@Göttingen, Germany
Bismillah...
Lepas - sejenak - dari - ketatnya - pekerjaan dan studiku, membuat tubuh ini menjadi rilex, dan sedikit - agak - longgar urat syarafnya. Mungkin butuh sedikit cerita santai untuk - coba - aku tuangkan. Aku - pun - mencoba memberi judul tulisanku ini dengan - cukup - sederhana, yaitu "Makan Yuk... Hmmm Yummy..", agar terbaca lebih ceria, terdengar lebih santai dan terasa lebih lapaaarrr...
Sampai dengan berita - penting - ini berhasil diliput dan naik cetak, aku masih dalam kebingungan yang teramat - sangat, untuk memutuskan jenis makanan apa yang akan aku santap malam ini. Ada tiga jenis makanan yang harus aku pilih - sebagai teman makan malamku. Pertama, buah-buahan - baik pisang, apel atau tomat; makanan yang kadang aku gunakan untuk ganjel perut. Kedua, tidak kalah dahsyatnya - menurut orang yang sedang kelaperan - yaitu mie rebus; mie dengan merk dagang yang sangat terkenal di Indonesia itu, yang tidak pernah aku sentuh selama aku berada di Indonesia; tapi disini menjadi makanan - hampir - pokokku. Atau yang ketiga, sama menggiurkannya - masih - menurut orang yang sangat kelaparan, yaitu nasi plus daging - dimasak basah - sisa makan siang tadi; yang kalau dipanaskan, aroma bau kecapnya sangat mencuri perhatian hidungku. Hmmmm... Apa ya? Okelah, mungkin sambil aku menunggu ide turun dari langit - ketujuh, aku - ingin - mencoba - kembali - untuk mencurahkan cerita - sedikit konyol - lewat blogku ini.
 |
Donner Box |
Berbicara tentang makanan, yang aku alami disini, telah menjadi permasalahan yang sangat pelik yang - harus - aku hadapi, dan - tentunya - harus aku selesaikan. Bayangkan, tidak mau - membayangkan - juga tidak apa-apa, cuaca yang - kadang - ekstrim dingin, membuat perut ini - pun kadang - tidak bisa diajak kompromi. Melilit, berbunyi, meraung, menjerit, mungkin menangis; menjadi aktivitas - harian - perutku ini. Padahal, untuk mendapatkan makanan - yang halal atau sedikit dianggap halal - disini, bukanlah merupakan perkara - yang sangat - mudah. Selama aku - tinggal - disini, hanya ada dua rumah makan halal yang - berhasil - aku temui dan kunjungi; itu pun - untuk mencapainya - harus aku kayuh - sepeda kumbangku - hampir lebih dari 2,5 km perjalanan menuju centrum atau pusat kota; suatu hal yang - mungkin - tidak masuk akal, jika ingin segera mendapatkannya di kala perut melilit kelaparan.
Kedua rumah makan tersebut, orang biasa menyebutnya - dengan - rumah makan Turki. Menunya - sih - sangat variatif; kebab, donner, kentang goreng atau pizza; namun - sayangnya, dan jangan pernah terlintas di kepalaku, jika aku tidak ingin tersiksa - menu disana bukanlah seperti nasi padang - apalagi nasi padang Ciputat Raya; bukan - pula - pecel lele; atau sop iga - dengan aroma kaldu daging dan merica yang - bisa jadi - mampu menggoyang - kekuatan - keimanan. Walaupun nampak menggiurkan, makanan tersebut berasa - sangat - datar; tidak seperti di Indonesia yang syarat bumbu, atau malah - mungkin - kelebihan penyedap, padahal - mungkin - gak enak-enak juga.
Donner box - sebuah menu berisi irisan daging panggang khas Turki plus goreng kentang - dan pizza - yang berasa sangat plain - menjadi dua menu favoritku - pada akhirnya. Harganya pun - maksud aku - cukup menguras isi kantong. Satu kotak donner box - kecil - berharga 2.5 euro, padahal kadang masih berasa kurang kalau aku membeli - hanya - satu box; sedangkan pizza - yang cukup untuk dua kali santap - berharga 6.5 euro. Tidak usah dikonversi ke mata uang rupiah, karena bisa jadi - malah - membuat perut ini semakin melilit. Biarkan saja dalam nilai mata uang euro, supaya nampak - terasa - murah.
 |
Komunitas Islam Al-Iman |
Atau - syukurnya - sekitar 1 km dari wohnung-ku, tempat tinggalku; ada satu toko klontong Turki - lagi - bernama toko Al-Iman. Di toko itu, dijual berbagai jenis - yang seluruhnya - makanan halal; baik makanan jadi maupun - bahan masakan - mentah. Daging sapi yang aku masak tadi siang - yang sekarang menjadi dilema salah satu jenis alternatif keputusanku, untuk aku santap atau tidak; daging ayam; berbagai jenis masakan mentah siap goreng, dan bermacam makanan kaleng beserta sayuran dan buah-buahan; adalah jenis makanan dan bahan masakan yang dijual di toko - berukuran 5 x 25 meter - tersebut. Bahkan, ada beberapa merk produk yang sangat familiar dengan telinga dan mata kita; seperti mie rebus dan mie goreng, serta beberapa jenis bumbu masakan; adalah jenis makanan atau bahan masakan asli - khas - Indonesia yang - juga - dijual di toko ini. Toko Al-Iman - menurut aku - sangat berguna, karena aku - sangat merasa - tidak ragu lagi untuk membeli berbagai bahan makanan jadi - atau mentah - di toko - yang penjaganya bisa berbagai jenis bahasa; seperti Arab, Turki, Inggris, dan tentunya Jerman - ini.
Pun, di samping toko ini ada masjid - yang menyerupai bangunan toko ukuran 10 x 20 meter - yang bernama - pun - Al-Iman; masjid - tanpa kubah - yang menjadi masjid langgananku untuk menunaikan ibadah solat Jum'atku. Kalau aku - coba - hitung, kurang lebih sekitar 100 s/d 150 orang - setiap Jum'atnya - hadir menunaikan solat Jum'at di tempat ini; dan cukup - untuk - membuat masjid Al-Iman - yang sangat sederhana ini - berdesakan. Mungkin fenomena tempat ibadah ini akan aku bahas - lebih detail lagi - di waktu-waktu yang akan datang, Insya ALLAH.
Cukup sudah celoteh sederhanaku hari ini. Mudah-mudahan - tetap - ada manfaatnya. Dan juga - pada akhirnya - aku sudah memutuskan jenis makanan apa yang akan aku santap malam ini; maklum perut ini ternyata semakin nyaring saja suaranya. Dari jenis makanan yang jadi - dilema - pilihanku tadi; buah-buahan, mie rebus, atau nasi plus daging masak basah; akhirnya aku memilih... Hmmmmm... Yaa yaa, aku - dengan sangat berat hati, pada akhirnya - memilih mie rebuuuus, yang aku makan - bersama - nasi plus daging masak basah.. Oh iya, aku sampai lupa, buahnya pun sudah bersih aku makan, sembari aku mengetik cerita di blog ini. Tschüss...
Alhamdulillah....