunakan pesawat pukul enam pagi. Artinya, setidaknya aku harus ada di bandara dua jam sebelumnya. Dan satu hal lagi, ini UK bung, kalau di stasiun Bojong aku masih bisa memberhentikan angkot atau naik ojek dan langsung tancap gas pulang ke Bogor.

Tidak lama kemudian, kereta sampai dan berhenti di stasiun berikutnya. Entah apa nama stasiunnya. Waktu itu benar-benar tidak penting, yang penting aku segera naik kereta ke arah sebaliknya di sisi rel kereta sebelahnya, dan kembali ke stasiun Birmingham.

Aku langsung meloncat keluar kereta, dan… “Ya ALLAH dimana ini?“. Stasiun dengan hanya satu tempat pemberhentian kecil, berada di tengah-tengah hutan belantara, dan benar-benar sepi. “Dimana ini ya ALLAH?“, bibirku benar-benar bergetar. Untuk menunggu kereta ke arah sebaliknya di sisi rel satunya lagi pun, aku harus melalui tangga ke arah luar dan menaik, karena jalan akses yang lebih dekat sudah tertutup; mungkin karena sudah menjelang malam dan sudah tidak ada penumpang, atau – mungkin juga – memang tidak pernah ada penumpang di stasiun ini. Stasiun ini benar-benar sepi, mencekam dan – seperti – tanpa kehidupan.

Aku harus melewati jembatan yang cukup tinggi untuk menyebrang ke sisi rel satunya lagi. Sesampainya di sisi rel sebelahnya, aku melihat layar informasi keberangkatan kereta. Ternyata tidak semua kereta berhenti di stasiun ini, dan ternyata – pula – kereta yang berhenti lewat stasiun ini baru ada 1,5 jam berikutnya.

“Ya ALLAH, apa yang harus aku lakukan? Hapeku pun lowbat, dan aku benar-benar tidak mengenal daerah ini“, aku bergumam dan mengadu kepadaNYA di dalam hati. Aku harus keluar dari stasiun ini, dan mencari orang atau taxi untuk bisa kembali ke stasiun Birmingham sesegera mungkin. Selepas keluar stasiun, masya ALLAH... Benar-benar kota mati. Memang ada beberapa rumah, namun – sepertinya – tidak berpenghuni. Aku mencoba berjalan menelusuri jalan aspal yang masih terlihat baru karena jarang dilewati kendaraan, siapa tahu ada tukang mie rebus atau penjual es kelapa muda di depan. Ah, pikiranku masih saja mengenai stasiun Bojong.

Selagi berjalan, beberapa mobil pribadi lewat, aku mencoba untuk memberhentikannya, tapi sia-sia. Mungkin mereka juga takut untuk memberhentikan mobilnya dan kemudian berkomunikasi dengan orang asing di daerah mencekam seperti ini. Atau juga... Ah gak tahulah...

Udara semakin dingin dan malam semakin pekat. Perutku pun sudah mulai dililit usus dua belas jarinya. Apalagi ukuran ususku lebih panjang dari ukuran usus orang lain pada umumnya, semakin terasa kencang lilitannya di perutku ini. Selagi menunggu jadwal kereta menuju stasiun Birmingham, aku tetap mencoba berjalan, memberhentikan mobil yang lewat, dan mencoba untuk mencari orang untuk bisa diajak berbicara. Tetapi ternyata nihil.

Aku kembali ke stasiun, menuruni tangga jembatan curam. Stasiun ini sungguh terasa sangat mencekam, dan benar-benar tidak ada satu orang pun nampak batang hidungnya. Aku kembali melihat dan membaca layar informasi keberangkatan kereta. Masya ALLAH, delay. Kereta akan tiba pukul setengah sebelas. “Berarti, harus pukul berapa aku sampai di stasiun Birmingham? Lalu, apakah masih ada kereta menuju London?”, aku membatin dan pikiranku menerawang sangat liar.

Di tengah stasiun mencekam, dan benar-benar mencekam. Di tengah kegelapan malam dan dinginnya angin Eropa. Aku hanya bisa pasrah. Dan menunggu kereta, tanpa bisa melakukan apa pun.

Akhirnya, kereta itu pun tiba. Perjalananku masihlah panjang. Aku kembali loncat ke dalam kereta yang membawaku kembali ke stasiun Birmingham. Setidaknya, di stasiun ini masih ada orang, walaupun stasiunnya sudah tutup. Aku bertanya ke seseorang disana, “anda tahu apakah masih ada kereta ke London?”. Dia menjawab, “sudah tidak ada“. Lemas. Aku benar-benar lemas mendengarnya.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?“. Dia menjawab, “kalau kereta langsung menuju London memang sudah tidak ada, tetapi anda bisa menggunakan kereta di platform tujuh, sebentar lagi datang, dan anda bisa berhenti di Banbury atau Oxford. Dari kedua kota itu, khususnya dari kota Oxford, ada banyak kereta menuju ke London“.

Alhamdulillah. Jawaban itu benar-benar melegakanku. Walaupun perjalananku agak menyita waktu lebih lama, setidaknya pengalaman tersesat di negeri Ratu Elizabeth ini pastilah tidak akan pernah aku lupakan. Akhirnya aku menaiki kereta menuju Oxford, dan lanjut menuju kota London. Dan aku berhasil sampai London sekitar pukul dua dini hari. Selanjutnya aku mempersiapkan diri berangkat ke bandara Heathrow, untuk melanjutkan perjalananku ke Jerman melalui Brussels, Belgia. Tentu aku tidak akan merasakan pengalaman seperti ini, andai aku tersesat di stasiun Bojong... [dnu]

Senin, 10 Maret 2014

Semi? Yaaa Jogging...

@Göttingen, Germany

Bismillah...
Sinar matahari yang cerah di hari ini, menggodaku untuk ber-jogging. Hangat sinaran lembutnya, mampu sedikit menghalau dinginnya udara kota Göttingen. Ya, jelas; kembalinya musim semi ini, adalah waktu yang – kembali – tepat untukku berlari, ber-jogging. Mengelilingi kota nan bersahaja ini, menjadi salah satu aktivitas penghalau rasa penat.

Kutelusuri kota dan hutan-hutan kotanya. Kunikmati sinar matahari yang gagah. Kuhirup dalam-dalam udara segar tanpa debu, jernih tak berwarna. Tanpa terasa aku telah menembus  dan masuk ke kota (tepatnya pedesaan) lain dan keluar dari Göttingen. Pemandangan di sekitar, selama aku mengayuhkan kakiku ini, tentu membuatku tidak berhenti untuk berdecak kagum. Aku hanya menggerutu dalam hati; Indonesia, jelas lebih indah dari ini semua, namun ketika kita tidak pandai untuk menjaganya – sebagai implementasi rasa syukur kita kepada ALLAH – hilanglah semua pesona indah tersebut, tertutup kabut kegelapan. Namun mereka, yang mungkin jauh dari kata paham, telah mampu merawat pemberian ALLAH dengan sangat logis dan serius, membuat alamNYA terjaga keberlangsungannya dalam tempo yang sangat lama.

Hutan di Dalam Kota

View Pedesaan dari Kejauhan

Rumah-Rumah Sederhana, Namun Asri

Ya ALLAH, terima kasih atas indah ini semua. Dan, tetap aku lanjutkan kayuhan kakiku untuk terus berlari; walau rasa sakit pada pergelangan kakiku sedikit menggangguku, tapi jelas kuabaikan itu. Semi? Yaaa jogging..


Alhamdulillah...