Rabu, 29 Januari 2014

Inilah Salju...

@ Göttingen, Germany

Bismillah...
Inilah salju, salju kedua yang bisa aku temui di winter keduaku di Göttingen ini. Tentulah tetap mempesona, karena fenomena salju merupakan fenomena langka buat ku; bahkan, semenjak Oktober, semenjak awal waktu memasuki musim winter, si putih ini baru sekaranglah menunjukkan geliat aktivitasnya. Inilah salju, yang membuat dingin menusuk sampai ke tulang rusuk, menggigit kulit ari dan mengeringkan lapis terluar bibir setiap orang yang ada disini. Inilah salju, yang memutihkan warna setiap sudut kota ini, mempertakjub pemandangan setiap orang yang memandangnya. Inilah salju, mencium aromanya, menjadikan rongga dada merasakan kesejukan tiada tara. Inilah salju, si putih nan lembut bagai sutra, si putih yang kadang membuat roda sepeda tergelicir di kala mencair, si putih yang kadang membuat tapak sepatu membunyikan suara renyah di atas injakannya pada salju yang mengering. Inilah salju, putihnya kadang menarikku sangat dalam ke pusaran terawangku, terawang lamunan atas segala hal seputar hakikat keberadaanku di bumi ini. 

Terselimuti Putihnya Salju

Mengugurkan Dedaunannya

Bergaya di Lorong Salju

Inilah salju, untuk mengunjunginya, sengaja aku telusuri taman kota berdanau yang telah membeku di samping apartemenku ini. Inilah salju, sengaja aku kunjungi, dalam rangka aku menjepretkan kameraku, walau hanya satu atau dua kali jepretan pada hamparan putih yang tidak pernah membosankan bola mata untuk menatapnya. Berfoto, difoto, atau sekedar mencoba meluncur di atas papan luncur dan melempar-lempar bola es di hamparan putih luas nan anggun; adalah berbagai aktivitasku di sore nan membeku ini. Beberapa foto berhasil aku bidik dan aku abadikan; sebagai rangkaian usaha menggoreskan cerita kecil mengenai si putih salju ini...

Hitam Putih Terowong Salju

Hitam Putih nan Kering Kerontang

Apartemenku dari Kejauhan

Inilah salju, tetes setiap bulir halusnya semakin aku tak lupa untuk berucap syukur kepadaNYA. Terima kasih ya ALLAH, terima kasih untuk kesekian kalinya; untuk berjuta indah yang ENGKAU hadirkan untukku. Terima kasih. Inilah salju...

Alhamdulillah...

Rabu, 01 Januari 2014

Sendiri, Tetapi Sangat Ku Syukuri

@Göttingen, Germany

Bismillah...
Sendiri, tetapi sangat ku syukuri; itulah waktu yang aku habiskan di malam dan pagi hari tahun baru ini. Tidak ada yang spesial, karena – memang – tahun baru masehi tidak pernah aku anggap spesial. Hanya pergantian hari biasa, tanpa ada makna – nyata – apa-apa di dalamnya. Berbeda dengan tahun baru Hijriah, karena ada sebuah makna besar terkandung di dalamnya. Makna convert dan makna change, menjadi ilham yang sangat  penting untuk kita ejawantahkan di berkehidupan kita; karena perubahan menuju kebenaran dan perbaikan, haruslah dijaga momentumnya di setiap saat pada hela dan hembus nafas kita. Peka hati, buka mata, buka telinga, analisis dan manfaatkan akal untuk mencerna dan memahami, lalu kemudian gerakkan seluruh anggota badan ini dengan sadar untuk berubah, sebagai bukti ketertundukan kita kepada ZAT pemilik jagat ini; merupakan implementasi makna hijrah yang diusung oleh Rasul pada belasan abad yang lampau, yang terkandung pada makna tahun baru hijriah.

Namun tahun baru masehi ini, tidaklah mencerminkan apa-apa selain pesta dan hura-hura. Pesta kembang api, musik hingar-bingar, tertawa terbahak-bahak sambil menenggak minuman haram, bersenda gurau hingga malam berganti serta subuh menjelang; adalah aktivitas yang lumrah dilakukan di malam pergantian tahun baru masehi ini. Padahal, di belahan bumi lain, intimidasi akidah yang sangat luar biasa sedang terjadi. Padahal, di belahan bumi lain, ada segelintir orang yang dibunuh sadis dengan cap teroris tanpa bisa membuktikan apa-apa. Padahal, di belahan bumi lain, masih banyak anak-anak yang perutnya buncit karena busung lapar. Padahal, di belahan bumi lain, sebagian orang bersimbah darah hanya untuk mempertahankan sepetak tanahnya atau harga diri bangsa dan syariah agamanya, yang dirampas oleh sebagian orang terlaknat. Padahal...

Ya ALLAH. Aku hanya bisa mengusap dada. Karena – kadang – lantang teriakku pun tanpa suara sudah; kadang – nyaring ucapku pun tak terdengar sudah; kadang – keberadaanku pun – seperti – tidak membawa manfaat apa-apa sudah. Aku hanya bisa mengelus dada, menghela nafas sangat dalam, serta tersungkur sujud di atas sajadah tafakur, untuk mengakui beribu khilaf, dosa dan alpa yang telah aku perbuat; dengan menatap ke depan, yang hakikinya masih ada ribuan bahkan jutaan aksi yang harus aku perbuat untuk sebanyak-banyaknya kebaikan manusia dan alam; sebagai bukti syukurku. Syukur, karena ALLAH telah menetapkanku seperti ini. Terima kasih ya ALLAH...

Sendiri, tetapi sangat ku syukuri; itulah waktu yang aku habiskan di malam dan pagi hari tahun baru ini.


Alhamdulillah...

Jumat, 27 Desember 2013

Vienna, Cukup! Walau Hanya Empat Hari Tiga Malam

@Vienna, Austria

Bismillah...
Praha di Czech Republic dan Vienna di Austria, adalah dua kota yang berebut hati para pelancong dunia untuk menjadikan dirinya sebagai jantung Eropa. Syukurku tak terkira, bahwa aku telah diberangkatkan oleh ALLAH ke kota Praha pada beberapa bulan yang lalu; pun, syukurku kepada ALLAH terus aku semayamkan tanpa henti, karena – akhirnya – aku – pun – dilabuhkanNYA di kota cantik Vienna, Austria. Empat hari tiga malam aku berada di kota ini, telah cukup untuk menelusuri kota yang penuh dengan bangunan angkuh nan eksotis ini, yang – kadang – membuat decak atas kagum dari para pengunjungnya.

Menyebrang Jalan di Kota 'Mati Suri'

Membidik dan Dibidik Vienna

Aku hadir di kota Vienna ini bertepatan dengan hari-hari perayaan natal. Sehingga, membuat kota menjadi seperti kota mati – suri – saja; jika tidak ingin disebut ‘mati beneran’. Kendaraan dan moda transportasi umum – pun – tidak banyak yang hilir dan mudik. Begitu juga dengan tetokoan, banyak yang mengambil keputusan untuk tutup dan berlibur; kecuali beberapa resto yang setia melayani para pelancong dan turis dari berbagai negara tersebut. Beruntung sekali, masih ada beberapa resto halal yang masih beroperasi; sehingga aku tidak sempat kelaparan seperti yang aku alami di Zurich – Switzerland beberapa waktu lalu.

Terasa Agak Penuh Dekat Westbahnhof

St. Stephen’s Cathedral, Karlskirche, State Opera, Hofburg Palace dan masih banyak – lagi – lainnya; adalah berbagai tempat yang sempat aku kunjungi. Hanya dengan membeli tageskarte (tiket satu hari), aku bebas menelusuri setiap jengkal kota ini dengan menggunakan u-bahn, trem atau hanya sekedar berjalan kaki. Tak lupa juga aku mengunjungi pusat islam (islamic center) sekaligus masjid terbesar di Vienna. Berbincang dengan imam masjidnya, adalah hal yang sangat mengasyikan. Aku menjadi lebih tahu berapa banyak dan seperti apa kehidupan orang islam di negara ini; dan tentunya, oleh-oleh buku islam yang jumlahnya tidak sedikit, telah – berhasil – memenuhi tas koperku.

Lampion Merah di Sekitar Stephen's Cathedral
(Salah Satu Foto sebagai Juara II Kejuaraan Fotografi di Göttingen dengan tema Low Light Photography)

Pesta itu Telah Usai
(Salah Satu Foto sebagai Juara II Kejuaraan Fotografi di Göttingen dengan tema Low Light Photography)

Kegemaran berfotoku pun telah aku salurkan disini. Nuansa dan red view yang menjadi ornamen pelengkap gemerlap natal pun menambah meriah kota Vienna ini. Walau pun pasar natal telah usai, namun atribut-atributnya – tetap – mampu menyambut kedatanganku di kota ini dengan penuh suka dan cita.

Itulah sekelumit kata dari ku mengenai si cantik Vienna. Alhamdulillah dan guratan aksi nyata untuk kebajikan alam dan seisinya, adalah tuntutan berikutnya yang harus aku penuhi; dalam rangka mengoptimalkan rasa syukurku kepada ZAT yang telah menghadirkan ku disini, ALLAH Azza wa Jalla. Terima kasihku ya ALLAH atas semua ini. Terima kasih...


Alhamdulillah...

Kamis, 05 Desember 2013

Loh, Katanya Phobia...

@Göttingen, Germany

Bismillah...
Islamphobia terus dihembuskan oleh kaum yang tidak menginginkan Islam ada sebagai sebuah ideologi; baik ideologi individu, komunitas, apalagi bangsa atau negara. Kaum ini terus menyulutkan kebencian terhadap Islam dengan propaganda negatif akan Islam. Eropa, termasuk kawasan yang sangat terasa kental sekali kephobiaannya terhadap Islam.

Aku tidak akan sebutkan secara eksplisit mengenai berbagai jenis reaksi nyata sikap kephobiaan tersebut. Biarkan saja. Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu dari sisi lain, mengenai apa yang aku alami saja. Di Jerman, beberapa minggu ke depan ini akan – kembali – memasuki musim dingin. Musim dimana suhu udara bisa mencapai lima, sepuluh bahkan lima belas derajat celcius di bawah nol. Sangat dingin menusuk ari. Selain pula berasa malam terus-menerus, itu yang aku rasakan. Waktu gelap matahari – memang – lebih panjang. Bagi yang suka solat qiyamulail, kita – kadang masih – bisa melakukannya pada pukul 06.00, karena – bisa saja – waktu subuh akan masuk di pukul 06.30; itu pun – padahal – setelah waktu Jerman (secara keseluruhan disebut Western European Time Zone) kembali bergeser / berkurang 1 jam dari biasanya (di waktu winter perbedaan waktu Indonesia dengan Jerman menjadi 6 jam, tadinya 5 jam), karena berakhirnya waktu summer (atau istilahnya the end of daylight saving time). Sedangkan waktu maghrib datang lebih cepat, di pukul 16.20 bisa jadi waktu solat maghrib telah tiba.

Efek lain tentunya adalah cara berpakaian. Cara berpakaian ini, untuk kaum yang Islamphobia – pun – digadang-gadang – sehingga harus – menjadi masalah. Maklumlah, mereka ter-setting kepala dan jiwanya, agar membenci Islam dari berbagai aspek; agar Islam sebagai sebuah ideologi benar-benar harus tercabut sampai ke akar rumputnya. Lalu, bagaimana dengan Eropa pada musim dingin ini? Konon hijab – makanya dilarang karena – dianggap sebagai budaya Islam, maka harus tercabutkan. Kok, mereka sekarang berhijab ya? Bahkan telapak tangan pun, salah satu bagian yang boleh nampak pada seorang perempuan, tertutup dengan sangat rapatnya. Jangankan tatapan mata, atau ciuman hidung; kalau bisa udara pun tidak boleh menyentuh pori-pori badannya. Hanya muka saja yang masih nampak. Mereka – tidak hanya perempuan – benar-benar berpakaian syar’i pada winter ini.

Alasan logis? Bahkan hijab – dalam Islam – sebagai penutup aurat perempuan jauh lebih beralasan logis. Islam sangat mengagungkan kaum perempuan, karena perempuan adalah sekolah pertama bagi bangsa dan umat. Ibulah (perempuan) yang disebutkan pertama sampai tiga kali oleh Rasul untuk kita berbakti, sebelum rasul menyebut Bapak (laki-laki). Islam sangat menjaga kaum perempuan, dengan caranya yang sangat sempurna. Islam menjaga perempuan dari berbagai aspek, baik lahir maupun bathin. Bahkan sampai level terdetail sekali pun, yaitu menutup auratnya; dalam rangka menjaga setiap bagian jengkal fisik perempuan tersebut. Untuk hal ini, aku pernah mendengar sebuah percakapan – yang cukup menginspirasiku – pada sebuah film karya Dedi Mizwar, ketika seorang buta berbincang dengan seorang perempuan. Si Buta bertanya kepada perempuan tersebut, ‘Mba kok tidak menggunakan jilbab?’. Si Mba – yang memang tidak berjilbab – tersebut bertanya dalam heran, ‘Loh, dari  mana Bapak tahu bahwa saya tidak berjilbab? Sedang Bapak – maaf – tidak bisa melihat’. Lalu si Buta itu menjawab sambil berlalu, ‘Wangi rambutnya tercium Mba..’.

Itulah Islam. Sempurna, komprehensif dan sangat holistik. Hanya akal kita – kadang – tidak kita gunakan secara optimal untuk menalar, yang memungkinkan – naudzubillah min dzaik – akan terus menggerus kadar keimanannya. Padahal, akallah yang memungkinkan manusia berbeda dengan makhluk ALLAH lainnya. Padahal, akallah yang akan mengangkat kedudukan manusia-manusia beriman beberapa harkat.

Itulah Islam. Bahkan hijab telah ada dalam rencana terstruktur dan indah dari ALLAH. Walaupun alasannya karena musim dingin, tidak mengapa. Karena manusia butuh alasan logis untuk mengambil sebuah keputusan penting. Jadi biarkanlah musim winter ini menjadi alasan logis para penduduk Eropa untuk berhijab, walau dengan cara mereka sendiri. Loh, katanya phobia...


Alhamdulillah...

Bus yang Sopan dan Teratur

@Göttingen, Germany
Related article (klik disini)

Bismillah...
Suasana di Dalam Bus
Orang-orangnya begitu terkontaminasinya dengan minuman keras; karena – mungkin – bir telah menjadi minuman pokok kedua setelah wine; karena – pula – hampir setiap minggunya ada pesta bir di berbagai tempat yang dilegalkan oleh pemerintah setempat. Kebanyakan dari mereka pun telah meninggalkan kehidupan beragamanya, dan beralih menjadi tidak bertuhan, atau dalam bahasa kerenya atheis. Bahkan, sebagian dari mereka memiliki pola pikir tajam dan sangat terstruktur, namun hanya – mentok – sebatas pada kehidupan duniawi saja, tanpa pernah terpikirkan di kepalanya akan skenario akhirat. Namun, disini, di tempat yang masjid pun sulit untuk dijumpai, bus, yang menjadi salah satu moda transportasi dalam kotanya, terlihat sangat sopan dan teramat sangat teratur.

Ya. Sopan dan teratur... Setidaknya, itulah yang ada di relung kepalaku. Kok bisa ya? Padahal, kontaminasi negatif akan kehidupan nan fulgar telah menggerogoti hampir 100% pola kehidupan masyarakatnya. Nalar! Itulah jawabannya. Akal! Itulah jawabannya. Kota ini dibangun di atas pondasi sistem berdasarkan nalar atau akal manusia yang nyata. Aspek-aspek reaksi manusia terhadap manusia lain, lingkungan dan alam; berusaha diimplementasikan – seoptimal mungkin – dengan sangat logis dan masuk akalnya.

Anak-anak Kecil Belajar Baris Masuk ke Bus
Bus yang sopan dan teratur, inilah contoh yang ingin aku gorestintakan pada tulisan blog-ku kali ini. Bus-bus itu akan berhenti, di setiap lampu merah; menyerobot lampu merah adalah sebuah pelanggaran yang sangat luar biasa berat dan memalukan. Bus-bus itu akan menunggu, yaa menunggu; di saat ada penyebrang jalan yang sedang atau akan menyebrang melalui zebra cross di hadapannya; bukan sebaliknya, dimana penyebrang jalan yang harus tengok kanan dan kiri untuk menyebrang jalan; bahkan anak-anak kecil bisa dengan santainya menyebrang jalan dan lepas dari pengawasan orang tuanya, dan dengan penuh hormat bus-bus itu akan menunggu. Bus-bus itu akan mengikuti kayuhan pengendara sepeda di belakangnya, sampai bus tersebut berhenti di halte yang telah ditentukan; tidak lantas menyerobot sepeda tersebut dan menikungnya karena dia harus berhenti di halte. Bus-bus itu akan selalu on time datang dan pergi, sesuai dengan jadwal yang ditentukan, dan sampai ke halte berikutnya dengan sangat presisi waktu. Bus-bus itu memiliki fasilitas khusus untuk para manula dan orang-orang disabilitas; bahkan bus tersebut mampu menunduk (miring) dan mempersilahkan para manula dan orang-orang disabilitas untuk naik dan turun bus tersebut tanpa mengalami kesulitan; termasuk fasilitas tempat duduk bagi para manula dan orang-orang disabilitas tersebut, yang disesuaikan desainnya. Bahkan fasilitas khusus bagi pembawa dorongan bayi dan sepeda di dalam bus pun tersedia lengkap. Bus-bus itu dapat mengatur suhu ruangannya tetap stabil, tidak terpengaruh – sedikit pun – akan suhu musim summer atau winter. Satu hal yang pasti, bus-bus itu teradakan dikarenakan sebuah optimalitas nalar dan akal manusia yang kemudian diimplementasikan di atas sebuah sistem sebagai penjaga kekonsistensian dan keteraturannya.

Logis saja dulu, semua akan terasa nyaman. Logis saja dulu, semua akan terasa elegan. Logis saja dulu, semua akan terasa seimbang dan penuh ketaraturan pada akhirnya. Apalagi, setelah itu semuanya tersandarkan pada kelogisan yang islamis, ya sebuah kondisi logis islamis; dimana islam – diakuisisi – sebagai benteng controlling atas kebenaran pada kelogisan nalar dan akal yang diimplementasikan tersebut; sehingga, kelogisan nalar dan akal tersebut akan bermakna ganda di mata ALLAH pada akhirnya...


Alhamdulillah...

Sabtu, 12 Oktober 2013

Proses Benar nan Sistemik, Itulah Inti Ibadah…


@Göttingen, Germany

Bismillah…
Kadang menyedihkan, namun aku terus mengikuti perkembangannya. Kadang mendatangkan harapan, namun – setelah itu – hanya dalam sekejap mata kembali sirna. Kadang mendatangkan decak kagum, namun kehandalan dan kekuatan sistem kadang dilupakan pada akhirnya. Namun hari ini, aku bisa tersenyum dan menangis haru; akhirnya momen itu datang juga, akhirnya, usaha optimal dengan cara sistemik yang sangat padu menunjukkan buah hasil yang – luar biasa – manis. Adik-adikku, selamat; semoga ini salah satu cahaya kebangkitan itu. Jangan pernah ragu untuk terus bersujud syukur, ketika goal-goal mampu kamu sarangkan ke gawang musuh; siapa pun itu lawannya. Aku tak hadir langsung di hadapanmu, namun gegap gempita pendukungmu di gelora Bung Karno sangat aku rasakan, walau aku berada jauh ribuan kilometer dari arena perang itu.


Aku mengikuti sangat  tim ini; mengikuti para cikal yang masuk ke dalam kesebelasan Indonesia under 19. Sebuah kesebelasan yang memang dipersiapkan secara sempurna pada ukuran logis akan kesempurnaan usaha manusia; dan memang seperti itulah yang seharusnya dilakukan. Sebuah kesebelasan yang digali dari bibit unggul dari semua pelosok anak negeri dengan keriteria dan indikator yang sangat ketat, yang dicanangkan pelatih tanpa ada titipan politis sedikit pun; dan memang seperti itulah yang seharusnya dilakukan. Kecerdasan, visi, postur, skil, kekuatan fisik dan mental, merupakan sebagian parameter yang dapat diukur untuk menciptakan pemain-pemain yang berkaliber militan dan mumpuni; proses pemulihan fisik dan genjotan mental yang dilakukan tim pelatih secara sistemik, berkala dan berkesinambungan, secara konsisten dan istiqomah, lebih hampir dari 5 tahun; menjaga kualitas asupan gizi makanan dan minuman dengan didampingi para pakar yang paham sekali akan ilmunya, dilakukan dengan sangat seksama dan tepat sasaran; adalah serangkaian hal-hal logis yang memang seharusnya dilakukan. Dan pada akhirnya, semua – usaha yang seharusnya dilakukan – itu telah menemani catatan sejarah indah – yang sangat langka – ini. Sejarah indah yang telah menenggelamkan sejarah kelam dan buruk.

Itulah inti perjuangan yang harus digarisbawahi. Bukan hasil dan prestasi yang menjadi orientasi utama yang seharusnya didiskusikan, dibicarakan dan diperdebatkan; tetapi fokus dan hanya fokus serta terus berbenah pada metode dan cara atas segala ‘apa yang harus dilakukan‘ oleh anak-anak Adam. Karena kita hanyalah manusia, yang – sangat – diwajibkan untuk terus berusaha sekuat tenaga dengan akal, jiwa, raga, ilmu, kemampuan dan etos kerja berbasiskan sistem yang tertata kelola dengan sangat apik; dan – lalu – biarkan ALLAH dengan hakNYA memberikan hasil dan prestasi itu kepada kita. Dan, kesebelasan Indonesia under 19 dengan perangkat tim anak-anak muda nan brilian ini, serta seluruh perangkat tim pelatihnya, yang dikemas dalam sebuah sistem nan padu tanpa intervensi orang-orang tak bertanggungjawab; telah mampu menunjukkan itu, menunjukkan sebuah keniscayaan bahwa bersyaratlah untuk berprestasi – bukan berprestasi tanpa usaha dan pemenuhan syarat – harus menjadi orientasi utama semua insan manusia. Penuhilah – saja – semua ‘yang harus dilakukan‘ dengan benar dan sistemik; serta – pada akhirnya di level keikhlasan yang sangat tinggi – biarkanlah ALLAH menentukan hakNYA atas hasil dan prestasi itu. Karena, bersyarat dan mengoptimalkan semua usaha kita secara manusiawi berbasiskan kelogisan, adalah inti dari ibadah itu sendiri.

Selamat Indonesia, semoga ini semua terjaga keistiqomahannya, semoga ini membuka wahana berfikir kita; bahwa melakukan hal seoptimal mungkin untuk berprestasi, akan jauh lebih penting dari prestasi itu sendiri; karena prestasi bukanlah urusan kita (it’s not our business); prestasi hanyalah hak ALLAH yang akan diberikan kepada setiap kita yang DIA inginkan. Karena – pula, ketika proses dan segala hal yang dilakukan telah menjadi orientasi utamanya; tidak akan pernah ada pengagungan yang berlebih atas prestasi yang digapai, dan tidak akan pernah – pula – ada hujatan yang menyayat hati ketika kegagalan tidak berhasil direngkuh…

Alhamdulillah…

Rabu, 02 Oktober 2013

Berlin, Jepret... Jepret...


@Berlin, Germany

Bismillah…
Saat ini aku hanya ingin berbagi hasil jepretanku selama aku di Berlin. Ini kali kedua aku berada di kota yang ber-image seram – namun tidak seram lagi – ini. Aku menghabiskan kurang lebih sembilan jam di kota ini. Hanya untuk melihat-lihat dan mengabadikan beberapa momen dan sudut kotanya dengan menggunakan kamera DSLR ku; dimana, aku memulai aktivitasku dengan mengunjungi tempat makanan halal di sekitar kawasan Turmstraße, dan menyantap makanan bermenu ayam gorang nan renyah. Kebetulan, di saat aku berkunjung, di Berlin sedang ada perlombaan marathon dan sepatu roda; sehingga beberapa jalur bus dan metro (atau U bahn) sempat dialihkan, sehingga – pula – aku harus menyusuri beberapa tempat dengan berjalan kaki. Aku pun berhasil mengabadikan momen perlombaan bersepatu roda tersebut dengan menggunakan teknik blurring dan panning; sebuah teknik freeze objek berjalan, dimana background lain akan menjadi blur dibuatnya. Begitu juga dengan gerbang Brandenburg – yang terletak di antara Pariser Platz dan Platz des 18 März atau di sekitaran persimpangan Unter den Linden dan Ebertstraße – berhasil aku jepret gambarnya. Selain itu, Aku pun tidak luput mengabadikan beberapa gambar gedung yang ada di Potsdamer Platz, sebuah kawasan atau lapangan kota di tengah kota Berlin; dan juga gedung parlemen Reichstag, sebuah gedung bertuliskan Dem Deutschen Volke (Indonesia: Kepada Rakyat Jerman).

Brandenburger Tor
Mendung di atas Brandenburger Tor
Gedung Parlemen Reichstag
Potsdamer Platz
Sang Juara Blurring - Panning
Lagi, lagi dan lagi. Sebuah perjalanan mengasyikkan yang tidak pernah terbayangkan di alam pikirku ini. Sebuah perjalanan penuh hikmah. Sebuah perjalanan yang hanya bisa dibalas dengan syukur yang sangat. Bukan hanya syukur di ucap, namun pula syukur pada etos tindak harian kita. Terima kasih ya ALLAH atas semua indah ini…

Alhamdulillah…