Sabtu, 12 Oktober 2013

Proses Benar nan Sistemik, Itulah Inti Ibadah…


@Göttingen, Germany

Bismillah…
Kadang menyedihkan, namun aku terus mengikuti perkembangannya. Kadang mendatangkan harapan, namun – setelah itu – hanya dalam sekejap mata kembali sirna. Kadang mendatangkan decak kagum, namun kehandalan dan kekuatan sistem kadang dilupakan pada akhirnya. Namun hari ini, aku bisa tersenyum dan menangis haru; akhirnya momen itu datang juga, akhirnya, usaha optimal dengan cara sistemik yang sangat padu menunjukkan buah hasil yang – luar biasa – manis. Adik-adikku, selamat; semoga ini salah satu cahaya kebangkitan itu. Jangan pernah ragu untuk terus bersujud syukur, ketika goal-goal mampu kamu sarangkan ke gawang musuh; siapa pun itu lawannya. Aku tak hadir langsung di hadapanmu, namun gegap gempita pendukungmu di gelora Bung Karno sangat aku rasakan, walau aku berada jauh ribuan kilometer dari arena perang itu.


Aku mengikuti – sangat –  tim ini; mengikuti para cikal yang masuk ke dalam kesebelasan Indonesia under 19. Sebuah kesebelasan yang memang dipersiapkan secara sempurna pada ukuran logis akan kesempurnaan usaha manusia; dan memang seperti itulah yang seharusnya dilakukan. Sebuah kesebelasan yang digali dari bibit unggul dari semua pelosok anak negeri dengan keriteria dan indikator yang sangat ketat, yang dicanangkan pelatih tanpa ada titipan politis sedikit pun; dan memang seperti itulah yang seharusnya dilakukan. Kecerdasan, visi, postur, skil, kekuatan fisik dan mental, merupakan sebagian parameter yang dapat diukur untuk menciptakan pemain-pemain yang berkaliber militan dan mumpuni; proses pemulihan fisik dan genjotan mental yang dilakukan tim pelatih secara sistemik, berkala dan berkesinambungan, secara konsisten dan istiqomah, lebih hampir dari 5 tahun; menjaga kualitas asupan gizi makanan dan minuman dengan didampingi para pakar yang paham sekali akan ilmunya, dilakukan dengan sangat seksama dan tepat sasaran; adalah serangkaian hal-hal logis yang memang seharusnya dilakukan. Dan pada akhirnya, semua – usaha yang seharusnya dilakukan – itu telah menemani catatan sejarah indah – yang sangat langka – ini. Sejarah indah yang telah menenggelamkan sejarah kelam dan buruk.

Itulah inti perjuangan yang harus digarisbawahi. Bukan hasil dan prestasi yang menjadi orientasi utama yang seharusnya didiskusikan, dibicarakan dan diperdebatkan; tetapi fokus dan hanya fokus serta terus berbenah pada metode dan cara atas segala ‘apa yang harus dilakukan‘ oleh anak-anak Adam. Karena kita hanyalah manusia, yang – sangat – diwajibkan untuk terus berusaha sekuat tenaga dengan akal, jiwa, raga, ilmu, kemampuan dan etos kerja berbasiskan sistem yang tertata kelola dengan sangat apik; dan – lalu – biarkan ALLAH dengan hakNYA memberikan hasil dan prestasi itu kepada kita. Dan, kesebelasan Indonesia under 19 dengan perangkat tim anak-anak muda nan brilian ini, serta seluruh perangkat tim pelatihnya, yang dikemas dalam sebuah sistem nan padu tanpa intervensi orang-orang tak bertanggungjawab; telah mampu menunjukkan itu, menunjukkan sebuah keniscayaan bahwa bersyaratlah untuk berprestasi – bukan berprestasi tanpa usaha dan pemenuhan syarat – harus menjadi orientasi utama semua insan manusia. Penuhilah – saja – semua ‘yang harus dilakukan‘ dengan benar dan sistemik; serta – pada akhirnya di level keikhlasan yang sangat tinggi – biarkanlah ALLAH menentukan hakNYA atas hasil dan prestasi itu. Karena, bersyarat dan mengoptimalkan semua usaha kita secara manusiawi berbasiskan kelogisan, adalah inti dari ibadah itu sendiri.

Selamat Indonesia, semoga ini semua terjaga keistiqomahannya, semoga ini membuka wahana berfikir kita; bahwa melakukan hal seoptimal mungkin untuk berprestasi, akan jauh lebih penting dari prestasi itu sendiri; karena prestasi bukanlah urusan kita (it’s not our business); prestasi hanyalah hak ALLAH yang akan diberikan kepada setiap kita yang DIA inginkan. Karena – pula, ketika proses dan segala hal yang dilakukan telah menjadi orientasi utamanya; tidak akan pernah ada pengagungan yang berlebih atas prestasi yang digapai, dan tidak akan pernah – pula – ada hujatan yang menyayat hati ketika kegagalan tidak berhasil direngkuh…

Alhamdulillah…

Rabu, 02 Oktober 2013

Berlin, Jepret... Jepret...


@Berlin, Germany

Bismillah…
Saat ini aku hanya ingin berbagi hasil jepretanku selama aku di Berlin. Ini kali kedua aku berada di kota yang ber-image seram – namun tidak seram lagi – ini. Aku menghabiskan kurang lebih sembilan jam di kota ini. Hanya untuk melihat-lihat dan mengabadikan beberapa momen dan sudut kotanya dengan menggunakan kamera DSLR ku; dimana, aku memulai aktivitasku dengan mengunjungi tempat makanan halal di sekitar kawasan Turmstraße, dan menyantap makanan bermenu ayam gorang nan renyah. Kebetulan, di saat aku berkunjung, di Berlin sedang ada perlombaan marathon dan sepatu roda; sehingga beberapa jalur bus dan metro (atau U bahn) sempat dialihkan, sehingga – pula – aku harus menyusuri beberapa tempat dengan berjalan kaki. Aku pun berhasil mengabadikan momen perlombaan bersepatu roda tersebut dengan menggunakan teknik blurring dan panning; sebuah teknik freeze objek berjalan, dimana background lain akan menjadi blur dibuatnya. Begitu juga dengan gerbang Brandenburg – yang terletak di antara Pariser Platz dan Platz des 18 März atau di sekitaran persimpangan Unter den Linden dan Ebertstraße – berhasil aku jepret gambarnya. Selain itu, Aku pun tidak luput mengabadikan beberapa gambar gedung yang ada di Potsdamer Platz, sebuah kawasan atau lapangan kota di tengah kota Berlin; dan juga gedung parlemen Reichstag, sebuah gedung bertuliskan Dem Deutschen Volke (Indonesia: Kepada Rakyat Jerman).

Brandenburger Tor
Mendung di atas Brandenburger Tor
Gedung Parlemen Reichstag
Potsdamer Platz
Sang Juara Blurring - Panning
Lagi, lagi dan lagi. Sebuah perjalanan mengasyikkan yang tidak pernah terbayangkan di alam pikirku ini. Sebuah perjalanan penuh hikmah. Sebuah perjalanan yang hanya bisa dibalas dengan syukur yang sangat. Bukan hanya syukur di ucap, namun pula syukur pada etos tindak harian kita. Terima kasih ya ALLAH atas semua indah ini…

Alhamdulillah…


Selasa, 01 Oktober 2013

Grenzlandmuseum, Museum Tapal Batas Jerman


@Duderstadt, Germany

Bismillah…

Cerita tentang Jerman Barat dan Timur – dengan cukup gamblangnya – terjawab sudah pada akhirnya; setelah aku mengunjungi museum Grenzlandmuseum di daerah Duderstadt, Jerman; sebuah kota bernuansa tua pada jarak sekitar 30 kilometer arah timur dari kota Göttingen. Awalnya, aku mengira bahwa Brandenburger Tor (Gerbang Brandenburg) yang berada di Berlin adalah simbol atau gerbang tapal batas antara Jerman Barat dan Timur; secara de jure betul, bahwa sisi barat tembok berlin adalah termasuk otoritas Jerman Barat dan sisi timurnya adalah masuk otoritas Jerman Timur, dimana tujuan pendirian tembok Berlin itu sendiri untuk memisahkan bagian Jerman yang dikontrol oleh Soviet dan oleh negara-negara barat; namun, secara de facto, sebenarnya seluruh kota Berlin itu sendiri berada di wilayah Jerman Timur, yang secara teknis termasuk daerah okupasi Soviet. Jerman itu sendiri sebelumnya terkoyak wilayahnya menjadi empat bagian okupasi; yaitu wilayah okupasi Soviet, Amerika Serikat, Inggris dan Perancis (1945 – 1948); sedangkan pemisahan Jerman Barat dan Timur itu berlaku mulai tahun 1949; dan kembali melebur menjadi Jerman pada tahun 1990. Meleburnya dua kubu Jerman ini, ditandai dengan dibukanya kembali Gerbang Brandenburg oleh Helmut Kohl, Kanselir Jeman Barat pada waktu itu (tepatnya pada tanggal 22 Desember 1989).

Si Kota Tua Penuh Pesona
Sendiri di Kota Tua

Berjalan-jalan ke Museum Grenzlandmuseum dan kota Tua Duderstadt, membuat hasrat mengabadikan lewat kamera DSLR ku membuncah. Akhirnya aku berhasil mengelilingi pojok-pojok kota Duderstadt ini, dan berhasil membidik beberapa bagian kota tua ini.

Sekali lagi. Segala pujiku hanyalah untuk ALLAH semata, Tuhan segenap bumi dan langit serta segala yang ada di antaranya; atas seluruh nikmat yang berlimpah ini.

Alhamdulillah…

Kamis, 26 September 2013

Si Tua Berhati Islami...


@Prague, Czech Republic

Bismillah…
“Pada suatu ketika, seekor anjing mengelilingi sebuah sumur. hampir-hampir anjing itu mati kehausan. Tiba-tiba seorang wanita pelacur bangsa bani Israil melihatnya. Maka dilepaslah sepatunya, kemudian diambilkannya air dengan sepatunya, lalu anjing yang hampir mati itu diberinya minum. Maka ALLAH SWT mengampuninya dengan sebab itu” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Selepas aku dari pusat kota, hanya untuk sekedar melepas penat dan makan malam; seperti biasa aku harus kembali ke domitori kampusku dengan menggunakan metro (kereta bawah tanah) dan dilanjutkan dengan menggunakan bis. Metro yang harus aku naiki, harus melintasi setidaknya lima stasiun (dari stasiun Muzeum menuju Dajvická); beberapa jenis stasiun metro yang selalu aku lewati selama aku berada di kota Praha ini. Tidak ada yang aneh sebenarnya, pun tidak ada yang spesial yang bisa aku lihat; umumnya bernuansa dan bercita rasa biasa saja. Hanya saja, selama aku berdiri di atas metro ini, karena sesaknya penumpang yang baru pulang bekerja dan kuliah; aku memperhatikan seorang tua dengan seekor anjing yang dia gendong di pangkuannya. Anjing itu terdiam di pangkuan orang tua tersebut pada sebuah tempat – seperti tas – terbuat dari kain, dan sesekali si orang tua tersebut  mengelus-elus anjing tersebut dengan penuh kasih sayang. Anjing ini hanya berusaha untuk menjulur-julurkan lidahnya sambil menengok kiri dan kanan.

Perhatianku tertuju pada pemandangan itu – cukup – lama sekali. Satu hal sedang aku bayangkan; tentu, bukan anjingnya yang aku jadikan tema besar di ceritaku kali ini; namun, sebuah ketulusan seorang tua, yang mau dan mampu merawat seekor ‘anjing buta’. Ya, seekor anjing buta. Entah alasan apa yang ada di hatinya, sehingga dia mau merawat anjing tersebut; bahkan untuk berjalan saja, dia sedikit bersusah payah karena ujurnya. Karena alasan lucunya? Aku – sama sekali – tidak melihat sedikit pun kelucuan dari anjing yang seperti panik, menjulurkan lidahnya tanpa henti dan selalu menengok kanan dan kiri tersebut; dengan mata yang semuanya tampak putih dan menyeramkan, seperti  penampakkan monster di film-film fiksi penuh kebohongan itu. Atau untuk menjaga dirinya? Sepertinya agak tidak masuk akal dan berlebihan, seekor anjing buta mampu menjaga diri si pemiliknya; yang ada, pemiliknya hanyalah disibukkan dengan merawat si anjing itu.

Sekali lagi, bukan anjingnya yang menjadi perhatian lamaku, sehingga aku lupa bahwa stasiun Dajvická yang menjadi final destination station ku telah berhasil metro – yang aku naiki – ini gapai; karena anjing menurutku tetap saja merupakan binatang yang mengeluarkan zat air liur yang bernajis. Namun, apa yang terjadi dengan anjing itu? Jika saja dia ada di luaran sana tanpa dilindungi dan dirawat oleh sang pemilik berhati mulia tersebut. Mungkin anjing itu sudah tidak mampu untuk bertahan hidup.

Sebuah kisah kecil nan sederhana, yang ALLAH perlihatkan untukku. Sebuah kisah kecil namun mampu menarik perhatianku selama aku berada di atas metro. Seorang tua dengan kelembutan hati islami. Sebuah pertunjukkan film berdurasi pendek pada kehidupan nyata ini, yang mampu aku nikmati disini. Di sebuah kota dan negara, yang terasa cukup keras; di sebuah kota dan negara yang pengemudi bisnya lebih kasar di dalam mengendarai bisnya jika dibandingkan pengemudi bis di negara-negara asia timur sana; di sebuah kota dan negara yang konon para penduduknya merupakan pengkonsumsi alkohol terbanyak di dunia.

Adab berkehidupan yang mampu mempertegas untuk berlaku baik dan kasih serta sayang pada semua. Terlebih kepada manusia lain, dengan makhluk lain dan alam ini saja islam mengajarkan untuk menjadi rahmat, bukan perusak dan penjilat. Ya ALLAH, beri kesempatan kami untuk menjadi terbaik bagi sebanyak-banyaknya manusia lain dan alam ini…

Alhamdulillah…

Minggu, 22 September 2013

144 Jam di Praha

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Prague, Czech Republic

Bismillah…
Seratus empat puluh empat jam aku berada di kota ini. Praha (English: Prague), itu namanya. Sebuah kota terbesar di negara bertitel Republik Ceko (English: Czech Republic). Sebuah kota yang – sekuat tanaga mencoba untuk – berebut image sebagai jantung Eropa bersaing ketat dengan kota Vienna, Austria. Bangunan-bangunan klasik ala Eropa Timur – bargaya arsitektur Barok dan Ghotic – sudah mulai terasa di kota Praha ini, walau letak negara ini masuk di kawasan Eropa Tengah pada letak georgrafis bumi. Cuaca di kota yang terkenal dengan Charles Bridge (Czech: Karluvmost) nya ini, yaitu sebuah jembatan yang membelah sungai Vltava (German: Moldau), ketika aku kunjungi, sangat cukup bersahabat. Walau suhu berada pada kisaran 7 – 12 derajat celcius yang membuat terasa cukup sejuk di kulit ari, namun matahari tetaplah bersinar cukup terangnya; dan kadang rintik hujan nan lembut menemaniku untuk berjalan menelusuri jalan-jalan dan lorong-lorong sempit kota ini.

Purnama di Charles Bridge

Old Town Square, tentu, tempat ini tidak aku lewatkan untuk aku kunjungi di Praha ini. Sebuah area pasar – yang konon – sudah ada semenjak awal abad ke sebelas masehi ini; sebuah area pusat kota Praha yang dikelilingi berbagai jenis bangunan tua ini; sangatlah dipadati turis setiap harinya. Berbagai jenis bangunan indah yang ada di sekeliling arena kota tua ini di antaranya adalah Old Town Hall dengan jam Astronomisnya yang berukuran besar, Tyn Church yang bergaya Ghotic Architecture, termasuk Jan Hus Memorial sebagai sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang reformer religius Ceko.

Old Town Hall dan Tyn Church di Old Town Square
Bangunan-bangunan lain yang berhasil aku kunjungi di kota ini adalah Klementinum National Library dan National Museum. Khusus untuk Perpustakaan Klementinum, perpustakaan ini merupakan jenis perpustakaan yang didirikan pada pertengahan abad 17 dengan Hall bergaya arsitektur Barok (Baroque), dan pernah dijadikan sebagai perpusatakaan nasional dengan koleksi buku lebih dari 6 juta buku. Sayang berpuluh kali sayang, aku tidak diperbolehkan untuk mengabadikan foto perpustakaan ini. Namun, untuk sedikit menghiburku, aku diperbolehkan untuk naik ke menara astronomi (Astronomical Tower), sebuah menara astronomi yang memiliki tinggi 52 meter dengan 172 buah anak tangganya berbentuk spiral; dan – tentunya – aku diperbolehkan untuk membidik beberapa foto kota Praha dari atas puncak menaranya.

Gaya Jepretan Miring National Museum

Praha merupakan kota terbesar sekaligus sebagai Ibukota negara Republik Ceko, sebuah negara di area Eropa Tengah yang pada tahun 1993 resmi berpisah dari Republik Slovakia (tadinya bernama Cekoslovakia). Berjalan-jalan mengelilingi kota ini, sebenarnya diselimuti sedikit perasaan was-was; karena Ceko, termasuk kota Praha-nya, konon merupakan salah negara dan kota yang masyakaratnya merupakan masyarakat pengkonsumsi alkohol tertinggi di dunia. Aroma dan semerbak khas bau alkohol, kadang tercium hidung ini dengan sangat jelas dan kuatnya, baik di saat aku menaiki bus, trem atau metro bawah tanah; tiga jenis kendaraan yang merupakan jenis moda transportasi yang bisa aku gunakan untuk hilir mudik di pusat kota Praha ini.

Menjelang Maghrib di Praha

Untuk makanan halal, estimasiku tentang sulitnya aku menemukan makanan halal ini sedikit meleset. Di pusat kota, tepatnya berdekatan dengan daerah National Museum Ceko, tidak kurang lebih dari tiga atau empat resto halal bergaya Turki berhasil aku temui. Di resto tersebut aku bisa memilih berbagai jenis menu makanan dengan menu nasi sebagai menu utamanya; gulai kambing, gulai ayam, sop iga dan masih banyak lainnya, adalah jenis menu yang bisa aku lahap, dan – setidaknya – dapat me-recharge serta menambah tenagaku untuk aku gunakan berkeliling kota dengan berjalan kaki.

Sebuah perjalanan yang tidak pernah terbayang akal dan terniatkan hati sebelumnya olehku. Hanya dengan kuasa dan karuniaNYA, kuasa dan karunia ALLAH Azza wa Jalla, aku bisa dihadirkan di kota tua penuh warna nan indah ini; kota yang berhasil aku telusuri dan jajaki selama 144 jam ini. Terima kasih ya ALLAH atas semua indah ini…

Alhamdulillah…

Minggu, 18 Agustus 2013

Berburu Lebah


@Nord Uni, Göttingen, Germany

Bismillah…
"Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)‘. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat menyembuhkan bagi manusia. Sesungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran  ALLAH) bagi orang yang berpikir" [QS. An-Nahl [16]: 68 – 69]

Lebah Hitam Putih (Utama, 2013)

Satu hal pasti yang kadang tidak bisa aku abaikan di kota nan tertata rapi ini adalah berburu foto. Di Göttingen terdapat beberapa taman kota dengan berbagai macam spesies tanaman berbunganya. Tanah yang tidak terlalu subur dan cuaca yang – kadang – sangat ekstrim, membuat para penduduk kotanya – dengan sangat sadar – berusaha secara optimal, untuk merawat taman-taman kota tersebut. Faktanya, kondisi ini lebih baik hasilnya; jika dibandingkan dengan sesuatu yang given, dimana ALLAH telah memberikan tanah nan subur serta cuaca yang sangat mendukung, namun tidak ada usaha optimal dari para manusia-manusia penghuni kotanya. Sehingga kota menjadi gersang dan semakin gersang karena ulah bodoh para manusia-manusianya, ironis...

Lebah Terbang (Utama, 2013)

Yang Buram Yang Berdua (Utama, 2013)

Aku putuskan untuk pergi ke taman kampus utara ‘Nord Uni‘. Terdapat berbagai spesies tanaman bunga disana. Sayangnya musim summer akan segera selesai, sehingga tanaman berbunga mulai sedikit menghilang. Di negara empat musim seperti Jerman ini, musim spring merupakan musim pohon-pohon mulai kembali memunculkan tunas-tunas mudanya; dan bunga-bunga mulai bergeliat untuk tumbuh. Dan mereka kembali menggugurkan daun dan bunga-bunganya, jika musim summer pergi.

Hinggap di Ujung Bunga (Utama, 2013)
Empat Bunga Kuning (Utama, 2013)

Dengan kemahiran berfotoku yang sangat sederhana, jika tidak ingin disebut sangat amatir, aku mencoba untuk membidik beratus-ratus kali foto tentang lebah. Lebah-lebah yang dengan sangat bersukacitanya terbang hilir mudik dari bunga satu ke bunga yang lainnya, dari tangkai satu ke tangkai yang lainnya, tanpa mematahkan setiap yang dipijaknya; selalu memakan makanan yang baik dan menghasilkan semua – hal – yang manis pula; dan tidak akan pernah mengganggu jika memang tidak terganggu; itulah lebah. Maka, mari kita menjadi lebah-lebah islami itu; mari kita ‘berburu lebah‘.

Alhamdulillah…

Kamis, 08 Agustus 2013

Memang Seharusnya – Memaknai Saum dan Lebaran dengan Sangat Sederhana

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Göttingen, Germany
Originally shared on Kalam - Göttingen (klik disini)

Bismillah…
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa; sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa“ (QS. Al-Baqarah[2]: 183).

Ada makna yang luar biasa di balik perayaan lebaran kali ini. Perayaan tanpa makanan berlebih, tanpa kebersamaan – keluarga – yang hangat, dan tanpa macet. ALLAH menakdirkanku untuk menjalankan saum dan lebaran di Jerman. Sebuah kondisi yang tidak pernah tersiratkan sama sekali di otak tumpulku ini. Empatiku menjadi lebih berasa – atau minimal berusaha untuk semakin berasa; karena pemaknaan hari raya dan lebaran yang ku lewati hari ini, aku jalankan dengan sangat sederhana.

Ada jutaan orang yang mengalami hal yang lebih sederhana dari yang aku lewati. Bahkan, mereka menghadapi dan menjalankan lebaran tanpa makanan sama sekali, mungkin tanpa sapa dan peluk hangat sama sekali; dan hebatnya, kondisi seperti ini berjalan berkali-kali dan berlangsung setiap tahunnya. Semakin terasa hebat pula (baca: miris) ketika kita – khususnya aku – malah berbahagia dalam merayakan dan menyambut lebaran dengan bergunung kenikmatan dan kebahagiaan, di tengah-tengah berjuta orang yang entah kapan mereka akan menemukan makanan hanya untuk mampu bertahan hidup.

Suasana Shalat Ied di Salah Satu Pojok Masjid Al-Iman, Göttingen

Satu hal lagi yang aku renungi. Mengenai ayat di atas (QS. Al-Baqarah[2]: 183). Ayat yang menjadi agung pada akhirnya; karena berjuta kali pada sela berjuta kesempatan, ayat ini terus dikumandangkan, dibacakan, disampaikan dan ditausyiahkan. Berkali dan berpuluh kali bangsa Indonesia – dan dunia pada umumnya – telah menjalankan perintah agung ‘saum‘ yang menjadi perintah untuk pembuktian kadar iman seseorang; namun, secara eksponensial pula, keberangusan dan kehancuran terjadi dimana-mana. Kebobrokkan mental, dekadensi moral, penurunan kualitas berkehidupan, dan masih banyak indikator lain yang tidak mampu aku sebutkan satu per satu untuk mensyiratkan bahwa keberangusan dan kehancuran telah terjadi dimana-mana. Memang aku tidak memiliki data eksplisit atas itu semua, namun sebuah aksi pembunuhan sadis – yang terjadi – sudah menjadi cukup bahwa ada kebobrokkan mental disana. Memang aku tidak pandai menyampaikan data statistik untuk itu semua, namun sebuah indikator pencurian uang negara besar-besaran – bahkan berjama‘ah – sudah menjadi cukup bahwa ada dekadensi moral disana. Memang aku tidak sedang memegang data nyata untuk itu semua, namun manipulasi, fitnah, dan berbagai jenis aksi – maaf – bejat lainnya sudah menjadi cukup untuk menggambarkan ada penurunan kualitas berkehidupan disana.

Lantas, apakah ada yang salah dengan ayat ini? Apakah ada kesalahan redaksi bahwa saum menjadikan pelakunya, wilayah yang dipijaknya, negara yang didiaminya; akan menjadi bertaqwa? Apakah – memang benar – ada yang salah dengan ayat ini? Sama sekali tidak! Yang salah, pastilah otak kita dalam memahaminya; pastilah nalar kita yang salah mentafsirkan; atau mungkin amal kita yang salah berpijak dan salah mengimplementasikannya. Kita lupa, bahwa kata ‘taqwa’ yang tersurat jelas di dalam ayat itu merupakan makna aktif (baca: bukan pasif); dimana kita sebagai subjeknya. Kita – orang-orang yang beriman yang menjadi fokus ALLAH untuk diperintahkan saum – adalah subjek dari kata taqwa – sebagai makna aktif – tersebut. Artinya, harus ada kesadaran, kemauan, keinginan, niat, kekuatan usaha, berkerasnya hati dan sempurnanya hasrat untuk bertaqwa; karena kata ‘taqwa’ adalah bermakna ‘aktif’ (berasal dari kata waqa-yaki-wikayah berarti memelihara, menunjukkan bermakna aktif). Kondisi taqwa bukan sim-salabim ALLAH jadikan itu, walau ALLAH memiliki kehendak mutlak akan itu; namun taqwa adalah sebuah kondisi yang memang harus diperjuangkan dan diusahakan – oleh kita yang telah menjalankan saum – semaksimal mungkin.

Nilai filosofis yang terkandung pada saum, yang menjadi salah satu rukunnya islam, dan merupakan sebuah kewajiban yang diwajibkan atas umat mukmin di tahun kedua pada fase kedua dakwah Rasul; haruslah mampu digoreskan, dipatenkan dan dipelihara dengan sangat sadar pada setiap langkah berkehidupan orang yang beriman (mukmin), agar kelasnya meningkat menjadi orang islam (muslim); orang-orang yang secara tertunduk dan patuh untuk berislam di berkehidupannya. Makna menjaga lapar, dahaga dan setiap yang membatalkan saumnya orang-orang beriman, akan – seharusnya dengan sadar – mampu ‘memelihara’ diri orang-orang islam untuk menjauhkan semua hal-hal yang haram dan ‘memelihara’ sense of kepekaan sosialnya yang sempurna. Makna menunggu dan mengatur waktu mulai dan berbuka saumnya orang-orang beriman, akan – seharusnya dengan sadar – mampu ‘memelihara’ orang-orang islam untuk tertib, teratur, on-time dan memiliki etos kerja yang sangat tinggi. Makna setiap harinya berlelah-lelah menjalankan saumnya orang-orang beriman, akan – seharusnya dengan sadar – mampu ‘memelihara’ orang-orang islam untuk menjadi pribadi-pribadi militant dan struggle di dalam melurushunuskan kebenaran. Dan, masih ada puluhan bahkan ratusan makna tersurat dan tersirat dari – rukun islam – saum yang harus – dengan sadar – kita pelihara di dalam berkehidupan kita, sehingga dengan sangat logis bahwa ‘saum’nya orang-orang beriman akan membawa makna ‘taqwa’ bagi setiap individu orang islam.

Lebaran – kembali – menjadi momentum diri untuk menjadi lebih baik. Lebaran – kembali – menjadi momentum umat untuk berniat lebih lurus. Lebaran – kembali – menjadi momentum bangsa untuk sadar lebih kuat; bahwa kita harus bertaqwa, memelihara agar bersungguh-sungguh menjalankan semua perintahNYA – tanpa terkecuali – dan menjauhkan segala laranganNYA – tanpa pilah-pilih. Berat memang, menanjak tentu; makanya memaknai islam menjadi sebuah sistem yang harus digerakan secara padu dan satu, tanpa ada pemaknaan yang sempit dan terkotak-kotak; menjadi keniscayaan yang memang harus dijalankan dengan penuh kesadaran. Karena hakekatnya, ALLAH tidaklah akan merubah kondisi itu, jika kita sendiri yang tidak sadar untuk merubahnya.

Semoga, ALLAH selalu memberi kita kesempatan, memberi kita peluang, menguatkan diri kita, menyadarkan kita, menggerakkan kita – sebagai sebuah pribadi, komunitas dan bangsa – untuk menjadi orang-orang yang bertaqwa; karena, pada hakikatnya taqwa adalah pilihan. Semoga pula, renungan atas makna ‘saum‘ dan ‘taqwa‘ ini dapat dipahami dengan sangat sederhana, sesederhana aku merayakan saum dan lebaran di benua biru ini. Atau, memang seharusnya – memaknai saum dan lebaran dengan sangat sederhana…

Alhamdulillah…