Kamis, 26 September 2013

Si Tua Berhati Islami...


@Prague, Czech Republic

Bismillah…
“Pada suatu ketika, seekor anjing mengelilingi sebuah sumur. hampir-hampir anjing itu mati kehausan. Tiba-tiba seorang wanita pelacur bangsa bani Israil melihatnya. Maka dilepaslah sepatunya, kemudian diambilkannya air dengan sepatunya, lalu anjing yang hampir mati itu diberinya minum. Maka ALLAH SWT mengampuninya dengan sebab itu” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Selepas aku dari pusat kota, hanya untuk sekedar melepas penat dan makan malam; seperti biasa aku harus kembali ke domitori kampusku dengan menggunakan metro (kereta bawah tanah) dan dilanjutkan dengan menggunakan bis. Metro yang harus aku naiki, harus melintasi setidaknya lima stasiun (dari stasiun Muzeum menuju Dajvická); beberapa jenis stasiun metro yang selalu aku lewati selama aku berada di kota Praha ini. Tidak ada yang aneh sebenarnya, pun tidak ada yang spesial yang bisa aku lihat; umumnya bernuansa dan bercita rasa biasa saja. Hanya saja, selama aku berdiri di atas metro ini, karena sesaknya penumpang yang baru pulang bekerja dan kuliah; aku memperhatikan seorang tua dengan seekor anjing yang dia gendong di pangkuannya. Anjing itu terdiam di pangkuan orang tua tersebut pada sebuah tempat – seperti tas – terbuat dari kain, dan sesekali si orang tua tersebut  mengelus-elus anjing tersebut dengan penuh kasih sayang. Anjing ini hanya berusaha untuk menjulur-julurkan lidahnya sambil menengok kiri dan kanan.

Perhatianku tertuju pada pemandangan itu – cukup – lama sekali. Satu hal sedang aku bayangkan; tentu, bukan anjingnya yang aku jadikan tema besar di ceritaku kali ini; namun, sebuah ketulusan seorang tua, yang mau dan mampu merawat seekor ‘anjing buta’. Ya, seekor anjing buta. Entah alasan apa yang ada di hatinya, sehingga dia mau merawat anjing tersebut; bahkan untuk berjalan saja, dia sedikit bersusah payah karena ujurnya. Karena alasan lucunya? Aku – sama sekali – tidak melihat sedikit pun kelucuan dari anjing yang seperti panik, menjulurkan lidahnya tanpa henti dan selalu menengok kanan dan kiri tersebut; dengan mata yang semuanya tampak putih dan menyeramkan, seperti  penampakkan monster di film-film fiksi penuh kebohongan itu. Atau untuk menjaga dirinya? Sepertinya agak tidak masuk akal dan berlebihan, seekor anjing buta mampu menjaga diri si pemiliknya; yang ada, pemiliknya hanyalah disibukkan dengan merawat si anjing itu.

Sekali lagi, bukan anjingnya yang menjadi perhatian lamaku, sehingga aku lupa bahwa stasiun Dajvická yang menjadi final destination station ku telah berhasil metro – yang aku naiki – ini gapai; karena anjing menurutku tetap saja merupakan binatang yang mengeluarkan zat air liur yang bernajis. Namun, apa yang terjadi dengan anjing itu? Jika saja dia ada di luaran sana tanpa dilindungi dan dirawat oleh sang pemilik berhati mulia tersebut. Mungkin anjing itu sudah tidak mampu untuk bertahan hidup.

Sebuah kisah kecil nan sederhana, yang ALLAH perlihatkan untukku. Sebuah kisah kecil namun mampu menarik perhatianku selama aku berada di atas metro. Seorang tua dengan kelembutan hati islami. Sebuah pertunjukkan film berdurasi pendek pada kehidupan nyata ini, yang mampu aku nikmati disini. Di sebuah kota dan negara, yang terasa cukup keras; di sebuah kota dan negara yang pengemudi bisnya lebih kasar di dalam mengendarai bisnya jika dibandingkan pengemudi bis di negara-negara asia timur sana; di sebuah kota dan negara yang konon para penduduknya merupakan pengkonsumsi alkohol terbanyak di dunia.

Adab berkehidupan yang mampu mempertegas untuk berlaku baik dan kasih serta sayang pada semua. Terlebih kepada manusia lain, dengan makhluk lain dan alam ini saja islam mengajarkan untuk menjadi rahmat, bukan perusak dan penjilat. Ya ALLAH, beri kesempatan kami untuk menjadi terbaik bagi sebanyak-banyaknya manusia lain dan alam ini…

Alhamdulillah…

Minggu, 22 September 2013

144 Jam di Praha

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Prague, Czech Republic

Bismillah…
Seratus empat puluh empat jam aku berada di kota ini. Praha (English: Prague), itu namanya. Sebuah kota terbesar di negara bertitel Republik Ceko (English: Czech Republic). Sebuah kota yang – sekuat tanaga mencoba untuk – berebut image sebagai jantung Eropa bersaing ketat dengan kota Vienna, Austria. Bangunan-bangunan klasik ala Eropa Timur – bargaya arsitektur Barok dan Ghotic – sudah mulai terasa di kota Praha ini, walau letak negara ini masuk di kawasan Eropa Tengah pada letak georgrafis bumi. Cuaca di kota yang terkenal dengan Charles Bridge (Czech: Karluvmost) nya ini, yaitu sebuah jembatan yang membelah sungai Vltava (German: Moldau), ketika aku kunjungi, sangat cukup bersahabat. Walau suhu berada pada kisaran 7 – 12 derajat celcius yang membuat terasa cukup sejuk di kulit ari, namun matahari tetaplah bersinar cukup terangnya; dan kadang rintik hujan nan lembut menemaniku untuk berjalan menelusuri jalan-jalan dan lorong-lorong sempit kota ini.

Purnama di Charles Bridge

Old Town Square, tentu, tempat ini tidak aku lewatkan untuk aku kunjungi di Praha ini. Sebuah area pasar – yang konon – sudah ada semenjak awal abad ke sebelas masehi ini; sebuah area pusat kota Praha yang dikelilingi berbagai jenis bangunan tua ini; sangatlah dipadati turis setiap harinya. Berbagai jenis bangunan indah yang ada di sekeliling arena kota tua ini di antaranya adalah Old Town Hall dengan jam Astronomisnya yang berukuran besar, Tyn Church yang bergaya Ghotic Architecture, termasuk Jan Hus Memorial sebagai sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang reformer religius Ceko.

Old Town Hall dan Tyn Church di Old Town Square
Bangunan-bangunan lain yang berhasil aku kunjungi di kota ini adalah Klementinum National Library dan National Museum. Khusus untuk Perpustakaan Klementinum, perpustakaan ini merupakan jenis perpustakaan yang didirikan pada pertengahan abad 17 dengan Hall bergaya arsitektur Barok (Baroque), dan pernah dijadikan sebagai perpusatakaan nasional dengan koleksi buku lebih dari 6 juta buku. Sayang berpuluh kali sayang, aku tidak diperbolehkan untuk mengabadikan foto perpustakaan ini. Namun, untuk sedikit menghiburku, aku diperbolehkan untuk naik ke menara astronomi (Astronomical Tower), sebuah menara astronomi yang memiliki tinggi 52 meter dengan 172 buah anak tangganya berbentuk spiral; dan – tentunya – aku diperbolehkan untuk membidik beberapa foto kota Praha dari atas puncak menaranya.

Gaya Jepretan Miring National Museum

Praha merupakan kota terbesar sekaligus sebagai Ibukota negara Republik Ceko, sebuah negara di area Eropa Tengah yang pada tahun 1993 resmi berpisah dari Republik Slovakia (tadinya bernama Cekoslovakia). Berjalan-jalan mengelilingi kota ini, sebenarnya diselimuti sedikit perasaan was-was; karena Ceko, termasuk kota Praha-nya, konon merupakan salah negara dan kota yang masyakaratnya merupakan masyarakat pengkonsumsi alkohol tertinggi di dunia. Aroma dan semerbak khas bau alkohol, kadang tercium hidung ini dengan sangat jelas dan kuatnya, baik di saat aku menaiki bus, trem atau metro bawah tanah; tiga jenis kendaraan yang merupakan jenis moda transportasi yang bisa aku gunakan untuk hilir mudik di pusat kota Praha ini.

Menjelang Maghrib di Praha

Untuk makanan halal, estimasiku tentang sulitnya aku menemukan makanan halal ini sedikit meleset. Di pusat kota, tepatnya berdekatan dengan daerah National Museum Ceko, tidak kurang lebih dari tiga atau empat resto halal bergaya Turki berhasil aku temui. Di resto tersebut aku bisa memilih berbagai jenis menu makanan dengan menu nasi sebagai menu utamanya; gulai kambing, gulai ayam, sop iga dan masih banyak lainnya, adalah jenis menu yang bisa aku lahap, dan – setidaknya – dapat me-recharge serta menambah tenagaku untuk aku gunakan berkeliling kota dengan berjalan kaki.

Sebuah perjalanan yang tidak pernah terbayang akal dan terniatkan hati sebelumnya olehku. Hanya dengan kuasa dan karuniaNYA, kuasa dan karunia ALLAH Azza wa Jalla, aku bisa dihadirkan di kota tua penuh warna nan indah ini; kota yang berhasil aku telusuri dan jajaki selama 144 jam ini. Terima kasih ya ALLAH atas semua indah ini…

Alhamdulillah…

Minggu, 18 Agustus 2013

Berburu Lebah


@Nord Uni, Göttingen, Germany

Bismillah…
"Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)‘. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat menyembuhkan bagi manusia. Sesungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran  ALLAH) bagi orang yang berpikir" [QS. An-Nahl [16]: 68 – 69]

Lebah Hitam Putih (Utama, 2013)

Satu hal pasti yang kadang tidak bisa aku abaikan di kota nan tertata rapi ini adalah berburu foto. Di Göttingen terdapat beberapa taman kota dengan berbagai macam spesies tanaman berbunganya. Tanah yang tidak terlalu subur dan cuaca yang – kadang – sangat ekstrim, membuat para penduduk kotanya – dengan sangat sadar – berusaha secara optimal, untuk merawat taman-taman kota tersebut. Faktanya, kondisi ini lebih baik hasilnya; jika dibandingkan dengan sesuatu yang given, dimana ALLAH telah memberikan tanah nan subur serta cuaca yang sangat mendukung, namun tidak ada usaha optimal dari para manusia-manusia penghuni kotanya. Sehingga kota menjadi gersang dan semakin gersang karena ulah bodoh para manusia-manusianya, ironis...

Lebah Terbang (Utama, 2013)

Yang Buram Yang Berdua (Utama, 2013)

Aku putuskan untuk pergi ke taman kampus utara ‘Nord Uni‘. Terdapat berbagai spesies tanaman bunga disana. Sayangnya musim summer akan segera selesai, sehingga tanaman berbunga mulai sedikit menghilang. Di negara empat musim seperti Jerman ini, musim spring merupakan musim pohon-pohon mulai kembali memunculkan tunas-tunas mudanya; dan bunga-bunga mulai bergeliat untuk tumbuh. Dan mereka kembali menggugurkan daun dan bunga-bunganya, jika musim summer pergi.

Hinggap di Ujung Bunga (Utama, 2013)
Empat Bunga Kuning (Utama, 2013)

Dengan kemahiran berfotoku yang sangat sederhana, jika tidak ingin disebut sangat amatir, aku mencoba untuk membidik beratus-ratus kali foto tentang lebah. Lebah-lebah yang dengan sangat bersukacitanya terbang hilir mudik dari bunga satu ke bunga yang lainnya, dari tangkai satu ke tangkai yang lainnya, tanpa mematahkan setiap yang dipijaknya; selalu memakan makanan yang baik dan menghasilkan semua – hal – yang manis pula; dan tidak akan pernah mengganggu jika memang tidak terganggu; itulah lebah. Maka, mari kita menjadi lebah-lebah islami itu; mari kita ‘berburu lebah‘.

Alhamdulillah…

Kamis, 08 Agustus 2013

Memang Seharusnya – Memaknai Saum dan Lebaran dengan Sangat Sederhana

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Göttingen, Germany
Originally shared on Kalam - Göttingen (klik disini)

Bismillah…
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa; sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa“ (QS. Al-Baqarah[2]: 183).

Ada makna yang luar biasa di balik perayaan lebaran kali ini. Perayaan tanpa makanan berlebih, tanpa kebersamaan – keluarga – yang hangat, dan tanpa macet. ALLAH menakdirkanku untuk menjalankan saum dan lebaran di Jerman. Sebuah kondisi yang tidak pernah tersiratkan sama sekali di otak tumpulku ini. Empatiku menjadi lebih berasa – atau minimal berusaha untuk semakin berasa; karena pemaknaan hari raya dan lebaran yang ku lewati hari ini, aku jalankan dengan sangat sederhana.

Ada jutaan orang yang mengalami hal yang lebih sederhana dari yang aku lewati. Bahkan, mereka menghadapi dan menjalankan lebaran tanpa makanan sama sekali, mungkin tanpa sapa dan peluk hangat sama sekali; dan hebatnya, kondisi seperti ini berjalan berkali-kali dan berlangsung setiap tahunnya. Semakin terasa hebat pula (baca: miris) ketika kita – khususnya aku – malah berbahagia dalam merayakan dan menyambut lebaran dengan bergunung kenikmatan dan kebahagiaan, di tengah-tengah berjuta orang yang entah kapan mereka akan menemukan makanan hanya untuk mampu bertahan hidup.

Suasana Shalat Ied di Salah Satu Pojok Masjid Al-Iman, Göttingen

Satu hal lagi yang aku renungi. Mengenai ayat di atas (QS. Al-Baqarah[2]: 183). Ayat yang menjadi agung pada akhirnya; karena berjuta kali pada sela berjuta kesempatan, ayat ini terus dikumandangkan, dibacakan, disampaikan dan ditausyiahkan. Berkali dan berpuluh kali bangsa Indonesia – dan dunia pada umumnya – telah menjalankan perintah agung ‘saum‘ yang menjadi perintah untuk pembuktian kadar iman seseorang; namun, secara eksponensial pula, keberangusan dan kehancuran terjadi dimana-mana. Kebobrokkan mental, dekadensi moral, penurunan kualitas berkehidupan, dan masih banyak indikator lain yang tidak mampu aku sebutkan satu per satu untuk mensyiratkan bahwa keberangusan dan kehancuran telah terjadi dimana-mana. Memang aku tidak memiliki data eksplisit atas itu semua, namun sebuah aksi pembunuhan sadis – yang terjadi – sudah menjadi cukup bahwa ada kebobrokkan mental disana. Memang aku tidak pandai menyampaikan data statistik untuk itu semua, namun sebuah indikator pencurian uang negara besar-besaran – bahkan berjama‘ah – sudah menjadi cukup bahwa ada dekadensi moral disana. Memang aku tidak sedang memegang data nyata untuk itu semua, namun manipulasi, fitnah, dan berbagai jenis aksi – maaf – bejat lainnya sudah menjadi cukup untuk menggambarkan ada penurunan kualitas berkehidupan disana.

Lantas, apakah ada yang salah dengan ayat ini? Apakah ada kesalahan redaksi bahwa saum menjadikan pelakunya, wilayah yang dipijaknya, negara yang didiaminya; akan menjadi bertaqwa? Apakah – memang benar – ada yang salah dengan ayat ini? Sama sekali tidak! Yang salah, pastilah otak kita dalam memahaminya; pastilah nalar kita yang salah mentafsirkan; atau mungkin amal kita yang salah berpijak dan salah mengimplementasikannya. Kita lupa, bahwa kata ‘taqwa’ yang tersurat jelas di dalam ayat itu merupakan makna aktif (baca: bukan pasif); dimana kita sebagai subjeknya. Kita – orang-orang yang beriman yang menjadi fokus ALLAH untuk diperintahkan saum – adalah subjek dari kata taqwa – sebagai makna aktif – tersebut. Artinya, harus ada kesadaran, kemauan, keinginan, niat, kekuatan usaha, berkerasnya hati dan sempurnanya hasrat untuk bertaqwa; karena kata ‘taqwa’ adalah bermakna ‘aktif’ (berasal dari kata waqa-yaki-wikayah berarti memelihara, menunjukkan bermakna aktif). Kondisi taqwa bukan sim-salabim ALLAH jadikan itu, walau ALLAH memiliki kehendak mutlak akan itu; namun taqwa adalah sebuah kondisi yang memang harus diperjuangkan dan diusahakan – oleh kita yang telah menjalankan saum – semaksimal mungkin.

Nilai filosofis yang terkandung pada saum, yang menjadi salah satu rukunnya islam, dan merupakan sebuah kewajiban yang diwajibkan atas umat mukmin di tahun kedua pada fase kedua dakwah Rasul; haruslah mampu digoreskan, dipatenkan dan dipelihara dengan sangat sadar pada setiap langkah berkehidupan orang yang beriman (mukmin), agar kelasnya meningkat menjadi orang islam (muslim); orang-orang yang secara tertunduk dan patuh untuk berislam di berkehidupannya. Makna menjaga lapar, dahaga dan setiap yang membatalkan saumnya orang-orang beriman, akan – seharusnya dengan sadar – mampu ‘memelihara’ diri orang-orang islam untuk menjauhkan semua hal-hal yang haram dan ‘memelihara’ sense of kepekaan sosialnya yang sempurna. Makna menunggu dan mengatur waktu mulai dan berbuka saumnya orang-orang beriman, akan – seharusnya dengan sadar – mampu ‘memelihara’ orang-orang islam untuk tertib, teratur, on-time dan memiliki etos kerja yang sangat tinggi. Makna setiap harinya berlelah-lelah menjalankan saumnya orang-orang beriman, akan – seharusnya dengan sadar – mampu ‘memelihara’ orang-orang islam untuk menjadi pribadi-pribadi militant dan struggle di dalam melurushunuskan kebenaran. Dan, masih ada puluhan bahkan ratusan makna tersurat dan tersirat dari – rukun islam – saum yang harus – dengan sadar – kita pelihara di dalam berkehidupan kita, sehingga dengan sangat logis bahwa ‘saum’nya orang-orang beriman akan membawa makna ‘taqwa’ bagi setiap individu orang islam.

Lebaran – kembali – menjadi momentum diri untuk menjadi lebih baik. Lebaran – kembali – menjadi momentum umat untuk berniat lebih lurus. Lebaran – kembali – menjadi momentum bangsa untuk sadar lebih kuat; bahwa kita harus bertaqwa, memelihara agar bersungguh-sungguh menjalankan semua perintahNYA – tanpa terkecuali – dan menjauhkan segala laranganNYA – tanpa pilah-pilih. Berat memang, menanjak tentu; makanya memaknai islam menjadi sebuah sistem yang harus digerakan secara padu dan satu, tanpa ada pemaknaan yang sempit dan terkotak-kotak; menjadi keniscayaan yang memang harus dijalankan dengan penuh kesadaran. Karena hakekatnya, ALLAH tidaklah akan merubah kondisi itu, jika kita sendiri yang tidak sadar untuk merubahnya.

Semoga, ALLAH selalu memberi kita kesempatan, memberi kita peluang, menguatkan diri kita, menyadarkan kita, menggerakkan kita – sebagai sebuah pribadi, komunitas dan bangsa – untuk menjadi orang-orang yang bertaqwa; karena, pada hakikatnya taqwa adalah pilihan. Semoga pula, renungan atas makna ‘saum‘ dan ‘taqwa‘ ini dapat dipahami dengan sangat sederhana, sesederhana aku merayakan saum dan lebaran di benua biru ini. Atau, memang seharusnya – memaknai saum dan lebaran dengan sangat sederhana…

Alhamdulillah…

Senin, 05 Agustus 2013

Perintah di Benua Biru


@Göttingen, Germany
Materi ringkas Tausyiah di acara Buka Bersama Pengajian KALAM Göttingen (klik disini)

Bismillah…
Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A., dari Nabi SAW, beliau bersabda, ”Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Puasa itu untukKU, dan AKU yang akan memberikan ganjarannya, disebabkan seseorang menahan syahwatnya dan makannya serta minumnya karena-KU, dan puasa itu adalah perisai, dan bagi orang yang berpuasa dua kebahagiaan, yaitu kebahagian saat berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya, dan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi ALLAH, daripada bau minyak misk/kesturi’ ” (HR. Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Malik, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah).

Ada rasa yang berbeda di Ramadhan tahun ini, apa pun itu sangat aku syukuri. Ada rasa yang lain dari biasanya di Ramadhan tahun ini, apa pun itu sangat aku syukuri. Ternyata, puasa di summer di benua biru ini lah penyebab perbedaan itu. Aku harus berpuasa disini lebih dari sembilan belas jam lamanya, di cuaca yang cukup ekstrim – kadang dingin atau sangat panas, di lingkungan tanpa tanda kehidupan bernuansa islam seperti yang terjadi di Indonesia. Namun apa pun itu, pasti akan sangat aku syukuri keberadaannya.

Berbagi Tausyiah di Acara Buka Bersama
Pengajian KALAM Göttingen (KALAM, 2013)

Ada rasa yang berbeda, itu yang aku rasakan. Sembilan belas jam aku harus menahan dahaga, namun tetaplah ada batasnya. Sembilan belas jam lamanya aku menahan lapar, namun tetaplah ada batasnya. Aku hanya membayangkan; bahwa, ada ribuan bahkan jutaan orang di luar sana merasakan hal yang sama; dahaga menyekik tenggorokkan dan lapar melilit perut. Bedanya, batas mereka untuk menahan dahaga dan lapar itu tidak pernah mereka tahu kapan akan berakhir. Mereka tidak pernah akan tahu kapan kerongkongannya lega karena segelas air teh manis, mereka pun tidak pernah mampu membayangkan kapan perutnya merasa kenyang oleh hanya segenggam roti gandum; bahkan – mungkin – mereka sudah lupa, bagaimana rasanya tidak haus dan kenyang. Aku hanya berkeyakinan di dalam hati, sangatlah tidak logis dan masuk akal; jika orang yang bersaum tidaklah memiliki kepekaan sosial yang sangat tinggi.

Berbagi Pengalam di Acara Buka Bersama
Pengajian KALAM Göttingen (KALAM, 2013)
Ada rasa yang berbeda, itu yang aku rasakan. Berbuka bersama – sesama warga Indonesia atau bersama dengan mereka dari berbagai jenis bangsa – setidaknya menjadi penyejuk di kegersangan ukuwah di bumi Jerman ini. Seperti ada tetes air sejuk di luasnya padang pasir. Terasa sangat, ada persamaan besar yang kadang kita lupakan, yang dapat mengikat kita tetap padu. Terasa amat, ada persamaan arah rel perjuangan yang kadang kita lupakan, yang tetap mengikat kita tetap satu. Walau memang, berbagai kondisi alamiah atau buatan manusia tanpa hati, selalu mencoba untuk menceraiberaikannya. Persatuan tidaklah akan pernah hadir dengan cara sim-salabim, persatuan pun bukan sesuatu yang datang dengan tiba-tiba; dia ada, karena imbas dari sebuah aksi sadar kita semua; sadar bahwa memang persatuan dan kesatuan harus diperjuangkan dengan sangat sistemik dan terstruktur, sadar bahwa kita memang diikat oleh ALLAH untuk menjalankan sunnah Rasul secara pribadi, komunitas, bangsa dan alam seutuhnya.

Berbagi Indahnya Kebersamaan di Acara Buka Bersama
Pengajian KALAM Göttingen (KALAM, 2013)

Ada rasa yang berbeda, itu yang aku rasakan. Menegakkan perintah saumNYA di benua biru memiliki cerita klasik yang spesifik adanya; klasik, karena banyak orang diberi kesempatan untuk menikmatinya; spesifik, karena setiap individu berbeda cara di dalam merasakannya. Untukku, aku hanya ingin menikmati setiap momen kesendirianku untuk terus mendekatkan diri kepada ALLAH. Aku hanya berusaha untuk mengikhlaskan diri di dalam mengerjakan semua hal yang seharusnya aku kerjakan disini semaksimal aku bisa, sebagai kadar sadarku di dalam mengaplikasikan rasa syukurku kepadaNYA. Karena, ketika ALLAH menerbangkanku belasan ribu kilometer dari Indonesia; aku sangat yakin bahwa ada skenario besar ALLAH di balik ini semua. Jadi, tidaklah cukup buatku untuk hanya berujar syukur alhamdulillah saja untuk mensikapi semua kenikmatanNYA. Tidaklah cukup buatku hanya untuk menikmati semua bergunung gemunung anugrah pemberianNYA di dalam hati. Kalau hanya syukur di lisan dan keyakinan di hati saja yang aku lakukan, dalam rangka bersyukur kepada ALLAH; lantas buat apa ALLAH jauh-jauh menerbangkanku belasan ribu kilometer menjauh dari Indonesia menuju ke benua biru ini. Pastilah ada tuntutan lebih nan besar setelah ini, sebuah tuntutan untuk memberikan terbaik ke sebanyak-banyaknya orang, sebuah tuntutan untuk melibatkan diri dengan sangat sadar dalam menegakkan kebenaran kalimat ALLAH, dan – tentu – beribu hal lainnya atas usaha optimalku pada peran yang terpilihkanNYA untukku.

Ada rasa yang berbeda, itu yang aku rasakan. Apa pun itu ya ALLAH, terima kasih atas semua rasa – perintah di benua biru – nan indah ini…

Alhamdulillah…


Jumat, 12 Juli 2013

Keteladanan Kecil di Tengah Phobia Besar


@Göttingen, Germany

Bismillah…
"Sesungguhnya, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) ALLAH dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat ALLAH" (Q.S. Al-Ahzab[33]: 21)

Aku duduk di samping perempuan Turki berjilbab di sebuah bus menuju centrum. Di dua bangku depan yang menghadap kami, anak laki-lakinya - yang kira-kira berumur tiga atau empat tahun – duduk menghadap ibunya dengan manis; sambil memegang es krim di tangan kanannya. Di sebelahnya, duduk seorang ibu-ibu bule separuh baya.

Selang tak berapa lama, es krim yang dimakan si anak kecil lucu ini menetes – hanya setetes kecil – dan mengenai tas kain si ibu-ibu bule yang duduk di samping sebelah kanannya. Si perempuan Turki ini spontan mengeluarkan saputangan dari tasnya, dan menuangkan sedikit – asal basah – air mineral di atas sapu tangan tersebut. Lalu sepintas mata, perempuan itu meminta maaf atas ulah si anak kecilnya itu; sembari membersihkan cipratan es krim strawberry – yang hanya setetes itu – yang dimakan si anak kecil berhidung mancung tersebut.

Ibu-ibu bule hanya tersenyum, sambil berujar ‘keine problem’ (tidak masalah), dan membiarkan tas kainnya dibersihkan perempuan Turki yang merasa sangat bersalah tersebut; lalu ibu bule ini pun – malah – mencium lembut kepala si anak tersebut. Sebuah cuplikan scene teladan luhur yang ditunjukkan oleh seorang perempuan muslim di tengah-tengah phobia masyarakat eropa atas umat Islam.

Aku menjadi teringat dan alam lamunku menerawang jauh ke enam belas tujuh belas abad yang telah silam, bahwa Islam dikembangkan oleh Rasul dengan kharisma dan keteladanan yang sangat agung. Islam menyebar ke seantero dunia dengan keteladanan yang luhur yang Rasul contohkan; yang Rasul contohkan bukan hanya pada ibadah ritualnya semata, namun seluruh aspek berkehidupan ibadahnya yang berdimensi sangat luas, yang telah tersajikan jelas pada sunnah-sunnahnya. Islam tidaklah disebarkan lewat perang atau agresi militer. Islam tidak mengenal kekerasan; namun Islam pantang surut ke belakang – walau hanya satu hasta – jika musuh menghadang. Kekuatan militer Islam – waktu itu – hanyalah dipergunakan untuk pertahanan, bukan untuk penghancurleburan; terbukti bahwa peperangan yang terjadi di jaman Rasul, pada umumnya terjadi di dalam kota di mana umat Islam berdomisili; secara akal, tidak mungkin jika Islam menyerang, secara logika pula, umat islamlah yang diserang. Namun ketegasan adalah karakter militansi umat Islam. Karena, terkadang kita butuh ketegasan yang nyata, untuk menggoreskan garis furqon pembeda atas akidah yang diyakini; dalam rangka menegakkan kebenaran hakiki ILLAHI.

Alhamdulillah…

Selasa, 04 Juni 2013

Roma, Itulah Namanya...

Author: Ditdit Nugeraha Utama
@Roma, Italy

Bismillah...
Roma. Itulah namanya. Sebuah kota yang aku singgahi pada kesempatan kali ini. Sebuah kota klasik yang dipenuhi ribuan bangunan berusia ratusan bahkan ribuan tahun, yang masih sangat tertata dan terawat dengan sangat baiknya; sebuah gundukan puing-puing dari serpihan sisa bangunan saja, akan menjadi pusat turis di kota ini. Sebuah kota yang terdengar sedikit garang, karena beberapa ceritanya yang aku dengar dimana tingkat kejahatan kota ini cukup tinggi. Usaha lebih yang penuh dengan kehati-hatian, menjadi harus ku lakukan salama aku menjelajahi kota ini pada akhirnya.

Mejeng di Colosseum

Roma. Itulah namanya. Sebuah kota yang berjarak lebih dari 1.400 km ke arah selatan bumi dari kota Göttingen; dan menjadikan aku harus terbang untuk mencapainya. Sebuah kota yang dipenuhi oleh tempat wisata, seperti: Colosseum (tempat pertarungan para gladiator), Trevi Fountain (air mancur Trevi), Vatican Church, Pantheon, Spanish Steps (German: Espagna Treppe), Moschea di Roma (Masjid Roma) dan masih banyak lainnya. Empat hari tiga malam aku hadir disini, sepertinya tidak cukup waktu untuk menyisir setiap sudut kota ini. Namun, dari sekian banyak tempat wisata yang berhasil aku kunjungi; Moschea di Roma (Masjid Roma) memberi keteduhan tersendiri buatku. Walau harus sedikit menuju ke luar kota Roma untuk mencapainya, Masjid ini memberi sebuah sinar harapan kebangkitan atas sebuah peradaban besar yang pernah berdiri tegak di daratan Eropa ini.

Berbaur dengan Ribuan Orang di Vatican

Roma. Itulah namanya. Aku menyukai kota ini. Satu hal yang membuat aku menyukai kota ini, karena aku dapat dengan mudah menemukan makanan halal; sebuah kondisi yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Hampir lebih dari enam resto halal langsung menyambutku, sesaat aku menapakkan kaki di Roma Termini; sebuah stasiun utama kota Roma, setelah 30 menit aku berlari menggunakan kereta dari Bandar Udara Internasional Leonardo Da Vinci (Italia: Aeroporto Leonardo Da Vinci) Roma. Enam Resto halal yang menyambutku, membuat senyumku mengembang; mengapa tidak, karena tanpa persiapan karbohidrat yang cukup, atau karena cadangan protein yang kurang, akan membuat konsentrasiku buyar selama aku berkeliling kota ini.

Roma. Itulah namanya. Sebuah kota nan eksotis. Namun ada satu hal yang sedikit mengganggu keindahannya; sebuah pemandangan kurang mengasyikkan mata, yang merupakan salah satu imbas penerapan ekonomi kapitalis, sangat kental terasa selama berada di kota ini. Banyaknya peminta-minta di sekitaran pusat kota Roma ini, merupakan salah satu imbas implementasi sistem ekonomi yang mengagungkan keuntungan sebagai pola penghargaan akan tumbuhnya ekonomi sebuah perusahaan atau negara itu. Sangat menyedihkan. Namun juga, aku pun hanya bisa tersenyum; inilah saatnya memberi - ya memberi - makanan halal dan makan bersama mereka menurutku; jadi, itulah yang aku dapat lakukan pada akhirnya.

Ada Keteduhan di Mosche di Roma (Masjid Roma)

Roma. Itulah namanya. Sebuah kota pada pijakan kakiku saat ini. ALLAH telah menerbangkanku ribuan kilo meter ke kota ini; sombong rasanya, jika syukur tidak kupanjatkan tanpa henti kepadaNYA. Sekali dan sekali lagi, terima kasih ya ALLAH, atas semua ini; terima kasih atas karunia indahMU ini; terima kasih...

Alhamdulillah...